Proyek instrumental metal yang digerakkan oleh satu orang, yakni gitaris Arya Akbara yang berasal dari Surabaya, Jawa Timur ini kembali melesatkan komposisi terbaiknya, bertajuk “Narrowsense”. Sebuah single yang menjadi pelampiasan spiritual serta rasa yang dialami oleh Arya selama kurun waktu satu-dua tahun belakangan.
“Narrowsense” bukan karya pertama Methiums. Sebelumnya, alterego yang terbentuk pada 2013 ini telah merilis satu album mini (EP) pada 2014, lalu single berjudul “Ylaviastu” (2015), satu album “Between Moments” (2018) serta single “Beneath and Beyond” yang termuat dalam EP “Sadajivva I” rilisan Desember 2020 lalu, yang juga melibatkan musisi solo lainnya, yakni Beyond Infinity, Zetzner dan Greater Than Delta.
Dari segi aransemen, “Narrowsense” melebur musik instrumental metalcore dengan sentuhan djent dan progressive metal yang didominasi riffing gitar, yang lantas dipadukan dengan elemen ambience yang membuat kesan megah dan chaotic tersendiri di lagunya.
Bagi Arya, mengerjakan komposisi lagu yang berkisar pada formula djent memberikan banyak hal menarik dan sangat sesuai dengan hasrat hatinya dalam menggeluti musik, khususnya dalam dunia gitar.
“Susah dijelasin sih,” cetus Arya kepada MUSIKERAS, terus-terang. “Tapi sepertinya, karena pada dasarnya diri ini seorang gitaris dan seluk beluk pergitaran di ranah metalcore/djent ini dari dulu selalu klop aja di kuping dan sanubariku. Selalu nggak bosan membuatku ngulik, dari segi permainan, ilmu sound engineering sampai dunia gear-nya. Kayaknya nggak ada habisnya aja, selalu nemu band baru, lagu baru, approach baru dan sebagainya, yang bikin diri lebih semangat pegang dan main gitar.”
.
.
Perekaman serta pengolahan materi “Narrowsense” ditulis dan dilakukan Arya di kota tempatnya bekerja saat ini, yakni di Pangkalan Bun. Kali ini proses pengolahan program dram serta instrumen virtual lainnya, hingga tahap mixing dan mastering dibantu oleh Adyangga Wirawan di Afterhour Studio, Temanggung. Keseluruhan proses dipandu via komunikasi daring, di tengah kesibukan perkantoran mereka masing-masing. Sedangkan untuk artwork, masih tetap dipercayakan kepada fotografer muda, Baryeri Egi.
Selain menggulirkan Methiums yang banyak terpengaruh leburan musik dari band-band seperti Periphery, Haunted Shores, Protest the Hero hingga Killswitch Engage, Arya saat ini juga masih tergabung di ERYA, duo metalcore/djent yang dibesutnya bersama Erixon Sihite (dram/vokal/synth). Lantas apa yang membedakan Methiums dengan ERYA dari segi konsep musik?
“Kalau dari sisi aku sebagai penulis riff, di ERYA, riffing gitar selalu kubuat ada suatu ruang di tengah dimana vokal bisa dimasukin di situ, karena formatnya metal dengan vokal. Kalau di Methiums, aku nggak berpikiratau berencana menyediakan ‘ruang’ untuk vokal. Yaa meskipun kadang hasil akhirnya, ‘Kayaknya mantap juga ini kalau diisi vokal’, hehehe. Lalu secara keseluruhan, di ERYA, musik kami lebih dinamis, karena memang aku dan mas Erixon masih ingin eksplor seluas-luasnya. Pokoknya selama di jalur metal-rock, apapun itu.”
“Narrowsense” kini sudah dapat dinikmati di berbagai layanan musik streaming. (aug/MK02)