STRAIGHTOUT: “Kami Bermain di ‘Grey Area’, Metal yang Universal.”

Lelah menanti pandemi yang tak kunjung selesai, formasi terbaru unit cadas asal Jakarta Selatan ini akhirnya memilih merampungkan dan merilis single terbarunya, “Solace” yang sudah bisa didengarkan di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, Joox dan Deezer sejak 30 Juni 2021 lalu. 

“Solace”, menurut tuturan Straightout kepada MUSIKERAS, sebenarnya sudah direkam untuk dimatangkan secara profesional sejak sekitar Juli-Agustus 2019 lalu di Venom Studio, Jakarta. Bahkan hingga awal 2020, penggarapan musiknya pun sudah selesai, hanya menyisakan pengisian vokal. Dan ide awalnya, pada bagian reffrain seharusnya diisi oleh paduan suara anak-anak kecil. Tapi sayangnya, pandemi datang membuyarkan segala rencana. Karena keterbatasan gerak, suara anak-anak pun diganti dengan suara penyanyi wanita, yang dieksekusi oleh Patricia Catherine Agla.

“Selama berjalannya proses rekaman, tadinya nggak ada niat untuk masukin female voice, karena pengennya reffrain itu diisi suara anak-anak kecil nyanyi bareng. Mungkin kayak lagu P.O.D. yang ‘Youth of the Nation’ atau In Flames yang ‘The End’. Nah, pas pandemi nggak mungkin nyari anak kecil, mana ada orang tua yang bolehin anaknya keluar (untuk rekaman). Terus pandemi juga nggak jelas akhirnya, jadi harus ada ‘Plan B’. Akhirnya karena kondisi (nggak memungkinkan) ya udah deh, diisi suara cewek aja. Balik lagi kayak album-album Straightout era 2004-2007 yang emang ada female voice,” beber gitaris dan penggerak utama Straightout, Firman ‘Pipinx’ Fitrianto kepada MUSIKERAS, beralasan.

Walau diperkuat formasi baru yang terbentuk sejak 2018 lalu, yakni Andhika Candra Putra (vokal), Pratama Putra (gitar), Ipang Rangga (bass), Nicko Rahmat Prabowo (dram) dan Pipinx, namun konsep serta warna musik di “Solace” tidak jauh berbeda dibanding lagu-lagu di album sebelumnya, “Phobia” (2016).  

.

.

“Sebenarnya benang merahnya sama dengan ‘Phobia’,” cetus Pipinx meyakinkan. Hanya, kali ini Pipinx ingin lebih menyederhanakan komposisinya agar lebih mudah dinikmati banyak kalangan, bukan hanya dari para pelahap musik metal. Ia juga cenderung menghindari terapan riff gitar yang menyulitkan saat dimainkan di panggung. 

“Gue udah pernah mengalami itu di album ketiga. Sekarang gue pengen bener-bener nikmatin musiknya. Bikin musik metal yang universal, jangan identik ke satu genre. Balik lagi ke awal, Straighout itu kan emang main di grey area, bisa main di mana aja. Gue pengen musik metal hasil pendewasaan, yang bisa masuk ke banyak kalangan.”

Nah, karena kali ini Straightout kembali diperkuat formasi baru – seperti yang juga sudah terjadi di album-album sebelumnya – Pipinx tetap berusaha mempertahankan warna dan karakter musik Straightout. Apalagi kini usia beberapa personelnya terpaut cukup jauh di bawah usia Pipinx.

“Jadi posisi gue seperti wasit, menjaga (musiknya) tetap on track, menjaga alurnya, agar warnanya nggak hilang. Gue berusaha menjaga itu. Siapa pun personelnya, warnanya tetep ada. Lebih menjaga harmonisasinya. Kalo musik sih gue biarkan mereka yang eksplor, karena kan nggak bisa dipungkiri, personel baru pasti ada influence baru. Tantangan gue di situ, harus berusaha bisa nge-blend, sambil menjaga ego, skill dan lain-lainnya agar bisa menyatu.” 

Oh ya, ‘tradisi’ gonta-ganti personel sendiri memang sudah menjadi bagian dari perjalanan karir Straightout selama ini. Sejak terbentuk pada 1998 silam. Setiap album dan bahkan jika terlibat di kompilasi sekali pun, selalu ada yang berbeda di susunan formasinya. Pipinx beralasan, karena ia sendiri memang tak pernah memaksakan seseorang untuk setia berada di Straightout. 

“Ini biasa sih dalam sebuah band. Mungkin di awal-awal usia 20 tahunan semangat masih sama, masih menggebu-gebu. Tapi setelah di atas 30, visi misi mulai beda. Tapi gue nggak pernah ada konflik dengan personel. Buat gue band hanya kendaraan untuk bersenang-senang. Nomor satu tetep friendship, pertemanan di atas segalanya.”

Sejumlah rencana telah disusun Straightout untuk melanjutkan promo “Solace”. Di antaranya akan ada video musik serta video ‘guitar/drum playthrough’. Lalu pada Oktober nanti, mereka bakal merilis single kedua. Setelah itu, Straightout bakal fokus menyelesaikan penggarapan rekaman sembilan lagu yang telah mereka siapkan sejak 2019 lalu, untuk dijadikan album. Target perilisannya pada Mei 2022 mendatang, bertepatan dengan perayaan 24 tahun usia Straightout. 

Sebelum “Solace”, Straightout sudah merilis empat album penuh yakni “Undying Beauty and the Symphony of Sadness” (2004) yang sempat dirilis ulang pada 2017, lalu “Forsaken Upon Nemesis” (2007), “Nocturnal Born Vehemance” (2013) dan “Phobia” (2016). (mudya/MK01)

1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.