IQIF Kini Memompa Adrenalin Tanpa STEREOCASE

Walau sarat tantangan dalam hal teknis, tidak menyurutkan semangat solois alternative rock asal Jakarta ini untuk mewujudkan karya-karya personalnya. Usai memperdengarkan empat single sebelumnya, yakni “Before It’s Too Late” dan “Burn Me Down” pada Maret 2020, lalu “Twisted” di Februari 2021 dan “Falling” pada Juli 2021, IQIF akhirnya mempersembahkan karya rekaman album penuhnya yang diberi tajuk “#1”, bersamaan dengan peluncuran single baru berjudul “Humane” pada 12 Oktober 2021 lalu.

Album “#1” sendiri sempat tertunda satu tahun dari rencana awal lantaran terhadang pandemi. Ada sembilan lagu yang diserakkan, seluruhnya kental akan nafas rock yang diberi ragam bumbu seperti garage, elektronik dan bahkan hip hop. Tujuannya, adalah untuk membentuk ‘rasa’ yang unik agar terdengar menarik dan powerful.

Tentunya tidak gampang buat musisi yang juga dikenal sebagai penggebuk dram di unit alternatif Stereocase ini, dalam mengeksekusi formula tersebut. Apalagi sebagian besar ia lakukan sendiri. Dalam hal kreatif, IQIF yang punya nama asli Rifqi Fuad ini harus menghadapi tantangan, dimana ia harus memikirkan segala aspek dalam musik atau pun lagu-lagunya, dari hulu ke hilir, sendirian.

.

.

“Ketika gue di Stereocase dulu, ketika ada ide awal tuh melanjutkan ide tersebut dengan jamming atau personel lain ikut jump in dengan masukan atau solusi. Kalau sekarang, progresi, notasi, komposisi, detail sampai dengan lirik harus gue pikirin (sendiri) semua. Tapi ini adalah proses yang gue embrace banget dan menurut gue super seru. Gue banyak belajar dalam prosesnya,” seru IQIF kepada MUSIKERAS, semangat.

Karena aslinya adalah seorang dramer, maka tantangan dalam hal teknis bagi IQIF saat menjalani produksinya sangat terasa, lantaran ia harus memainkan dan merekam sendiri keseluruhan instrumentasi. Di luar bagian yang melibatkan kolaborator. 

“Jadi banyak banget pemahaman baru yang harus gue pelajari. Tidak cuma dari instrumen lain, tapi dari teknis seperti mixing misalnya, atau teknik vokal, dan lainnya. (Sekitar) 75% instrumen dalam album ini gue take sendiri. Cuma memang lagi-lagi dalam album ini gue mengutamakan banget kenyamanan gue. Jadi isian pun gak mau terlalu neko-neko. Ketika gue mau take sendiri ya sendiri, ketika gue merasa butuh unsur lain baru gue kolaborasi dengan teman-teman yang gue rasa cocok untuk kebutuhannya.”

Ya, selain IQIF, ada beberapa musisi yang familiar di skena indie yang dilibatkan. Ada Rishanda Singgih yang memainkan porsi bass di lagu “Humane”, “False Love” serta “Dont Give A …”. Lalu ada pula Iga Massardi (Barasuara) yang menyumbangkan permainan gitarnya di lagu “Dont Give A …”, kemudian gitaris Devinza Kendranata untuk sebagian part di “False Love” dan “Barely Make A Sound”, gitaris Felix ‘Bulix’ Tri Kurnia (Laid This Night) untuk bagian solo pada coda “Humane” serta Adityar Andra yang menjadi co-producer untuk beberapa bagian instrumentasi di album “#1” tersebut.

Dalam konteks musikalitas, IQIF meracik konsep album ini dengan terapan elemen rock yang mampu memompa adrenalin para pendengarnya. Namun di sisi lain, juga dibungkus dengan melodi yang manis dan menawan dan dihiasi dengan sentuhan instrumen elektronik yang menghasilkan lagu-lagu yang menarik dan berbeda. Untuk mendapatkan rasa itu, IQIF meramunya dari berbagai sumber inspirasi yang variatif.

Secara personal, IQIF menelan banyak asupan musik dari band-band seperti The Beatles, Led Zeppelin, Incubus, Dave Matthews, Nine Inch Nails hingga Electric Lights Orchestra. Tapi khusus untuk pembuatan “#1”, IQIF lebih banyak terpengaruh garapan musik dari band-band atau musisi generasi setelahnya macam The Strokes, Jack White, Noel Gallagher, Blur, Børns, The Kills sampai dengan Kanye West.

“Banyak banget dan variatif. Nggak mungkin gue tulis semuanya,” cetus IQIF meyakinkan.

Album “#1” sendiri dirilis di bawah naungan label Vurplay dan sudah tersedia di berbagai platform digital streaming sejak 12 Oktober 2021 lalu, bertepatan dengan bulan ulang tahun IQIF. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *