“I Am Hanna”, Adalah Kebrutalan Slamming Death Versi MANNEQUIN GORETUARY

Bagi banyak musisi, pandemi telah membatasi ruang gerak untuk berekspresi di panggung. Tak ada lagi keriuhan konser atau gigs yang kerap bermandikan peluh, dimana sebuah band bisa merasakan keseruan berinteraksi langsung dengan para pemujanya. Tapi di sisi lain, pandemi ternyata juga membawa hal positif. Salah satunya adalah ketersediaan banyak waktu luang untuk menghasilkan karya. Seperti yang dirasakan duo slamming/groove brutal death metal asal Yogyakarta ini.

Sejak akhir Agustus 2021 lalu, Mannequin Goretuary yang dimotori Riry Yukie (gitar/bass/vokal) dan Riki Setyawan (dram) akhirnya membuahkan sebuah album debut bertajuk “I Am Hanna” yang dirilis di bawah naungan label Dismembered Records. Album tersebut beramunisikan delapan komposisi horor yang mengumbar kengerian selama lebih dari setengah jam, yang lahir dari kreativitas mereka selama menjalani pandemi sejak pertengahan tahun lalu.

“Pandemi cukup membawa sisi positif, dalam artian untuk penulisan materi album, dimana kami dipaksa untuk tetap di rumah, sehingga cukup banyak waktu untuk menulis materi. Semua materi selesai di akhir tahun, dan rekaman dimulai awal 2021 secara independen di rumah gitaris kami. Kecuali dram kami merekamnya di studio. Untuk awal rekaman, kami memfokuskan untuk menggarap dua lagu sebagai modal untuk penawaran ke beberapa label, sembari tetap merekam materi lain. Proses rekaman berlangsung kurang lebih satu bulan. Proses yang cukup memakan waktu mungkin adalah proses mixing, dimana harus merevisi hingga berkali-kali,” beber Mannequin Goretuary kepada MUSIKERAS, panjang lebar.  

Seperti genre yang sudah disebutkan di atas, Riry dan Riki memang meluapkan komposisi serta riff-riff yang membanting yang dikombinasikan dengan rentetan blastbeat yang cepat. Namun ada yang berbeda dalam ungkapan lirik. Mengambil konsep dan tema sesuai dengan nama mereka, album ini menceritakan tentang perjalanan boneka (mannequin) hidup bernama Hanna yang mencari jati dirinya.

“Kami ingin mengangkat sesuatu yang berbeda, dimana kebanyakan musik slamming/brutal mengangkat tema kekerasan, gore, kebrutalan, dan semacamnya. Kami ingin sesuatu yang lebih dalam, yakni mengaplikasikan dan menggabungkan sebuah cerita yang berkesinambungan ke dalam setiap lagu, meski unsur gore tetap kami pertahankan, agar tidak menghilangkan esensi dari musik slamming/brutal itu sendiri.”

Kisah Hanna dimulai dari “Sinopsi”, single pertama yang sekaligus menjadi sebuah sinopsis dari ‘perjalanan’ Hanna. Lalu konsep itu rencananya akan terus berlanjut ke album-album berikutnya. Mannequin Goretuary mencoba menciptakan sebuah cerita fiksi, dan lagu-lagu dalam album mereka itu adalah rentetan cerita dari perjalanan dunia kelam Hanna.

“Jadi, ‘I Am Hanna’ ibaratnya adalah sebuah judul cerita, dan lagu-lagu di dalamnya adalah delapan episode dalam cerita itu. Kami juga mencoba menyisipkan beberapa misteri kecil yang mungkin baru akan disadari orang-orang dalam beberapa waktu ke depan.” 

.

.

Selain Riry dan Riki, penggodokan “I Am Hanna” juga melibatkan dua vokalis tamu yakni Andri Suryanto yang merupakan mantan vokalis band-band bengis Tanah Air seperti Lumpur, Digging Up, Turbidity hingga Bleeding Corpse serta Calin Paraschiv, gitaris sekaligus vokalis dari monster slamming brutal death asal Portugal, Analepsy. Andri mengeksekusi lagu “A Story Begin” yang merupakan cerita pembuka untuk perjalanan Hanna. Sementara Calin kebagian menghajar tiga trek sekaligus, yaitu “Mindless Torture”, “Hunting Down The Suspect” dan “Agonize For Revenge”.

“Dari awal kami (memang) berencana untuk mengajak salah satu vokalis lokal, dan satu vokalis dari luar. Andri Suryanto, kami kenal baik dengan beliau, salah satu vokalis brutal terbaik di Indonesia dan berpengalaman. Jadi ketika mencari vokal tamu dari Indonesia, beliau yang terpikirkan untuk pertama kali. Untuk Calin Paraschiv, kami pikir memang akan sangat pas sebagai vokal tamu, seorang player dari salah satu monster slamming brutal death terbaik, yakni Analepsy, ditambah karakter vokal Calin yang berbeda dari Andri dan vokalis kami,. Itu akan menjadi sesuatu yang pas kami rasa, tiga karakter vokal yang berbeda dalam satu album, membuat komposisi album menjadi lebih kompleks.” 

Mannequin Goretuary sendiri terbentuk pada 2018 lalu dan langsung menetapkan jalur di kebrutalan slamming death metal, yang antara lain terpengaruh gaya band-band luar seperti Abominable Putridity (Rusia), Traumatomy (Rusia), Extermination Dismemberment (Belarus) dan Analepsy. Sempat diperkuat empat personel sebelum vakum pada akhir 2018 lantaran para personel disibukkan pekerjaan masing-masing. Setelah berselang satu setengah tahun, Mannequin Goretuary berkumpul kembali dan menghasilkan single “Sinopsi”. Sayangnya, setelah itu dua personelnya – Setyo ‘Yoyok’ (bass) dan Heri Nurdin (vokal) – harus keluar dari band. Riry dan Riki lantas bertekad meneruskan kobaran semangat Mannequin Goretuary walau hanya berdua. Setidaknya hingga mereka bisa merilis album debut.

“Dengan dua orang player saja, akan lebih efisien dalam penulisan materi maupun penggarapan dan rekaman album, karena memang kebetulan gitaris kami bisa sekaligus mengisi bass dan vokal saat rekaman,” cetus mereka beralasan.

Selain rilisan berformat fisik, album “I Am Hanna” juga bisa didapatkan via berbagai platform digital streaming seperti Spotify, Joox, Amazon Music, Youtube Music hingga iTunes. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *