Nih, Cara BLESS THE KNIGHTS Mengeksekusi Single “Mjölnir”

Single terbaru dari unit progressive metal berkontur djent asal Jakarta ini sebelumnya telah resmi diedarkan tepat sebulan lalu, via berbagai platform digital macam Spotify, Deezer hingga YouTube. Nah, kali ini dirasa kurang lengkap jika tidak menyertainya dengan sebuah video ‘guitar playthrough’ atau visualisasi memainkan kembali komposisi tersebut secara presisi dalam perspektif instrumen gitar. 

Kenapa Bless the Knights merasa perlu untuk memproduksi dan merilis versi ‘guitar playthrough’ single “Mjölnir”?

“Ini justru momen paling vital dari perilisan ‘Mjölnir’,” seru Fritz Faraday, gitaris sekaligus konseptor utama Bless the Knights, menegaskan.

Karena menurutnya, mungkin saat ini sudah banyak yang tahu tentang Bless the Knights, tapi mereka belum tahu formatnya sudah berubah. Atau misalnya, mereka sudah mendengarkan “Mjölnir” tapi masih penasaran apakah lagu tersebut benar-benar bisa dimainkan? Jika dituangkan ke permainan gitar kompleksitasnya seperti apa?

“Terlepas dari anggapan orang-orang bahwa musik gue terlalu progresif-lah, nggak djent-lah, tapi banyak juga orang yang agresif terhadap permainan gitar shred. Buktinya, hanya dengan rilisan versi audio stream kemarin saja, tanggapannya bagus. Mudah-mudahan dengan video ini bisa lebih antusias. Dan dengan video ini pula, gue bakal melebarkan jangkauan publisitasnya ke forum-forum gitaris, terutama di komunitas djent yang lebih berskala dunia,” papar Fritz yang menggarap produksi video ‘guitar playthrough’ “Mjölnir” tersebut di kawasan Cibubur, bekerja sama dengan Nous Room Productions.

.

.

Seperti diketahui, ‘mjölnir’ merupakan sebutan untuk senjata palu dari Thor, karakter fiksi pahlawan super yang dipopularkan Marvel Comics. Nah, seperti palu Thor yang bisa kembali ke tangannya setelah dilontarkan ke musuh, pendiri, konseptor sekaligus gitaris Bless the Knights, Fritz Faraday ingin bandnya itu juga bisa ‘kembali’ ke tangannya. Dalam arti, kali ini benar-benar sesuai dengan visi yang diinginkannya. Maklum, perjalanan karir band ini sebelumnya lumayan sering didera pergantian personel sejak terbentuk pada 2009 silam. 

“Gue ingin menunjukkan ‘palu’ gue balik. Itu basic (pemikiran) yang mendorong gue untuk bikin karya ini. Gue harus mempertahankan ciri dari Bless the Knights, yaitu agresif, teknikal, tapi catchy di reff-nya,” seru Fritz berusaha meyakinkan.

Lebih jauh, Fritz menyebut single “Mjölnir” yang dieksekusi dalam format instrumental tersebut sebagai pencapaian terbaiknya sejauh ini. Tidak hanya pola komposisi yang digarap cukup lama, namun juga dalam hal produksi. Ia mengaku sampai harus bolak-balik revisi untuk mendapatkan detail suara yang dihasratkannya, saat menjalani tahapan mixing dan mastering

Untungnya, di sisi lain Fritz kali ini mendapat sentuhan magis dari Ricky Aprianto dari Rostels Records, yang memoles sound “Mjölnir” menjadi lebih heavy, sekaligus sinematik. Fritz merasa bersyukur karena akhirnya dipertemukan dengan Ricky yang ia anggap jenius dan paham betul apa yang ia inginkan. Khususnya dalam pengolahan tata suara rekaman.

Selain itu, “Mjölnir” juga ditegaskan Fritz tetap berada di jalur Bless the Knights yang cenderung ke corak djent, sebuah ‘ranting’ dari ranah progressive metal. “Gue sangat percaya diri menyebutnya djent, tapi tetap lebih teknikal. Tapi ya, mungkin berbeda dengan djent yang dimaksud orang-orang. Benang merah musik gue di progressive, dan musik gue terus berkembang.”  

Sedikit menengok ke belakang, cikal bakal Bless the Knights terbentuk pada 2009, digagas oleh Fritz dengan nama awal Blitzkrieg. Setahun kemudian merilis album debut ber-genre metal progresif bertajuk “Energy of Anger”. Awal 2016, nama Blitzkrieg lantas diubah menjadi Bless the Knights, yang juga dijadikan judul album keduanya. Salah satu lagu di album tersebut, yakni “Surrounded by Idiots”, menghadirkan permainan gitar dan bass dari Eet Sjahranie (edane) dan Arya Setyadi (Voodoo/Wolfgang). Pada 2016, Bless the Knights masuk nominasi AMI Awards untuk kategori “Karya Metal Terbaik”. Pada 2018, album “Dunamous” dirilis, antara lain via label independen asal Hongkong, Nowed Records, yang sekaligus menjadi publisher internasional dari karya-karya terbaru Bless the Knights. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *