Usai menyuarakan kegelisahan mengenai kontroversi legalisasi tanaman ganja dalam sebuah lagu bertajuk “Propaganda Mary” pada Maret 2020 lalu, kini duo perantau asal Maluku Utara yang menyebut diri mereka “true Indonesian crust black metal” ini kembali menyalak. Kali ini, Pukar yang berbasis di Bandung meneriakkan ‘cakalele’, yang berarti tarian perang atau tarian perlawanan. “Cakalele” juga merupakan judul album debut Pukar yang telah dirilis sejak April 2021 lalu.
Pesan penting yang ingin disampaikan Dedi ‘Amank’ Rahman (vokal/gitar) dan Reza Bagus Saputra (dram) di sini adalah, bahwa segala sesuatu bisa saja terjadi, entah siapa dan apa yang terjadi besok, semua ada sebab dan akibat, kepentingan dan kekuasaan, propaganda dan isu, serta doktrin dan pandemi pun bisa terjadi, entah untuk siapa? Di sini kita sebagai masayarakat hanya mencoba memahami bagaimana kehidupan kita yang dulu ‘normal’ bisa kembali seperti ‘semula’.
Proses kreatif saat merekam album “Cakalele” sendiri rupanya tidak membutuhkan waktu lama. Amank dan Reza mengeksekusinya di Yeah Studio, Bandung, hanya dalam waktu kurang lebih tiga jam.
.
.
“Kami menggunakan alat musik adat dan memainkan intro dengan musik adat kami dari Maluku Utara,” ujar Pukar kepada MUSIKERAS, melengkapi informasi tentang albumnya.
Sementara dari segi musikal, “Cakalele” tetap menerapkan materi tentang perlawanan dan tetap dengan ciri khas crust black metal dan black metal punk. “Dan konsep album ini semua berisi tentang perlawanan, serta budaya dari Maluku Utara.”
Pukar melesatkan 10 amunisi mencekam di “Cakalele”, di antaranya bertajuk “New Normal”, “Generasi Bakar dan Korupsi”, “Tanah Haram”, “Pemusnah Massal”, “Cakalele” dan “Pukar”.
Oh iya, nama Pukar sendiri diambil dari bahasa Ternate yang merupakan semacam kata makian atau kata serangan yang biasanya terlontar saat marah, atau saat merasa terancam dan terintimidasi. Nah, mulai dari situlah mereka lantas membuat single berjudul “Propaganda Mary” untuk mengekspresikan kemarahan.
Pukar yang baru terbentuk 2019 lalu di Bandung menyebut “Propaganda Mary” yang juga termuat di album “Cakalele” sudah menerapkan konsep gabungan beberapa sub-genre dalam keluarga musik keras seperti crust punk d-beat dan black metal classic. Referensi mereka antara lain datang dari band-band dunia seperti Darkthrone, Gorgoroth, Vader, Mayhem, Burzum, Disfear, Tragedy dan From Ashes Rise.
Saat ini, album “Cakalele” sudah bisa didengarkan melalui berbagai gerai digital streaming seperti Spotify, Apple Music, Joox, Deezer dan Pandora. (aug/MK02)
.