KARTOSOEWIRJO? Rilis EP Berkonsep Math-Chaotic-Hardcore

Sebuah proyek musik keras perseorangan bernama unik, Kartosoewirjo? (ya, memang ditulis menggunakan tanda tanya), akhirnya melampiaskan karya rekaman pertamanya, berformat album mini (EP) bertajuk “Mandi Darah Saudara Sendiri”. Proyek ini dicetuskan gitaris asal Jakarta, Fatur pada 2017 lalu, dengan menetapkan ‘taman bermain’ di seputaran sub-genre math-chaotic, chaotic hardcore dan mathcore. 

Musik Kartosoewirjo? sendiri diracik dengan mengaduk berbagai pengaruh dan inspirasi, antara lain berasal dari band-band luar seperti The Dillinger Escape Plan, Converge, Ed Gein, Into The Moat dan The End. Menurut Kartosoewirjo?, formula ini dipilih berdasarkan latar belakang referensi musikalnya secara pribadi.

“Saya memilih konsep tersebut karena saya pernah belajar gitar jazz dan saya menyukai musik metal, jadi saya menggabungkan riff-riff jazz dan riff-riff metal, maka terjadilah konsep musik ini,” tutur ‘the man behind the gun’ Kartosoewirjo? kepada MUSIKERAS, menegaskan.

Sementara ide di balik pemilihan judul, disebutkan Kartosoewirjo? dikutip dari karya esai dari pengarang sastra legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Maaf, Atas Nama Pengalaman”. “Di dalam esai tersebut dijelaskan pada jaman Mahabharata telah terjadi pembantaian jutaan manusia, maka terciptalah ide saya untuk menamai judul EP ‘Mandi Darah Saudara Sendiri.”

Lalu mengapa memilih nama Kartosoewirjo?? “Karena saya mengadaptasi dari nama band-band luar negeri seperti The Dillinger Escape Plan yang mengambil nama dari John Dillinger, Ed Gein, Charles Bronson dan lain-lain.”

Nama ‘Kartosoewirjo’ sendiri diambil dari nama tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia – lengkapnya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo – yang menginisiasi terbentuknya Negara Islam Indonesia (NII) atau Darul Islam (DI) pada 7 Agustus 1949 silam. Menurut catatan sejarah, pemerintah Indonesia saat itu lantas bereaksi dengan menjalankan operasi untuk menangkap Kartosoewirjo. Setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat pada 4 Juni 1962, Kartosoewirjo tertangkap lalu dihukum mati pada 5 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta. Kejadian itulah yang disebut Fatur sebagai “pahlawan yang dibunuh bangsanya sendiri”.

Untuk mengeksekusi EP “Mandi Darah Saudara Sendiri” keseluruhan, beberapa musisi lintas genre dilibatkan. Ada dramer Arya Gilang Laksana dari Dead Vertical, lalu bassis Franky Sadikin (Fusion Stuff) serta gitaris Tesla Manaf (Kuntari) di pengolahan synthesizer. Sementara di lini vokal, lima komposisi lagu yang termuat di EP tersebut melibatkan kolaborasi dengan tiga vokalis berbeda. Yang pertama Lilik Maruki dari unit grindcore Jakarta, Trench Horror yang meraungkan vokalnya di lagu “Mandi Darah Saudara Sendiri”.

Lalu ada vokalis asal Inggris, Matt Blockley (Cruel World Collective) yang mengisi lagu “Light, and He Who Holds It” serta Junier Escartin (Aedes Gorgas) dari Republik Panama yang dilibatkan di lagu “Relieve De Sumatera” dan “Talasocracia”.

“Jadi saat merekamnya, mereka (vokalis dari luar negeri) di negaranya masing-masing. Untuk session player dan vokalis yang terlibat tidak ada kriteria khusus.”

Proses penggarapan “Mandi Darah Saudara Sendiri” menghabiskan waktu selama hampir empat tahun. Pengolahan mixing dan mastering diproses oleh Kandar di ThreeSixty Studio. Sementara untuk desain artwork dikerjakan oleh Tendi Munte dari Bhairawa Studio. Sejauh ini, EP “Mandi Darah Saudara Sendiri” bisa didengarkan melalui kanal Bandcamp dan Soundcloud. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *