JAPA MANTRA: Rapalkan Mantra Rock Indonesia

Atas keinginan menghidupkan jiwa rock klasik, Japa Mantra rilis album debut “Mantra I” yang rangkum kontradiksi kehidupan dalam distorsi era 70-80-an.
japa mantra
JAPA MANTRA

Japa Mantra adalah energi baru dalam skena musik rock Tanah Air. Band asal Yogyakarta bentukan 2024 ini dicetuskan kelahirannya atas dasar keinginan para personelnya untuk memperdengarkan kembali kejayaan musik rock.

Khususnya rock Indonesia dari era 70-an dan 80-an yang pernah melesatkan nama-nama legendaris seperti AKA, SAS hingga God Bless lewat balutan bunyi yang organik.

Seperti yang telah mereka tuangkan lewat album debutnya, bertajuk “Mantra I”. Sebuah karya rekaman yang dibekali 10 amunisi rock sarat energi.

Mengapa harus rock era itu? “Kami tertarik dengan rock Indonesia era 70-an karena identitasnya yang kuat,” seru pihak Japa Mantra kepada MUSIKERAS, menegaskan alasannya.

Musisi-musisi saat itu, menurut mereka, memang banyak terinspirasi dari band-band besar mancanegara seperti Led Zeppelin, Black Sabbath atau Deep Purple. Tapi mereka tidak sekadar meniru.

“Mereka mengolah semua pengaruh itu dengan pendekatan yang sangat lokal, sehingga lahir karakter yang khas—mulai dari riff yang dipengaruhi nuansa Melayu dan dangdut, sampai tone gitar yang begitu terdengar langsung terasa sebagai rock Indonesia.”

Menurut Japa Mantra yang diperkuat vokalis Lukman Marjabinie, gitaris Gigih Prayogo dan Danudjaditya, bassis Bintang Renjana serta dramer Yuda Hasfari ‘Bable’ Sagala, justru di situlah letak keistimewaannya.

Tantangannya tentu datang dari karakter itu sendiri. Band ini ingin menangkap semangat rock Indonesia 70-an tanpa terjebak menjadi band yang hanya bernostalgia.

“Karena itu, kami banyak bereksperimen untuk menemukan titik temu antara akar rock klasik dan pendekatan yang lebih relevan dengan hari ini.”

“Hal itu juga sempat jadi bahan diskusi panjang di tahap produksi: apakah sound album ini sebaiknya dibuat benar-benar vintage atau diberi sentuhan yang lebih modern?”

Pada akhirnya Japa Mantra memilih opsi kedua. Mereka ingin album “Mantra I” tetap membawa ruh rock Indonesia era 70-an, tetapi dikemas dengan produksi yang lebih segar agar bisa dinikmati pendengar masa kini.

“Di luar urusan musikal, tantangan lainnya adalah bagaimana mengajak orang untuk membuka diri terhadap warna musik yang mungkin sudah jarang mereka dengar.”

Distorsi Kontras

Secara musikalitas, “Mantra I” menjadi mesin waktu yang membawa pendengar bernostalgia ke era keemasan rock lawas melalui karakter sound organik khas era 70-an dan 80-an.

Japa Mantra secara eksplisit mengeksplorasi peleburan energi garage rock yang mentah, agresi dari thrash metal, kedalaman rasa musik blues, keliaran rock n’ roll hingga balutan nuansa psikedelik.

Formula ini terinspirasi dari band rock legendaris seperti AKA, SAS hingga God Bless era awal, yang kemudian dijahit oleh Japa Mantra menjadi satu benang merah yang segar, tanpa menggerus esensi rock murni dan berkarakter di setiap lagunya.

Untuk memberikan dinamika di tengah gempuran distorsi, Japa Mantra menyelipkan dua lagu rock balada di dalam album ini.

Kehadiran dua trek tersebut sengaja dihadirkan sebagai kontras yang sempurna, memberikan ruang bernapas sekaligus mempertegas kesatuan album yang secara keseluruhan didominasi oleh tensi tinggi dan ketukan kencang.

Lewat “Mantra I” juga, Japa Mantra tidak hanya sekadar bermusik, melainkan merapal untaian narasi tentang realitas. Dalam rapalan liriknya, mereka menyuarakan tema-tema yang sarat akan pesan sosial, spiritual serta humanisme.

Album tersebut dikemas sebagai sebuah perisai cerita yang menangkap berbagai sisi kehidupan, mulai dari kritik tajam terhadap kinerja pemerintah, kontemplasi mendalam mengenai arti hidup, hingga hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhannya.

Tidak berhenti di situ, Japa Mantra juga memotret fenomena alam, dinamika hubungan antar manusia serta berbagai inkonsistensi fenomena sosial di dunia saat ini.

japa mantra

Eksplorasi Spontan

Proses kreatif di balik penggarapan “Mantra I” sendiri berlangsung kurang lebih sama seperti band-band pada umumnya. Japa Mantra mengungkapkan, kadang ada personel yang bawa materi mentah terus digarap bersama dalam sebuah sesi workshop.

Terkadang, ada juga lagu yang lahir hasil dari proses jamming di studio, atau bahkan yang baru terpikirkan justru saat menjalani proses rekaman.

“Bedanya di Japa Mantra, kalau ada yang bawa materi, hampir nggak pernah berakhir sama persis kayak versi awalnya. Justru setelah dibahas bareng, lagunya bisa berubah jauh banget,” urai band ini terus-terang.

“Dari yang awalnya A, bisa berubah menjadi X. Bahkan pernah satu ide berkembang menjadi dua lagu yang berbeda.”

Khusus di “Mantra I”, ada komposisi berjudul “Mantra” yang diakui Japa Mantra sebagai trek yang paling menantang secara teknis. Alasannya, proses peracikannya cukup berbeda dibanding lagu-lagu lainnya.

Karena biasanya, mereka mengembangkan materi lagu lewat sesi workshop terlebih dahulu hingga aransemennya benar-benar matang sebelum masuk studio.

“Tapi untuk ‘Mantra’, kerangka lagunya memang sudah ada, namun aransemen lengkapnya justru dibangun langsung di ruang rekaman.”

Jadi selama proses perekaman, seluruh personel masih terus bereksplorasi untuk mencari bentuk yang paling pas. Isian gitar, beberapa fill sampai lirik pun baru berkembang setelahnya.

“Karena banyak keputusan musikal dan teknis yang diambil secara spontan di studio, lagu ini menuntut kami untuk lebih peka dan cepat beradaptasi saat rekaman.”

“Justru proses yang serba organik itu yang membuat ‘Mantra’ menjadi salah satu lagu yang paling menantang sekaligus paling berkesan buat kami!”

Media Hiburan

Sepanjang proses rekaman membutuhkan waktu selama kurang lebih enam bulan. Lumayan lama lantaran harus mengakali kendala perbedaan jadwal para personel. Plus, sang pembetot bass masih harus bolak-balik Yogayakarta-Bogor.

Keseluruhan sesi rekaman dieksekusi di Watchtower Records, yang kebetulan merupakan studio milik Bable Sagala, dramer Japa Mantra. Termasuk untuk tahapan pemolesan mixing dan mastering.

Sebenarnya, “Mantra I” bisa dibilang merupakan karya utuh pertama dari Japa Mantra.

Karena sebelumnya, mereka hanya merilis maxi-single bertitel “Sublimasi Gradasi” (21 November 2024) berisi dua lagu, yakni “Gelap Benderang” dan “Manusia Pura-pura” yang pada akhirnya juga dimasukkan ke dalam “Mantra I”.

“Jadi maxi-single itu semacam teaser menuju album ini. Bedanya, di ‘Mantra I’ konsep musikalnya terasa jauh lebih matang. Kami punya ruang lebih luas buat mengeksplorasi berbagai warna musik, menyusun dinamika antarlagu, dan membangun identitas sound yang benar-benar kami inginkan.”

“Jadi, kalau rilisan sebelumnya lebih seperti perkenalan, ‘Mantra I’ adalah gambaran yang lebih utuh tentang seperti apa karakter musik Japa Mantra.”

Melalui karya “Mantra I”, Japa Mantra menegaskan keinginan mereka untuk menjadikan musik rock tidak hanya sebagai media hiburan, melainkan juga sebagai wadah pengingat serta penyampai pesan kehidupan yang kuat dan mendalam bagi para pendengarnya.

Sejak 8 Juni 2026 lalu, album “Mantra I” telah terhidang di berbagai gerai layanan musik digital. Termasuk di tautan kanal YouTube Music ini. (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan lagu:

  1. Gelap Benderang
  2. Skak!
  3. Wahn
  4. Ring of the Sun
  5. Syiar Sang Penghasut
  6. Manusia Pura-Pura
  7. El Nino
  8. Tanahku Sudah Dekat
  9. All Is Love
  10. Mantra
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts