“Meskipun terdiri dari tiga personel, kami sepenuhnya tidak memiliki niat menjadi seperti Nirvana atau band grunge lainnya. Bahkan sebenarnya, musik kami sekarang banyak terinspirasi dari band legenda seperti Metallica dan Megadeth!”
Sebuah klarifikasi yang sangat tebal dari unit hard rock asal Bandung ini, demi menghindari salah paham terhadap konsep musikalnya. Karena memang – seperti yang mereka sampaikan kepada MUSIKERAS – ketiga personel F.R.A.N.K awalnya dipersatukan oleh musik rock, hard rock dan grunge, terutama dari era ’90an hingga 2000an. Bukan metal.
Namun kini, di single debutnya yang bertajuk “Discourse”, Yusuf Mulyana a.k.a. Deblo (vokal/gitar), Muhammad Firdaus Ramdhani a.k.a. Rams (dram) dan Putra Elfan a.k.a. Bobby (bass) justru menegaskan mereka tengah meniti jembatan dari rock menuju metal. Inspirasi musik F.R.A.N.K yang tadinya antara lain datang dari band-band seperti The Vines, The Vintage Caravan, The Subways hingga Wolfmother, kini disusupi berbagai unsur sub-genre lain macam grunge, hardcore hingga punk.
“Untuk single ‘Discourse’, terdapat unsur musik keras lainnya seperti punk, seperti dalam ketukan dram dan tempo yang cepat, atau pun hardcore yang terdapat pada sesi breakdown di tengah-tengah lagu. Bahkan, unsur teriakan dari vokalis, secara teknikal adalah teriakan untuk musik metal. Hal ini, membuat Deblo berani berargumen bahwa musik F.R.A.N.K, khususnya ‘Discourse’ adalah jembatan dari musik rock menuju metal. Contoh sederhananya, bagi mereka yang kurang menyukai metal, lagu ini bisa menghantarkan mereka ke dalam musik yang lebih keras,” urai pihak band lagi, menerangkan.
.
.
Jika musiknya dibangun dari transisi rock menuju metal, “Discourse” juga diniatkan sebagai jalan menuju pelampiasan album penuh. Karena dari segi mental dan materi, F.R.A.N.K sudah siap untuk mengeluarkan album, dimana 10 materi lagu telah siap untuk dieksekusi. Khusus “Discourse”, F.R.A.N.K merekamnya di Southside Paradise yang berlokasi di kawasan Derwati, Bandung. Prosesnya membutuhkan waktu selama kurang lebih sebulan. Saat menjalani produksi rekamannya, mereka dibantu oleh kerabat dari Rounder untuk jadwal serta urusan teknis rekamannya.
Di mata Deblo, Rams dan Bobby, lirik “Discourse” adalah representasi dari kemarahan dan kekecewaan mereka terhadap berbagai kekacauan di 2020 lalu. Sementara dari sisi musik, mereka secara khusus mengedepankan komposisi atau aransemen yang liar lewat geberan riff yang edan sebagai ujung tombak. Riff yang mantap akan menjadikan lagu yang kuat, sesuai dengan keyakinan mereka; Freedom of Riff. (aug/MK02)