EDI KEMPUT, Tentang Album Solo dan Polemik Musik dalam Islam

Kegelisahan yang melahirkan sebuah karya rekaman album. Itulah latar belakang motivasi yang mewujudkan “Delusi… Kill The Syndrome !!!”, sebuah album solo berformat instrumental dari Edi Kemput, seorang gitaris senior yang pernah berkibar di era akhir ‘80an hingga ‘90an bersama band rocknya, Grassrock.  

Kegelisahan musisi yang punya nama lengkap Tri Witarto Edi Purnomo ini mengarah kepada fenomena beberapa orang yang pernah punya nama besar, tapi selalu larut dalam kebesaran masa lalunya. Sementara menurut Edi, ia melihat kemunculan musisi generasi masa kini semakin maju, semakin bagus dan sangat potensial.

“Jadi harusnya kita-kita yang pernah berjaya di masa lalu nggak stuck di sini. Paling tidak kita harus menunjukkan bahwa kita masih bisa berkarya dan masih bisa menunjukkan bahwa sebagai musisi, kita masih mampu berbicara di belantika musik. Ya, tentunya sesuai dengan kemampuan, sesuai dengan apa yang kita punya tanpa harus bersandar pada kebesaran nama masa lalu,” tutur Edi kepada MUSIKERAS, semangat.

“Delusi… Kill The Syndrome !!!” sendiri memuat sembilan komposisi melodius yang kental akan nafas rock. Di antaranya bertajuk “Song for Janna”, “Indonesia Berduka” dan “Rindu yang Teramat Dalam”, tiga lagu yang disebut Edi paling memuaskan hasil akhirnya. 

Edi menggarap karya solo pertamanya itu di tengah pandemi, selama kurang lebih empat bulan. Ia memanfaatkan waktu luang, setelah sejumlah jadwal manggung bersama Grassrock maupun dengan kelompok musik lainnya seperti Magenta dan Oni & Friends dibatalkan atau ditunda akibat pembatasan kegiatan sosial.

Sebagai gitaris, walaupun “Delusi… Kill The Syndrome !!!” juga bisa dikategorikan sebagai album instrumental yang berorientasi gitar, namun saat penggarapannya, Edi justru lebih banyak mendengarkan komposisi-komposisi dari beberapa band instrumental saat ingin memancing inspirasi, ketimbang mendengarkan karya gitaris. Salah satunya adalah band jazz fusion asal AS, Yellowjackets.

“Bukannya mau sok jazz ya, tapi ide-ide dari grup seperti Yellowjackets itu luar biasa. Itu yang saya dengar,” cetusnya terus-terang.

.

.

Dalam mengerjakan sebuah album solo, bagi Edi, juga memberinya kepuasan tersendiri, khususnya kebebasan dalam berekspresi. Sangat berbeda dibanding mengeksekusi album dalam sebuah band, yang biasanya melibatkan banyak kepala dan pemikiran. “Buat saya ini sangat mudah. (Karena) Semua ide bisa langsung saya tuangkan, lewat ekspresi saya di gitar.”

Tidak hanya itu. Momentum lahirnya “Delusi… Kill The Syndrome !!!” ini juga membuat Edi akhirnya merasa lengkap sebagai musisi, setelah sekian lama berdedikasi di kancah musik Tanah Air, dengan jam terbang yang cukup tinggi bersama bandnya maupun sebagai session player

“Paling tidak seandainya nih, saya harus meninggalkan semuanya, saya bisa meninggalkan karya yang bisa dinikmati oleh sahabat-sahabat saya, keluarga saya, orang-orang yang selama ini atau pernah mengenal sama saya,” ucapnya.

Tapi dengan kehadiran sebuah album solo, Edi Kemput yang bisa dibilang sudah kenyang makan asam garam dunia rekaman serta panggung mengaku tetap merasa masih menghadapi tantangan. Khususnya dalam hal mempertanggungjawabkan hasil karyanya.

“Saya harus bisa menunjukkan bahwa saya bukan orang yang hebat di belakang panggung saja. Artinya, (mungkin orang menganggap), nih orang jago tapi hanya di rekaman. Ini tantangan buat saya, kalau seandainya saya nanti ada show, promo atau konser solo. Ini yang berat. Tapi mudah-mudahan bisa saya lewati. (Karena) Bagaimana pun kan saya (memang) main beneran (di rekaman itu),” ujar Edi mencoba merendah. 

Di luar kegiatannya bersama Grassrock dan sebagai session player, Edi sendiri selama kurang lebih 17 tahun terakhir juga fokus mendalami dan menyiarkan ajaran agama Islam. Dan ia salah satu musisi yang tidak ingin direpotkan dengan polemik seputar status musik dalam agama Islam, dimana sebagian pihak menganggapnya sebagai kegiatan yang sesat atau haram. Salah satunya dari pernyataan heboh Uki, mantan gitaris Noah, belum lama ini. Walaupun sepanjang pengetahuan Edi, bukan hanya Uki yang pernah melontarkan opini seperti itu.    

“Masalah musik itu haram atau nggak sebenarnya sudah case closed,” seru Edi menegaskan. Baginya, pertentangan itu sudah selesai. Sebagaimana misalnya, orang Islam mempermasalahkan qunut atau tidak qunut dalam melakukan ibadah sholat subuh.

“Itu kan tergantung siapa yang mau melakukan. Orang yang biasa melakukan qunut ya tentunya boleh saja. Tapi kalau ada yang menganggap qunut itu tidak ada di jaman Rasulullah SAW ya silakan (tidak melakukannya)…. Begitu pun dalam hal musik ini. Karena yang mengharamkan musik itu rata-rata dari teman-teman Ustadz dari kelompok Salafi ya. Uki ini ngaji di situ. Menurut saya, ini masalah pilihan aja. Saya di sini tidak berfatwa bahwa musik itu halal. Nggak. Tapi buat saya, musik itu masih bisa saya buat, masih bisa saya mainkan. Karena kalau menurut ulama-ulama yang membolehkan, musik ini seperti qalam, atau seperti perkataan. Seandainya kita mengatakan sesuatu yang jelek, ya bisa jadi itu haram. Atau mengajak orang lupa kepada Allah Ta’ala… ya itu pasti haram. Tapi kalau dengan bermusik orang jadi dapat hidayah atau dengan mendengarkan musik kita membuat orang semakin dekat kepada Allah… so what gitu? Yang penting nggak perlu menghakimi orang-orang yang belum bisa meninggalkan musik.”

Bersama Grassrock, Edi mengawali karir musiknya sejak Mei 1984, yang diawali penampilan di berbagai panggung membawakan lagu-lagu milik band rock progresif legendaris asal Inggris, Yes. Lalu sempat menjuarai “Djarum Super Rock Festival 1986” yang diselenggarakan oleh promotor Log Zhelebour dan mendapat kesempatan mendampingi tur 10 kota band rock legendaris, God Bless. Sejauh ini sudah merilis album “(Peterson) Anak Rembulan” (1990), “Bulan Sabit” (1992), “Grass Rock” (1994), “Menembus Zaman” (1999) serta satu single dalam album kompilasi “Rock Kemanusiaan” yang berjudul “Prasangka”. Pada akhir Agustus 2018, lagu Grassrock “Damai Indonesiaku” yang termuat di album kompilasi “Musikeras Cracked It!” rilisan MUSIKERAS berhasil masuk deretan nominasi AMI Awards untuk kategori “Duo/Grup/Kolaborasi Rock”. 

Saat ini, Grassrock sendiri masih berusaha menyelesaikan materi album terbarunya, yang kembali tertunda akibat pembatasan pandemi. Selain itu, mereka juga terhadang kesulitan finansial untuk membiayai produksi album tersebut. “Karena kami jarang manggung, tapi tetap harus mengeluarkan biaya untuk produksi. Semoga ada sponsor yang tertarik bekerja sama dengan Grassrock,” ujar Edi terus-terang. 

Album “Delusi… Kill The Syndrome !!!” sudah bisa didengarkan lewat berbagai platform digital streaming serta dalam format fisik (CD). (mudya mustamin)

Kredit foto: Tigor Lubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *