SEMPRE AMORE Semburkan Dark Hardcore yang ‘Kasar’ dan ‘Kotor’

Walau baru resmi dikibarkan pada 11 November 2020 lalu, di tengah gejolak pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, tapi Sempre Amore langsung bergerak cepat memanfaatkan masa ‘status quo’ untuk melahirkan karya lagu perdananya.  

Geliat band ini dimulai dari ide gitaris Fernando Yehezkiel Arthur Mamangkey a.k.a. Yeski (Second Sight) dan vokalis Sahwana Shugra a.k.a. Awank (Shout Keepers/Bonjour) untuk membentuk band dengan konsep musik yang berbeda dibanding band mereka masing-masing. Dark hardcore yang ditambahkan elemen grind, chaotic, black metal hingga punk lantas menjadi acuan menu mereka. 

Tidak butuh waktu lama, dua personel lainnya datang memperkuat formasi. Mereka adalah dramer Adi Sasono a.k.a. Adi (Prismal Dawn) dan bassis Ilham Maulana a.k.a. Nana (Second Sight). Keempat musisi ini bersatu karena kesamaan visi dan minat, sehingga membuat proses penulisan dan penggarapan materi debut pun menjadi sangat singkat. Maret lalu, single bertajuk “S.L.A.V.E” pun dilepas ke skena musik keras Tanah Air.

.

.

“S.L.A.V.E” direkam Sempre Amore dalam waktu enam jam di studio Apache, Bekasi. Proses kreatif penggarapannya, menurut penuturan band kepada MUSIKERAS, terbilang lancar dan tidak banyak kendala.

“Tantangan teknis secara umum tidak ada yang spesial, karena semua sudah direncanakan sebelumnya. Hanya perlu sedikit penyesuaian dalam hal mencari karakter dan komposisi sound, sesuai kebutuhan yang diinginkan. Saat merekamnya, kami (juga) menambahkan part dari feel gitar yang memang sebelumnya tidak kami rencanakan.”

Dalam meramu konsep musikalnya, Sempre Amore banyak terinspirasi band-band dunia seperti Converge, Nasum, Disrupt, Watain dan Rotten Sound. Komposisi mereka cenderung dibuat terdengar ‘kasar’ dan ‘kotor’. 

“Kasar dan kotor adalah komposisi yang memang sangat diinginkan dan (merupakan) konsep dari awal kami terbentuk. Karakter output dari gitar maupun bass dominan high gain overdrive dalam colouring-nya, atau biasa disebut distorsi dan fuzz agar terdengar ‘berantakan’. Walaupun seperti itu, kami menikmatinya. Dari awal terbentuk, Sempre Amore memang disatukan oleh personel yang tepat, karena semua personel mempunyai selera dan referensi yang sama. Dengan kata lain kami satu frekuensi,” urai pihak band lagi, sambil tertawa.

Setelah perilisan “S.L.A.V.E”, Sempre Amore meneruskan proses pengumpulan materi untuk album mini (EP), dan akan direkam secepatnya. Selain itu, mereka juga bakal mencari acara manggung sebanyak mungkin sambil mempromosikan “S.L.A.V.E”, baik via media digital maupun analog. Bahkan jika memungkinkan, mereka mencanangkan menggelar tur mini setelah pandemi berakhir. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
incremation
Read More

INCREMATION: Kini Dinaungi Label Asal AS

Melalui New Standard Elite, Incremation merilis “Litany of Deliverance” yang sedikit banyak merupakan gambaran awal dari wajah album terbarunya nanti.
analtopsy
Read More

ANALTOPSY: Semakin Sadis dan Gelap

Melalui album mini (EP) “Septic Overload”, Analtopsy melangkah lebih jauh, dengan distorsi yang lebih berat, lebih kotor dan lebih brutal dari sebelumnya.
antrodemus
Read More

ANTRODEMUS: Death Metal 70-an?

Album terbaru Antrodemus, “Annihilation” memperlihatkan arah baru musik mereka yang semakin progresif, yang menyatukan agresi ekstrem dengan refleksi filosofis.
tcwc
Read More

TCWC: ‘Genosida’ Berdaya Ledak Tinggi

Suarakan perlawanan terhadap manipulasi politik dan agama, The Chance We Created (TCWC) melepas lagu baru, sebuah pesan sosial-politik yang sangat berani.