SENGAT Luncurkan “Morphia” yang Berbisa dan Eksploratif

Ramuan musik eksperimental yang berkadar avant-garde menjadi ujung tombak band baru asal Jakarta ini. Formulanya condong ke musik metal, namun dibiarkan terbuka bebas terhadap segala pengaruh atau rangsangan tone dari genre lain di luar ranah metal, seperti classic, rock, blues, bahkan ke jazz. Sederhananya begini; jika menyukai karya-karya dari Mike Patton, Mr. Bungle atau Fantomas, mungkin Sengat bisa menjadi rekomendasi kuat untuk didengar.

Nah, hasil racikan sarat manuver tersebut kini telah dilampiaskan Sengat dalam sebuah album rekaman debut bertajuk “Morphia”, yang telah dirilis pada April 2021 ini.  Karya tersebut beramunisikan 13 trek, termasuk sebuah lagu daur ulang milik unit grindcore legendaris, Napalm Death, yang dieksekusi dalam versi yang sangat jauh berbeda dibanding aslinya.

Semua komposisi lagu di “Morphia” bermuatan metal dan rock yang eksploratif, dengan mengambil akar heavy metal, yang lantas dilebur jadi satu dengan sentuhan beberapa genre lain seperti space rock, math rock, surf rock, jazz, neo-classical hingga black metal, plus desingan grinding part dan soundscape yang sinematik nan disonan.

Formula di atas, tidak begitu saja tercipta. Karena sebelumnya, Sengat sempat beberapa kali mengalami formasi, yang secara signifikan turut mempengaruhi pengonsepan musiknya. Oh ya, Sengat sendiri merupakan proyek session dari beberapa musisi yang sering berkumpul di Southouse Collective/Entertainment. Beberapa di antara mereka juga masih aktif di band lain seperti Mouthless, Morgia, Souldas, atau yang sudah tidak aktif seperti Kelakar, In Memorivm, Caravan Of Anaconda dan Obsesif Kompulsif.

Semua berawal dari sebuah undangan untuk tampil di acara “Salihara Jazz Buzz” pada 2019 lalu. Saat itu, Sengat hanya diperkuat dua orang, yaitu Reynold ‘r’ Silalahi (vokal utama/piano/kibord) dan gitaris Didi Priyadi (In Memorivm, Kelakar), dan setiap ide musikal yang ada dibuat dalam bentuk music score, yang sepenuhnya ditulis oleh ‘r untuk kebutuhan tampilan di “Salihara Jazz Buzz” tersebut.

.

.

Setelah itu, paling tidak terjadi lagi tiga kali perubahan formasi, yang membuat orientasi pengolahan komposisi musiknya pun berubah. Setelah Didi mengundurkan diri, sempat pula dihuni oleh dramer Daus (Invictus, Ozryel), Tesla Manaf (noise box/programmer/sampler) dan Irene (vokal). Tapi kemudian ketiganya pun urung bergabung permanen, hingga akhirnya Sengat memantapkan formasi terkininya; Aditya ‘Ditch’ Budhi Suteja (vokal/gitar 6 senar), Yusuf ‘Joseph’ Yadi Surya (vokal/gitar 8 senar), Gilang Muhammad Perdana (dram) dan ‘r’.

Kuartet inilah yang melanjutkan eksistensi Sengat, yang lantas dengan sigap melakukan perombakan ulang terhadap beberapa komposisi yang telah ditampilkan di Salihara. Kali ini, mereka melakukan persilangan antara music scoring dengan konsep jamming. Menurut ‘r’, keseluruhan lagu yang menyesaki “Morphia” telah mengalami tingkat eksplorasi yang sama, merupakan titik optimal dari sebuah ekspresi yang dirilis oleh para personel Sengat. 

“Sehingga keoptimalan musik yang dibentuk terjadi melalui eksplorasi dari masing-masing personel sesuai dengan kapasitas energi yang dihasilkan dalam membentuk suatu sinergi tertentu,” urai ‘r’ kepada MUSIKERAS, serius.

Ditch ikut menambahkan, bahwa eksplorasi yang mereka lampiaskan lumayan menguras tenaga dan pikiran. Khususnya di lagu “Garnish Of Ambrosia” dan “Structured”. “Ide yang kami lebur dalam eksplorasi berhasil membongkar batas. Seperti misalnya, ada part ‘acapella’ di tengah lagu sebelum masuk blasting dan crossing riff ala black metal, atau double lead di lagu ‘Structured’ yang satunya nge-jazz, yang satu lagi nge-blues campur nada Timur Tengah.”

Dalam sebuah proses eksplorasi yang cenderung ‘mengharamkan’ pemagaran, lantas bagaimana para personel Sengat menentukan kapan sebuah lagu harus dinyatakan selesai?

“Sebuah lagu dinyatakan selesai ketika para personel sepakat dengan tema lagu yang sudah dikomposisikan, perkara ‘aransemen’ adalah bagian berikut sebagai ‘pakaian’ yang dapat saja berubah-ubah tergantung kebutuhan bagaimana band dapat menyampaikan kerangka dasar musik dengan melibatkan kesepakatan aransemen secara bersama,” cetus ‘r’ menegaskan.

“Selesai dalam hal ini, jika setiap inti dari komposisi lagu sudah terbentuk, terlebih pesan yang dikemukakan juga sudah tersampaikan walau lagunya hanya beberapa detik sekalipun atau sepanjang 8-10 menit misalnya. Yang pasti, inti lagu dan pesan sudah tertuang,” seru Ditch menimpali.

Namun dengan alasan penghematan produksi, Sengat pun memutuskan untuk mengabadikan “Morphia” hanya dalam format kaset. Setidaknya untuk saat ini. Menurut ‘r’, merilis kaset yang terbatas dengan jumlah 50 buah ini merupakan suatu format audio yang bisa menjadi collectible item.

Selain itu, memproduksi album dalam format kaset dalam jumlah terbatas juga memudahkan mereka mengontrol pendistribusiannya. “Alasan lainnya,  karena kami tidak mau menunggu lama label yang mau bekerjasama untuk menangani perilisan dan produksi serta berbagai alasan lain yang membuat waktu tertunda. Akhirnya dengan tekad tanpa ketergantungan pihak lain, kami putuskan untuk produksi sendiri melalui label saya, Newbornfire Recordings yang dulunya hanya sebuah media alternative/zine,” ujar Ditch memperjelas.

“Morphia” bisa didapatkan secara online atau menghubungi kontak yang tertulis di akun media sosial mereka, serta di beberapa kanal distribusi resmi. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
regu pemburu
Read More

REGU PEMBURU: Membunuh dari Dalam

Di amunisi terbarunya, “Labirin Pikiran”, Regu Pemburu mengungkap problema insomnia yang terus berulang setiap malam, yang terasa nyata dan liar.