Keseriusan dalam menajamkan eksistensi band post-hardcore asal Jakarta ini akhirnya kembali tereksekusi dengan baik. Sebuah album penuh perdana berhasil mereka wujudkan, bertajuk “The Album” dan sudah disahkan perilisannya pada 23 Mei 2021 lalu via Sailboat Records. Karya rekaman ini beramunisikan 10 lagu yang dikumpulkan sejak 2013 silam, lantas direkam dalam rentang waktu Agustus 2020 hingga Januari 2021.
Cukup panjang perjalanan penggarapannya. Kendati demikian, dalam perjalanannya Amukredam tidak merasa kehilangan ‘benang merah’ musiknya. Karena sebenarnya, ‘benang merah’ itu adalah musik Amukredam itu sendiri. Sejak merilis album mini (EP) pertama mereka pada 2012 silam, ramuan musik Amukredam mulai bergerak ke arah yang lebih serius, dengan durasi yang lebih panjang, plus pola pikir dimana semua lagu harus direkam dengan serius, sebagaimana mestinya.
“Berbeda waktu EP pertama dimana kami rekaman seadanya, dengan mixing dan mastering seadanya juga. Maka dari itu, waktu 2015 kami rekaman dan sepakat untuk nggak pake rekamannya lagi setelah kami mulai aktif lagi. Karena kami pengen sound dan songwriting yang lebih baru. Beberapa lagu di album ini memang mengambil lagu-lagu lama yang belum kami rilis, namun di semua lagu juga kami sudah ubah aransemennya agar dapet benang merahnya ke semua lagu,” beber gitaris Toro Elmar kepada MUSIKERAS, mewakili rekannya di Amukredam.
Seperti sudah disinggung di awal artikel, beberapa lagu yang ada di “The Album” sudah ada sejak 2013. Bahkan beberapa instrumen pun sudah direkam pada 2015, karena sempat ada rencana untuk merilisnya di tahun tersebut. Namun karena ada beberapa halangan, serta ada personel yang keluar, maka proyek album itu pun terpaksa terbengkalai. Dan hasil rekamannya pun dibiarkan begitu saja. Lalu pada 2016-2017 Amukredam mulai aktif lagi, lalu juga merilis single berjudul “Everything is either dystopic or merely just a daydream”. Tapi pada periode 2018-2019, Amukredam terpaksa vakum lagi karena tiga personel mereka sejenak mengalihkan fokus untuk berkeluarga.
.
.
“Awal 2020 kami mulai serius buat garap album, dengan memasukkan beberapa materi baru di album. Pertengahan 2020 kami mulai rekam dengan cara DIY (do it yourself), kami rekam sendiri semua instrumen di kost dramer kami, mulai dari gitar, bass dan dram. Lalu setelah musik jadi, baru mulai rekam vokal di Desember 2020 hingga Januari 2021, (juga) dengan cara DIY di beberapa studio musik. (Pada) Februari-Maret 2021 kami masuk ke (tahapan) mixing dan mastering, dimana dua lagu pertama Februari lalu (sudah) kami rilis dalam bentuk single bertajuk ‘The First Phase’.”
Lebih jauh, Amukredam yang juga dihuni Avinnala Yunus (vokal), P.S Jati (dram) dan Mardiansyah Odi (bass/vokal latar) ini menyebut “The Album” sebagai ‘a collection of songs compiled’. Itulah sebabnya musik yang mereka suguhkan di album tersebut sangat beragam tipe musiknya.
“Ada satu lagu dimana kami kental dengan nuansa post-rock. Ada juga lagu dimana kami mulai bermain dengan tempo lebih cepat. Referensi musik pun beragam, karena personel kami juga dari background referensi musik yang berbeda. Seperti bassis kami sangat menyukai punk rock, dramer kami banyak bermain di musik seperti math-rock, vokalis yang ke pop-punk dan juga gitaris yang referensi musiknya banyak dari post-hardcore era ‘2000an.”
Tapi konsep Amukredam sendiri, Toro menambahkan, cenderung membawakan musik yang emosional, baik itu keras atau pun pelan. Makanya namanya Amuk & Redam. Sementara dari referensi musik, mereka banyak menyerap inspirasi dari skena screamo/skramz ‘2000an seperti Daïtro (Perancis), Loma Prieta (AS), Raein (Italia), serta juga menyampurkan elemen musik post-hardcore popular seperti Finch, The Used hingga Underoath.
Saat diminta MUSIKERAS untuk menyebut satu dari 10 lagu yang menurut mereka paling menantang proses penggarapan serta eksekusi teknis rekamannya, Toro secara spesifik memilih lagu “Shots in the Dark”. Ini lagu yang paling terakhir mereka tulis di 2019 lalu, dan saat mau rekaman pun, lagu tersebut yang mereka jadikan benchmark dari segi sound gitar, bass dan juga permainan dram.
“Dari segi gitar pun, gue lumayan lama mencari sound yang menurut gue cocok untuk lagu ini dan juga lagu yang lain. Dan proses untuk lock jenis soundnya secara online, sharing hasil rekaman kasar untuk menjadi fondasi dasar di album ini,” cerus Toro meyakinkan.
“The Album” dirilis dalam format cakram padat (CD) dalam jumlah terbatas. Tapi tentunya, juga tersedia di hampir semua kanal digital audio streaming seperti Spotify, Apple Music, Bandcamp hingga Deezer. (mudya/MK01)