“Secret Showcase” dan Post-Hardcore di Mata MIKA

Banyak cara untuk menjaga kewarasan selama menjalani masa pandemi yang sudah berlangsung hampir setahun. Seperti yang dilakukan unit post-hardcore asal Malang, Jawa Timur ini. Sambil memanaskan mesin kreativitasnya untuk merampungkan materi album yang rencananya bakal dirilis tahun ini, mereka pun melampiaskan sebuah konten berformat live session bertajuk “MIKA – Secret Showcase” yang bisa disaksikan via YouTube sejak pertengahan Desember 2020 lalu.

Rekaman “Secret Showcase” itu sendiri diabadikan dari pertunjukan tunggal MIKA dengan penonton terbatas yang digelar pada 10 Oktober 2020 lalu. Kini, bagi peminat MIKA yang tidak sempat menyaksikan showcase tersebut secara langsung, bisa langsung menikmatinya di YouTube. Visualisasi video serta kualitas audionya diracik secara detail. 

Kendati demikian, para personel MIKA – Rizky Ananda Arif (vokal), Ramadhan Kautsar (gitar), Ari Dwi Rizky (bass), Syith Ibrahim Idris (gitar) dan Bogi Prananda Satyagama (dram) – mengakui, saat menjalani  prosesnya, banyak sekali kekurangan yang terjadi. Di antaranya kendala beberapa seni instalasi yang ternyata tidak sesuai dengan mapping area awal, karena banyak area yang digunakan untuk perlengkapan sound system

“Karena fokus kami kepada acara tersebut tertuju pada hasil audio dan visual, sehingga ketika kami melakukan soundcheck saat H-3 jam, di situlah kami menyadari bahwa tidak ada panitia, karena kami lupa melakukan kalkulasi berapa sumber daya manusia yang dibutuhkan ketika acara berlangsung,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, terus-terang.

Setelah ‘pertunjukan rahasia’ itu rampung, MIKA pun melakukan evaluasi mendalam terhadap segala kekurangan yang terjadi pada saat acara berlangsung. “Dan menjadi pembelajaran yang sangat berharga untuk kami jika akan menyelenggarakan live showcase berikutnya.”

Saat ini, penggarapan produksi materi album penuh MIKA sudah sampai ke tahap mixing dan mastering. Mereka mengawali keseluruhan prosesnya sejak dua tahun lalu, yang dijalani melalui diskusi yang intens antar personel, termasuk mengurasi beberapa referensi maupun racikan aransemennya.

“Pemilihan diksi untuk lirik selalu ada revisi dan koreksi, karena seluruh lirik dari MIKA memakai Bahasa Inggris.”

Sementara untuk musiknya, secara keseluruhan MIKA masih menonjolkan karakter post-hardcore yang fleksibel. Bagi mereka, genre hanyalah pelabelan yang sifatnya subyektif. “Kembali lagi kepada para pendengar kami ingin melabeli MIKA sebagai band emo, melodic hardcore, screamo, dan sebagainya.”

Pada awal menggeliat sekitar pertengahan 2014, MIKA sempat terpengaruh oleh genre melodic hardcore. Tetapi seiring berjalannya waktu, masing masing personel mulai mendengarkan genre atau band yang beraneka ragam, yang lantas mempengaruhi dalam proses pembuatan lagu MIKA.

“Apa yang kami rasa bagus dan enak didengar, maka itu yang kami kerjakan terlepas dari apa pun warna musiknya. Contohnya dalam lagu kami yang berjudul ‘Revival’, influence utama dalam pembuatan lagu tersebut adalah Tigapagi dan The Trees and the Wild. Dua band tersebut menggunakan unsur musik etnik Indonesia dan hasilnya sangat unik.” 

Sejak terbentuk, MIKA sudah menghasilkan single “For What It’s Worth” dan “Losing Fight” pada November 2016 yang diperdengarkan via kanal Bandcamp. Pada Juni 2020, MIKA merilis single “Stay For The Night” lalu “Embrace” menyusul sebulan setelahnya. (aug/MK02)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *