Jelang “Parrhesia”, LAISSEZ-FAIRE Serukan Hardcore ‘Terbalik’

Kali ini, unit melodic hardcore asal Kota Malang ini ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Lewat single ketiganya, “Terbalik”, mereka memutuskan mengolaborasikan tiga vokalis dengan karakter berbeda, termasuk vokalis Laissez-Faire sendiri. Hasilnya, single dinamis rilisan Samstrong Records tersebut diklaim telah menciptakan sesuatu yang tidak pernah didengar pengikut band bentukan 2012 silam ini sebelumnya.

Hingga saat ini, Laissez-Faire total telah membocorkan tiga trek untuk menyambut peletupan album keduanya. Setelah “Delusi” dan “Hasrat”, rupanya perilisan “Terbalik” sekaligus menjadi penutup sebelum melepas album berjudul “Parrhesia” pada Mei 2021 mendatang. Diwakili tiga single tadi, Laissez-Faire ingin menunjukkan bahwa album keduanya nanti bakal memuat barisan lagu yang lebih dari sekadar apa yang orang dengar dan ketahui tentang mereka selama ini.

Single “Terbalik” sendiri sebenarnya merupakan trek terakhir yang digarap Muhammad Yusuf (vokal), Moch Hisyam Putra (gitar), Achmad Choirul (gitar), Muhammad Agus Salim (bass) dan Bagus Pratama (dram) untuk kebutuhan album “Parrhesia”. Seperti seluruh trek lainnya, eksekusi rekaman “Terbalik” juga berlangsung di studio rekaman rumahan, milik Laissez-Faire sendiri. Tapi untuk vokal, rekaman diolah di AA Studio, Malang.

Pembuatan materi “Terbalik”, menurut pengakuan pihak Laissez-Faire kepada MUSIKERAS, terbilang cukup cepat. Hanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Bahkan saat melakukan workshop pun, mereka hanya melakukan dua kali pertemuan dengan vokalis tamu, Andrean Giovanni (Kids Next Door) dan Bagaskoro Akmal (Noosebound). Setelah itu, langsung merekam isian vokal. 

“Kami membebaskan mereka berdua untuk mengarasemen nada vokalnya sendiri, sehingga mungkin ini juga yang membuat prosesnya cepat. Total,  setidaknya mungkin hanya memakan waktu tiga bulan, sudah termasuk proses pembuatan video klip. Jadi sebenarnya, dapat dikatakan track yang tidak terlalu ‘rewel’ dalam proses produksinya, jika dibanding track-track kami yang lainnya. Walaupun melibatkan banyak kepala, tapi tidak terlalu banyak perdebatan yang terjadi dalam proses kreatifnya,” urai pihak band, menerangkan.

.

.

Berbicara tentang konsep musik, Laissez-Faire sedikit banyak berkiblat pada konsep lagu geberan Killer be Killed – supergroup metal asal Amerika Serikat yang dihuni kolaborasi para personel band Dillinger Escape Plan, Soulfly, Mastodon dan Converge – saat menggarap “Terbalik”. jadi sejak awal, mereka telah membayangkan akan membuat satu lagu yang berisi beberapa riff dari lintas genre.

Jika dicermati secara detail, lagu “Terbalik” menerapkan varian notasi tangga nada yang berbeda. Setidaknya, mereka memainkan tiga notasi scale yang diletakkan di empat bagian. Di Intro dan Verse 1, mereka mengarah ke notasi Minor Scale, lalu pada Verse 2 ada permainan notasi Dominan Bebop Scale, dan yang terakhir di bagian Pre-Chorus, Chorus serta Beatdown mereka menerapkan notasi Whole Half Tone Scale. 

Dari segi referensi, kebanyakan ide riff yang mereka mainkan di “Terbalik”,  justu juga diilhami dari saat para personel Laissez-Faire mendengarkan lagu milik The Dillinger Escape Plan yang berjudul “Understanding Decay” dan “Wanting Not so Much to as To”. Jadi justru bukan hanya ide dari lagunya Killer be Killed.

“Makanya, jika didengarkan secara seksama, perpindahan antara part-part memang akan terasa berbeda. Kemudian, di sinilah kami memainkan penempatan vokal yang berbeda, sehingga perpindahannya sangat amat berkarakter. Kami benar-benar memikirkan pertimbangan siapa orang yang tepat untuk dapat dilibatkan dalam lagu ini. Pada waktu itu, untuk mempertimbangkannya, tolak ukur kami ialah materi lagu dan karakter vokalis kami, yang mempunyai karakter vokal agak low. Sehingga kami pun memikirkan siapa vokalis di Malang yang mempunyai karakter berbanding terbalik dengan vokalis kami.”

Lalu muncullah nama Bagaskoro Akmal dan Andrean Giovanni. Vokalis pertama diyakini pihak Laissez-Faire bisa melakukan teknik vokal high-pitch scream, sehingga dirasa cocok ditempatkan pada awal lagu, yang agak bernuansa fast beat. “Di lain sisi, kami memang sebelumnya sudah sering berkolaborasi dengan Mas Bagas di beberapa gigs, jadi kami rasa kami sudah memiliki chemistry tersendiri dengan beliau ini.”

Sementara kehadiran Andrean Giovanni diproyeksikan untuk mengisi vokal clean, khususnya di pre-chorus. “Jadi kemudian kami mengajak ‘dedengkot’ emo Malang, Mas Andrean Giovanni yang memang kami tahu sudah biasa mengisi clean vocal sekaligus (teknik) vokal fry scream.”

Paralel dengan “Terbalik”, pihak Laissez-Faire juga terus menggenjot perampungan album “Parrhesia”. Adanya pandemi yang mengharuskan lebih banyak di rumah membuat para personel band ini punya banyak waktu untuk bereksplorasi. Apalagi, proses rekaman pun dilakukan di studio rumahan milik gitaris sendiri, sehingga mereka bisa menerapkan jadwal rekaman yang fleksibel. Satu-satunya kendala hanyalah yeknis perekaman untuk vokal, mengingat Muhammad Yusuf berada di luar kota.

“Akhir bulan Maret kemarin vokalis kami telah merampungkan tugasnya take vokal dan saat ini (album) sedang proses mixing dan mastering. Semoga akhir Mei album kami sudah bisa didengarkan.” (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *