Dirilis, ROTOR “Behind the 8th Ball” Versi Piringan Hitam

“Behind the 8th Ball”, album debut Rotor didaulat sebagai rilisan ekstrem pertama di Indonesia, dengan tingkat kekerasan di atas rata-rata, masa itu.
rotor

Rotor memekik di lirik lagu “Peluit Phobia”: “… Siapkan ratusan ribu…!”

Mengikuti tren dunia dimana piringan hitam (vinyl) kembali menjadi primadona rilisan fisik di industri musik, album debut fenomenal dalam kancah musik ekstrem Tanah Air ini akhirnya juga diabadikan ke dalam format tersebut.

Adalah kolaborasi apik label independen bernama Elevation Records bekerja sama dengan Snakecharm Records yang berinisiatif mewujudkannya.

Secara resmi baru bakal diedarkan pada 2 Januari 2021 mendatang dalam jumlah terbatas. Hanya sebanyak 313 keping. Ya, Anda memang harus menyiapkan ratusan ribu – tepatnya sebesar Rp. 425.000 – jika ingin mengoleksinya. 

“Behind the 8th Ball” yang sebentar lagi memasuki usia tiga dekade ini didaulat banyak pihak sebagai album ekstrem pertama dengan tingkat kekerasan di atas rata-rata, yang pernah dirilis di Indonesia era itu.

Sebelumnya, diyakini tak ada band rock atau metal yang menggeber distorsi sebrutal Rotor dalam kemasan karya rekaman. Tepatnya sebelum 1992, saat “Behind the 8th Ball” dirilis pertama kali dalam format kaset oleh AIRO Records. 

Dan yang mengejutkan, terapan konsep yang jauh dari keglamouran panggung mainstream itu rupanya justru memicu kehebohan yang luar biasa di skena musik keras. Penjualan kaset album tersebut konon menyentuh angka hingga 450.000 keping! 

Ya, tentu saja saat Rotor terpilih sebagai band pembuka konser monster thrash metal dunia, Metallica yang berlangsung di Stadion Lebak Bulus, Jakarta pada 10 dan 11 April 1993 silam, turut berperan besar mengatrol ketenaran Rotor. Nama mereka seketika melesat tinggi dan bahkan melegenda hingga hari ini. 

Tonton video momen bersejarah itu di tautan kanal YouTube ini.

Gatholoco

“Behind the 8th Ball” direkam di Triple M Studio, Jakarta, yang dieksekusi oleh formasi Rotor saat itu: Muhammad Irfan Sembiring (vokal/gitar), Abu Bakar Bufthaim (dram) dan Yudha Pranyoto (bass).

Ada juga kontribusi Jodie Gondokusumo yang mengerahkan vokalnya di lagu “The Last Moment” dan “Spontaneous Live” serta menulis lirik di beberapa lagu di album tersebut. Lalu di lini produksi, Rotor juga mendapat dukungan pemolesan tata suara dari mendiang Harry Widodo (mixing) serta Hoklay (mastering) di BASF Indonesia. 

Tapi khusus versi piringan hitam ini, kualitas suara 10 lagu yang termuat di “Behind the 8th Ball” ‘direstorasi’ lewat proses mastering ulang. Kali ini dipercayakan kepada sound engineer Hamzah Kusbianto, sebelum dipermak lagi untuk kebutuhan vinyl di Abbey Road Studio, London.

“Kami bersama @snakecharm.recs ingin melakukan semuanya secara benar, termasuk bagaimana mereplika gambar sampul yang begitu iconic itu,” urai pihak label dalam siaran pers resminya. 

Hasilnya memang mengundang acungan jempol. Lagu-lagu esensial yang menderu beringas di album itu, seperti “Curse of Leak”, “Peluit Phobia”, “Gatholoco” serta komposisi “Behind the 8th Ball” kali ini terdengar lebih ‘nendang’ dan tajam.

Sementara artwork album yang ditangani oleh Aditia Wardhana juga menjadikan penampakan “Behind the 8th Ball” jauh lebih ‘gelap’ dan sangar.

Sepanjang karirnya, Rotor yang disahkan berdiri pada 1991 telah melahirkan empat album, termasuk “Eleven Keys” (1995), “New Blood” (1996) dan “Menang” (1997). Setelah itu bubar.

Apalagi setelah Yudha Pranyoto meninggal dunia karena kelebihan dosis narkoba. Setelah itu, menyusul pula vokalis Jodie Gondokusumo. Irfan sendiri lantas gantung gitar dan memutuskan menekuni kegiatan-kegiatan dakwah.

Pada 2011, Irfan sebenarnya sempat berniat menghidupkan Rotor kembali dengan menggaet personel-personel baru, namun terhambat sulitnya membagi waktu antara aktivitas dakwah dan band.

Ketika ditanya oleh MUSIKERAS, bagaimana Irfan melihat “Behind the 8th Ball” yang sampai saat ini masih saja menjadi perbincangan di kalangan pemuja musik keras, ia menjawab enteng.

“Rasanya ya biasa aja. Kan kami yang bikin album itu. Nothing special. Gue malah suka berangan-angan album ‘Reign in Blood’ (Slayer) atau album pertama Rage Against the Machine itulah album perdana Rotor… hahaha!” (mdy/MK01)

Susunan lagu:

  1. Behind the 8th Ball (3:49)
  2. Beyond the Eyes of Pain (3:11)
  3. Curse of Leak (4:52)
  4. The Last Moment (4:01)
  5. Spontaneous Live (3:33)
  6. Nuclear Is the Solution…? (5:25)
  7. P’luit Phobia (2:30)
  8. Hate Monger (3:30)
  9. A Dismal Picture of Mankind (4:29)
  10. Gatholoco (2:31)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.
hellcrust
Read More

Ini Perbedaan HELLCRUST dan DARKSOVLS

Bangun dari hibernasi, Hellcrust rilis lagu terbaru, “Rekonstruksi Kerak Neraka”. Tapi yang mengejutkan, kali ini formasinya sama persis dengan Darksovls!
splitfire
Read More

SPLITFIRE: Dari Club/Cafe ke Panggung Rekaman

Kenyang manggung di berbagai cafe dan club di Indonesia, bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara, kini Splitfire makin mantap selami industri musik rekaman.