Setelah berjalan kurang lebih empat tahun tanpa ada rilisan karya terbaru, pada 2021 ini akhirnya Painful by Kisses memutuskan untuk bangkit. Dengan formasi baru yang sekaligus membawa semangat baru, unit keras asal Bali ini pun merilis sebuah single rekaman baru bertajuk “Kacau”.
Single tersebut memusatkan tema liriknya pada ungkapan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh para personel Painful by Kisses, yang mungkin juga dirasakan oleh orang lain di sekitar mereka, terhadap situasi dunia secara global dan Indonesia khususnya, terkait berbagai macam isu, mulai dari pandemi Covid-19, beragam konflik di beberapa wilayah dan negara serta problematika lainnya yang setiap hari menghiasi lini masa media sosial dan media televisi kita.
Lagu ini, cetus Painful by Kisses, mewakili suara-suara bawah yang menyuarakan untuk menghentikan tindakan atau berita-berita yang bisa menebar ketakutan berlebihan di masyarakat, yang mana hanya akan menambah tingkat stress di setiap individu, menambah beban mental dan akumulasi puncaknya adalah situasi yang menjadi ‘kacau’.
Formasi Painful by Kisses saat ini diperkuat formasi Febri Iswara (vokal), Donnie Hendrawan (gitar), Agung Dharmayasa a.k.a. Dharma (gitar) dan Tribayu Usadha a.k.a. Copz (dram/vokal). Namun karena alasan kesehatan, untuk sementara waktu posisi Donnie digantikan oleh Rah Lanang. Lalu ada pula kontribusi dari Wilson di lini bass. Mereka inilah yang menggarap “Kacau”, selama kurang dari seminggu.
.
.
Ya, proses penggarapan materi single tersebut terbilang sangat cepat, sekaligus berkesan bagi Painful by Kisses. Bahkan dalam waktu sesingkat itu, mereka juga bisa merampungkan video musiknya sekaligus. Bagan “Kacau” dimulai dari penentuan kord dasar, yang kali ini datang dari Dharma. Biasanya, urusan ini digarap oleh Donnie, namun karena kondisinya yang belum sehat, pihak band pun mendaulat Dharma untuk mencari ide untuk kord dasarnya. Setelah itu disesuaikan dengan lirik lagu karya Febri, yang mendapat bantuan masukan lirik berbahasa Indonesia dari Vendi, vokalis band Hanamura. Setelah itu, proses berlanjut ke pengolahan aransemen lagu di Fist Music Studio, milik Febri. Keesokan harinya, sesi rekaman langsung dieksekusi di Crayon Studio selama enam jam. Sisanya, mereka fokus memoles mixing dan mastering bersama Agung Sincan (Ludicia), setelah sebelumnya menjalani proses evaluasi dan revisi.
“Demikianlah proses unik dari terciptanya materi single ‘Kacau’ ini. Waktunya relatif singkat, namun penuh dengan semangat tinggi, mengingat jeda empat tahun tanpa karya adalah waktu yang cukup lama,” tutur Painful by Kisses kepada MUSIKERAS semangat.
Menggeliat sejak awal Desember 2005 silam dengan kobaran genre post-hardcore, tidak membuat Painful by Kisses merasa harus terjebak dalam lingkup musikal yang itu-itu saja. Makin ke sini, elemen alternative rock dan modern rock meresap perlahan dalam komposisi lagu-lagu yang mereka ciptakan. termasuk single “Kacau” ini.
“Namun tetap membawa benang merah dari warna awal kami, yaitu post-hardcore,” cetus mereka mencoba mengklarifikasi.
Konsep mereka tersebut, tetap menerapkan pola ketukan pedal dram ganda, isian vokal scream hingga patahan breakdown yang khas. Maksudnya, agar penggemar setia mereka tidak merasa asing dengan perubahan atau pendewasaan musikalitas yang coba ditampilkan Painful by Kisses di karya terbarunya itu.
“Untuk referensinya, kali ini kebetulan kami sama-sama mendengarkan dan mengikuti perkembangan arah trend musik, khususnya dari genre awal kami. Alhasil, muncullah beberapa nama band sebagai referensi kami seperti Normandie, Polyphia, Periphery, Story of the Year dan masih banyak lainnya.”
Setelah single “Kacau”, Painful by Kisses telah mencanangkan penggarapan single kedua, lalu dilanjutkan ke pembuatan album mini (EP) atau album penuh, jika tidak ada halangan.
Oh ya, sejak mulai berkarir, sejauh ini Painful by Kisses sudah merilis sebuah karya EP berjudul “Your Friend Can Be Your Enemy” (2006) serta tiga buah album penuh (LP) bertajuk “The Curse Of…” (2008), “Better Brighter” (2011) dan “Vice Versa” (2016). (mdy/MK01)