Dengan Formasi Baru, DECOY Suntikkan “Toxic” Berbalut Rock/Emo

“Aku tuh dulu nggak pernah anggap Decoy ini akan jadi sebuah band! Aku anggap Decoy ini cuma side project.”

Tapi ternyata nasib berbicara lain. Karir band modern rock asal Bandung ini ternyata terus bergulir dan kini bahkan sudah berhasil menelurkan empat single sejak terbentuk pada November 2019, termasuk “Toxic” yang baru dirilis bulan lalu. Sebelumnya, Decoy sudah menancapkan eksistensinya sejak Desember 2020 lewat rilisan single berturut-turut, “Awake”, “Thanks” dan “Rain”. 

“Toxic” sendiri berkisah tentang ungkapan keresahan Decoy terhadap ‘lingkungan sekitar’ yang menciptakan iklim tidak sehat, sehingga seringkali malah menguras energi positif. “Karena banyak keresahan yang nggak bisa tersampaikan, dan daripada ikut-ikutan jadi toxic, maka lebih baik kami tuangkan pemikiran untuk menjadi sebuah karya,” urai gitaris dan salah satu pendiri Decoy, Achmad Rizky kepada MUSIKERAS.

Di karya mereka kali ini, Decoy yang juga dihuni Retno Nurwulan Sari a.k.a. Rere (vokal), Syamsu Rizal Gandasaputra a.k.a. Icul (kibord/vokal), Dicky Rivaldy (bass) dan Fajar Raspati (dram) menerapkan konsep atau racikan musik yang lebih kental akan nuansa rock berbalut emo, hasil bauran berbagai referensi musik dari para personelnya.

Menurut mereka, justru karena beda referensi, jadi terkumpul banyak ide yang membentuk arah musikal di “Toxic”. Rere hadir dengan suara vokal lembutnya, Rizky dan Dicky dengan karakter permainannya yang kuat, Fajar dengan ketukannya yang cenderung ngebut, plus ditambah suara-suara elektronik yang dieksekusi Icul. 

“Semua jadi satu. Beda bukan berarti nggak bisa bersama kan,” ujar pihak band menegaskan.

.

.

Sebenarnya, Decoy mulai menggarap materi “Toxic” sudah cukup lama. Tersimpan dalam bentuk demo dan belum ada judul. Ketika Rizky dan Fajar akhirnya menemukan Rere, lalu menyusul Ijul dan Dicky bergabung pada Juni lalu, “Toxic” akhirnya bisa dirampungkan dengan konsep yang lebih fresh.

“Dulu saat bikin versi demo, kami habiskan waktu seharian di Autumnwave Record, salah satu studio rekaman rumahan di Bandung. Dan akhirnya tahun ini, kami memutuskan untuk pindah tempat rekaman ke Fwords Record dan memutuskan merekam ulang semuanya dengan aransemen tambahan yang membuat ‘Toxic’ ini jadi lebih fresh musiknya,” beber Fajar mengungkapkan.

Setelah menuntaskan proses mixing dan mastering dalam jangka waktu hampir sebulan, Decoy pun memutuskan untuk memproduksi versi video musiknya, yang benar-benar digarap secara mandiri. Memaksimalkan SDM yang ada, dan tidak ada campur tangan pihak lain secara profesional. Dimulai dari survei dan menyewa studio, sewa alat, transportasi, sampai ke tahap akhir dari pengolahan video (editing). Mereka melakukan pengambilan gambar untuk “Toxic” selama kurang lebih 12 jam, yang dilakukan di Studio Flash Foundation yang berlokasi di kawasan Antapani, Bandung.

Disamping mempromosikan “Toxic”, saat ini Decoy juga sudah mulai mengarahkan konsentrasinya ke penggarapan album. Sejauh ini sudah ada beberapa lagu yang telah siap, tinggal melanjutkan materi-materi lainnya yang sempat tertunda. “Rencananya di tahun ini kami bisa meluncurkan album perdana kami, yang bisa jadi modal awal untuk terjun lagi ke tahap yang lebih serius. Semoga!” (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *