RENAISSANCE Tanggalkan Djent, Lalu Geber Metalcore di “Eternity”

Sejak terbentuk pada 2015 silam, unit cadas asal Kota Pahlawan, Surabaya ini sempat mengalami kekosongan aktivitas selama beberapa tahun. Hingga pada 2021, Renaissance akhirnya bertekad bangkit, walau hanya menyisakan tiga personel, yang juga kebetulan merupakan pendiri band tersebut. Mereka adalah Esa Handoko (vokal), Eryck Juniarta (gitar) dan Naval Dwi (dram). Formasi inilah yang lantas berhasil menelurkan single berjudul “Eternity”.

Materi awal “Eternity” ini sendiri awalnya datang dari garapan Eryck, saat menyendiri di rumahnya pada awal 2020 lalu. Setelah itu, bersama personel Renaissance lainnya yang memutuskan bertahan lantas sepakat untuk mengeksekusi rekaman “Eternity” selama empat hari di Rambpage Records. “Eternity” merupakan bekal awal Renaissance menuju perilisan album debut yang rencananya bisa diluncurkan pada akhir 2021 atau awal tahun depan.

“Menurut kami, ’Eternity’ adalah single pendongkrak untuk Renaissance, sebagai nafas baru untuk kembali lagi ke skena musik,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Lalu sebagai salah satu penambah daya tembus single ini, Renaissance mengajak Anggie Kobo, atau yang juga dikenal dengan sebutan Kobo (STDC), untuk berkolaborasi. Sehingga ada dua karakter vokal yang saling bersinergi di “Eternity”.  

.

.

“Tantangan (teknis) penggarapan single “Eternity” adalah mengombinasikan antara dua vokalis berbeda di bagian chorus untuk menyesuaikan karakternya. Tentunya kami juga sempat mendapati kesulitan saat proses tracking dan pengisian Midi untuk memadukan instrumennya.”

Konsep musikal yang diterapkan Renaissance, mereka akui, turut pula mengalami pergeseran saat meracik “Eternity”. Kontur djent yang sebelumnya cukup kental perlahan diseret ke pola yang lebih beraroma metalcore, dengan referensi yang kebanyakan diserap dari band-band dunia seperti Erra, Architects dan I, the Breather.

Apa pertimbangan utama perubahan tersebut?

“Pertimbangan kami dalam peralihan genre itu karena terdapat beberapa materi yang ada di album kami yang akan dirilis. Dari segi (jumlah) personel yang minim dan sudah lama tidak bermusik setelah vakum, (maka) kami membuat materi yang seadanya, dan menurut kami materi tersebut sudah jauh dari genre kami sebelumnya, yaitu djent atau progressive.”

“Eternity” kini bisa didengarkan via platform digital streaming seperti Spotify, iTunes, Apple Music, Amazon Music, Deezer, Tidal dan Shazam. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
vested
Read More

VESTED: Di Antara Metal dan Hardcore

Mencoba menonjolkan karakter yang berbeda dan segar tanpa kehilangan agresivitasnya, Vested kembali menghujam lewat rilisan baru yang menajamkan konsep itu.
dewa gitar
Read More

9 DEWA GITAR di Konser GUNS N’ ROSES Jakarta

Sembilan dewa gitar legendaris tanah air dipilih sebagai amunisi pembuka konser Guns N’ Roses yang bakal berlangsung di Senayan, 21 November 2026 mendatang.
hyper
Read More

HYPER: Keserakahan, Dosa dan Pertobatan

Perpaduan riff yang agresif, groove yang menghantam serta energi khas metalcore 2000-an menjadi bagian penting geberan Hyper di album mini (EP) terbaru.