Nama band ini terinspirasi Yafet, salah satu nama dari putera Nabi Nuh. Sebagai penggeber metal, mereka ingin sesuatu yang berbeda. Sebagai paradox bahwa kebanyakan band metal menggunakan nama yang mengerikan, gelap atau kerap berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut setan.
“Dengan nama Yafed, kami bisa bergerak ke arah musik metal yang positif, penuh kritik, namun distorsi tetap kuat,” ujar band asal Magelang, Jawa Tengah ini beralasan.
Tapi memang, sejak resmi terbentuk pada 5 Desember 2018 lalu, Yafed telah menunjukkan kreativitas yang positif, dimana mereka langsung tancap gas berkarya. Hasilnya, mereka mampu melampiaskan empat komposisi rekaman cadas berjudul “Hedonisme Duniawi”, “Serigala Bertuan”, “Legitimasi Darah” serta yang terbaru, “The Wolves’ Black Flag”.
Lagu yang disebut terakhir, didedikasikan Yafed untuk para pejuang penolakan kebijakan politik yang banyak menimbulkan kerugian di era ini. Melalui trek tersebut, Wisnu Fahmi Aldhi (vokal), Rian Jovi Pamungkas (gitar), Anugerah Widi Putranto a.k.a. Puput (gitar), Dwi Teguh Santoso a.k.a. Gepeng (gitar), Teddy Kusnanto (bass) dan Imam Ari Sarwono (dram) ingin menguatkan bahwa musik mereka mendukung kebebasan berekspresi yang selama ini diganjal oleh aturan-aturan subyektif kepemerintahan.
Proses kreativitas penulisan lagu di Yafed biasanya dimulai di penggarapan musik secara bersama-sama. Sementara untuk lirik langsung dieksekusi oleh Wisnu. Termasuk di single “The Wolves’ Black Flag” ini. Sebagian besar proses produksi dilakukan di DZ, sebuah studio rekaman rumahan di Magelang, pada periode September hingga Oktober 2020 lalu.
Namun menurut mereka, formasi Yafed yang diperkuat tiga gitaris membutuhkan strategi dan tantangan tersendiri dalam menggodok sebuah karya. “Kerap tidak berjalan mulus sampai diulang beberapa kali dikarenakan kami menggunakan tiga gitaris, yang kebetulan juga punya style dan sound masing-masing,” tutur Yafed kepada MUSIKERAS, terus-terang.
Terkait hal itu pula, makanya Yafed menegaskan jalur musikal mereka tidak bisa dipatok di genre metalcore saja. Mereka lebih senang menyebutnya sebagai sebuah proyek seni dengan keragaman karakteristik serta spesifikasi bermusik yang berbeda-beda dari masing-masing personelnya.
“Kalau musik metal itu pasti, tetapi yang pasti kami mendengarkan semua aliran musik sebagai referensi bermusik kami. Konsep musik kami bukan hanya metalcore, tapi juga mengeksplorasi unsur rock, metal bahkan hardcore, namun mampu menjadikan sebuah emosi yang indah.”
“The Wolves Black Flag” telah beredar di berbagai platform digital seperti Spotify, Deezer, Apple Music, iTunes dan YouTube sejak awal November 2020 lalu. Di luar itu, kini Yafed juga telah menjalani proses pematangan beberapa lagu untuk materi album pertama, yang ditargetkan bisa rilis pada Februari 2021 mendatang. (aug/MK02)
.