HENOHENOMOHEJI di Single “Phosphophyllite”, Kini Lebih Distortif

Unit pop rock asal Bandung ini sedikit memberi angin perubahan yang menarik di single terbarunya, “Phosphophyllite”. Nuansa musik anime di karya-karya Henohenomoheji sebelumnya kini terpangkas oleh suntikan modern rock di racikan aransemennya, dimana lagu mereka yang kental akan kontur pop dibiarkan terbalut distorsi berat yang lumayan padat. 

“Untuk referensi musiknya, mungkin bisa dibilang single ini banyak ter-influence band Alter Bridge dan A Perfect Circle,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, memberi klarifikasi. 

Dalam tuturan liriknya, “Phosphophyllite” sendiri bercerita tentang kisah seseorang yang ingin berguna pada orang-orang di sekitarnya. Namun perbuatannya malah membuat keadaan memburuk. Liriknya mengajak pendengar untuk mengingat bahwa kadang sebuah perbuatan atau niat yang baik belum tentu selalu benar. Liriknya terinspirasi dari karakter bernama Phosphophyllite dari sebuah seri anime berjudul “Land of the Lustrous” (Houseki no Kuni) yang juga menceritakan seseorang yang ingin berguna namun keadaan justru berakhir sebaliknya.

“Inilah yang membuat kami ingin memberikan berbagai nuansa pada aransemen musiknya agar para pendengar bisa ikut merasakan apa yang tokoh dalam lagu ini alami. Mulai dari saat ia bersemangat ingin menjadi berguna, lalu masa-masa di mana ia justru semakin terpuruk, dan pada reffrain-nya berupa pertanyaan yang menandakan kalau perjuangannya belum selesai atau bahkan tidak akan pernah selesai,” ujar Henohenomoheji lagi, melanjutkan penjelasannya.

.

.

Lagu “Phosphophyllite” sebenarnya bukan karya yang benar-benar baru, melainkan sudah ada sejak 2018 lalu dan bahkan sudah sering dimainkan secara live di atas panggung. Namun baru tahun ini, Eva Lestari a.k.a. Kazu (vokal), Ivan Fabian Devota (gitar), Muhammad Dwi Nugraha a.k.a. Aga (bass) dan Titan Arifin (dram/perkusi) mendapatkan kesempatan untuk merekamnya di studio, tepatnya di Devotarock Studio milik Ivan, gitaris Henohenomoheji sendiri. Eksekusi rekamannya berlangsung lancar dan tidak terlalu rumit, dan hanya berlangsung selama seminggu.

“Karena ketika akan direkam, seluruh aransemen lagu ini sudah solid dan tidak banyak perubahan. Yang memakan banyak waktu justru saat proses pembuatan aransemennya, karena lagu ini banyak mengalami penyesuaian, dikarenakan sempat ada pergantian personel dan proses rekaman juga sempat tertunda karena pandemi Covid-19. Tapi Alhamdulilah, di tahun 2021, single ini akhirnya rampung dan bisa dirilis.”

Sebelum merilis “Phosphophyllite”, Henohenomoheji yang sudah menggeliat sejak 2011 silam ini sudah pernah merilis dua album mini (EP) berjudul “What:If[s]” (2013) dan “Start” (2018) serta dua buah single berjudul “Haruskah” (2016) dan “Bias Ilusi” (2018). Tahun lalu, sebenarnya mereka merencanakan untuk merilis album penuh, namun tertunda lantaran terhadang pandemi. “(Jadi) Untuk sementara kami akan merilis single dahulu satu per satu. Kebetulan materi lagu orisinal sudah ada beberapa, tinggal digarap dan direkam saja. Bila memungkinkan nantinya kami juga akan merilis beberapa video klip baru.”

“Phosphophyllite” kini bisa didengarkan di berbagai platform digital penyedia jasa dengar musik seperti Spotify, iTunes, Amazon Music, Joox, Deezer, YouTube, Napster, Pandora dan TikTok. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *