“Voice of Resistance”, Tembakan Peringatan dari FIN’S MOCK

Dari ujung pulau Sulawesi paling utara, unit melodic hardcore/hardcore punk ini melampiaskan lirik eksplisit, meneriakkan jiwa yang menginginkan kebebasan serta perlunya melontarkan ‘suara penolakan’ akibat sistem yang gagal. Keresahan itu ditumpahkan lewat karya rekaman baru mereka bertajuk “Voice of Resistance”.

Single itu sendiri merupakan suguhan kedua Fin’s Mock setelah “Anguish”, single pertama yang mereka luncurkan pada 18 Mei 2020 lalu. Kedua single tersebut adalah tembakan peringatan menuju perampungan album “Catastrophe” yang bakal segera dirilis dalam waktu dekat.

Hansen Wala (vokal), Mario Sumakul (gitar), Ricky Legi (gitar), Erwin Kojongian (bass) dan Aldo Karundeng (dram) menggarap rekaman “Voice of Resistance” dengan memaksimalkan fasilitas studio rekaman rumahan milik Mario, selama hampir dua bulan. Butuh waktu lama karena secara keseluruhan, umumnya proses tersebut terkendala kesibukan pekerjaan utama para personelnya.

“Tapi untungnya semua member bisa berbagi waktu demi menyelesaikan proyek ini. Bisa dibilang proses pembuatan ‘Voice of Resistance’, mulai dari musik kemudian lirik lebih cepat dibanding proses perekaman. Pembuatan musik dan lirik hanya beberapa hari saja,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Dibanding “Anguish”, Fin’s Mock mengakui ada perbedaan konsep yang diterapkan, dalam konteks eksekusi musiknya. “Voice of Resistance”, menurut mereka, lebih mengutamakan garukan riff-riff pada bagian verse,  sedangkan di “Anguish” tidak menerapkan pola itu.

“Karena hal tersebut, banyak tanggapan yang masuk dari teman-teman, (bahwa) ‘Voice of Resistance’ agak terdengar sedikit berbeda dengan single pertama.”

Setelah perilisan single “Voice of Resistance” ini, Fin’s Mock selanjutnya menyiapkan perilisan album pertama mereka, yang rencananya akan diwujudkan bulan depan, dalam format digital dan fisik. Di dalam album tersebut bakal disesaki amunisi 11 lagu, termasuk satu trek ‘Intro’.

Fin’s Mock sendiri tergolong sebagai pejuang hardcore yang masih berusia belia. Baru terbentuk pada April 2020 lalu di Kota Tomohon. Nama Fin’s Mock diambil dari salah satu nama keluarga pembunuh yang ada pada serial manga dan anime One Piece yaitu Vinsmoke. Agar terlihat berbeda, Vinsmoke diganti menjadi Fin’s Mock, jadi penyebutannya tetap terdengar sama. Sejak awal, mereka mematok inspirasi musiknya dari serapan band-band seperti Comeback Kid, Shai Hulud, Hotel Books, Worthwhile, Counterparts, Exhibitors dan band lokal seperti Modern Guns.

“Voice of Resistance” dan “Anguish” kini bisa didengarkan di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, iTunes, GooglePlay, Youtube hingga Deezer. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *