“Bangkit Berdiri”, Pembuktian ENERGI TANPA BATAS di Skena Industrial Metal

Dalam bermusik, tak ada batasan dalam berkarya, sekali pun hanya diperkuat dua personel. Seperti yang dipraktekkan duo industrial metal asal Tangerang Selatan ini. Seperti makna Energi Tanpa Batas (ETB) itu sendiri, yang mereka jadikan identitas band, bahwa setiap manusia memiliki kekuatan yang tidak terbatas dalam melakukan hal postif bagi semua kalangan dan usia. 

Sejauh ini, sejak terbentuk pada 16 Juni 2016, ETB yang dimotori oleh Edwin Mulya Basar (bass/vokal) yang sekaligus juga menduduki singgasana produser dan komposer musiknya sudah menelurkan sebuah album mini (EP) berjudul “Energi” pada Januari 2017 silam. Lalu setelahnya, pada November tahun yang sama, ETB melepas single “Penjilat”, lalu disusul “Bebas” pada 15 Maret 2019 serta “Dibodohi Membodohi” pada 24 Mei 2020. 

Kini, bersama Radhian ‘Jay’ Raja di balik perangkat dram, ETB melampiaskan album baru bertajuk “Bangkit Berdiri” yang memuat tujuh komposisi garang plus satu lagu berjudul “Penjahat Bertopeng” versi rekaman live. Single “Penjilat”, “Bebas” dan “Dibodohi Membodohi” juga terangkum di kemasan ini.

Album “Bangkit Berdiri” sendiri harusnya ditargetkan rilis pada awal 2020 kemarin. Namun karena mendadak pandemi Covid-19 menghadang, akhirnya baru kesampaian dilepas pada Januari 2021 lalu.

.

.

Kepada MUSIKERAS, Edwin mengungkapkan bahwa konsep musik ETB yang ia sebut berdiri di genre industrial metal disuguhkan dengan kombinasi lirik lagu yang lugas, yang cenderung fokus ke isu kehidupan sosial secara umum. Sementara dari sudut musikal, ETB banyak mengacu ke referensi musik seperti Static-X, White Zombie, Sepultura, Rage Againts the Machine, Jinjer serta pahlawan lokal macam PAS Band dan Suckerhead.

“Namun dari referensi tersebut kami mencoba meraciknya menjadi industrial khas ETB dengan dua musisi,” seru Edwin menegaskan.

Dari album “Bangkit Berdiri”, Edwin sebagai pembetot bass sekaligus pencipta lagu menyebut lagu yang berjudul ‘Bangkit Berdiri’ sebagai komposisi yang cukup membanggakan. Terutama dari segi lirik, karena ia membuatnya di saat Covid mulai melanda Indonesia, dengan segala pengaruh buruknya yang sangat besar.

“Di sini lirik lebih pada bagiamana kita harus bangkit dan tetap berdiri di masa manusia hilang kendali dari sisi emosional, ego dan solidaritas. Kira-kira, lagu ‘Bangkit Berdiri’ saya ciptakan hanya dalam dua hari, mulai dari lirik, vokal, sound, dan instrumen. Saat rekaman pun hanya sekitar dua jam selesai. Mungkin karena lagu ‘Bangkit Berdiri’ sangat ‘kena’ di depan mata dan di sekeliling kita jadi semuanya mengalir cepat.”

Dengan mengandalkan hanya dua musisi, menjadi tantangan tersendiri bagi ETB. Terutama untuk mendapatkan pengakuan khalayak. Edwin harus bisa membuktikan bahwa ETB mampu berkarya meskipun hanya dihuni dua orang musisi. Menurut Edwin, banyak orang yang tidak percaya dengan konsep duo tersebut, karena mereka berpikir pasti ada gitaris yang dilibatkan.

“Saat rekaman konsep kami tetap berdua (saja) dengan dua instrumen, yaitu bass dan dram, murni tidak dilebih-lebihkan. Sama seperti (saat) kami tampil di panggung, selama tidak (dalam rangka) berkolaborasi, karena kami sedang menjalankan kolaborasi dengan suling etnik saat ini.”

Karya-karya rekaman ETB, termasuk album “Bangkit Kembali”, sudah bisa didengarkan di berbagai platform digital seperti Spotify, iTunes, Joox dan Deezer. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.