Kisah Getir POWERSLAVES dalam Menemukan Cintanya Kembali

(Judul Buku) Find Our Love Again – 30 Tahun Rekam Jejak Powerslaves – (Penulis) Riki Noviana – (Penerbit) One Peach Media – (Cetakan) Oktober 2021

.

Tidak mudah mempertahankan karir sebuah band, apalagi hingga menembus tiga dekade. Bisa dihitung jari yang bisa berjuang selama itu. Tapi Powerslaves – walau bisa dibilang bukan band arus utama di kancah rock Tanah Air jika dibandingkan dengan sepak terjang band seperti Godbless, Slank, Dewa 19 atau Jamrud – punya magnet luar biasa di hati penggemarnya. Kehadiran band rock asal Semarang yang memulai geliatnya sejak 1991 silam ini selalu dinanti, bahkan hingga hari ini.

Selama 30 tahun, jalan curam berkerikil tajam dilalui Powerslaves. Masalah klasik seperti narkoba hingga konflik personal di antara personelnya menjadi pemberi andil terbesar yang sempat membuat band ini terluka dan nyaris hilang dari radar rock nasional. 

Buku ini melampiaskan segudang drama kelam di balik gelinding kereta rock n’ roll ini yang sebagian besar belum pernah terungkap. Oleh penulisnya, Riki Noviana, lalu dituturkan secara gamblang dan lugas. Ia memposisikan diri seolah menjadi saksi sekaligus penutur dari petualangan seru perjalanan Powerslaves, hasil pengulikan mendalam kisah para personelnya.

Di antaranya misalnya, ada ungkapan jujur tentang alasan di balik lahirnya lagu “Wayang Wong” yang termuat di album “Metal Kartun” (1996). Rupanya, lirik lagu itu dibuat untuk menyindir sang vokalis, Heydi Ibrahim yang sempat ‘berkhianat’ terhadap Powerslaves dengan meladeni tawaran untuk merilis album solo. Langkah itu menyisakan torehan luka kekecewaan di internal band. Pertentangan batin yang hebat dalam diri Heydi saat itu, dibiarkan tertuang telanjang di buku ini. 

.

.

Lalu tak sedikit pula kisah kegilaan dan kekonyolan ‘belakang panggung’ yang tak jauh-jauh dari urusan alkohol dan narkoba. Ada masa-masa tergelap dimana para personel Powerslaves luluh menjiwai ketergantungannya pada berbagai zat adiktif tersebut. Bahkan pun menumpahkannya dalam sebuah lagu bertitel “Sabu” yang hingga saat ini belum kesampaian dirilis.

Itu hanya secuil dari sekian banyak kisah naik-turun karir Powerslaves di buku ini. Mulai dari rasa frustrasi, kebencian, gesekan ego di antara para personelnya, hingga tekanan ekonomi yang membuat mereka kerap gelap mata. Bahkan nasib band ini pernah berada di ujung tanduk kehancuran ketika hampir seluruh personelnya hengkang, dan hanya menyisakan Anwar Fatahillah, sang pendiri.

Namun ibarat kisah drama dalam sebuah film, Powerslaves akhirnya berhasil bangkit menghalau badai hebat yang menghadang. Cinta pun kembali bersemi, seperti judul lagu mereka, “Find Our Love Again” yang juga dijadikan tajuk utama buku ini. Happy ending!

Membaca buku ini, membuat kita ikut tersenyum bahagia pada akhir cerita, setelah ikut terombang-ambing oleh guliran jalan hidup mereka yang bagai roller-coaster sepanjang hampir 200 halaman. Jelas, buku yang juga menghadirkan catatan prolog dari Mudya Mustamin (pendiri MUSIKERAS) ini rasanya sangat wajib dimiliki oleh para pengagum Powerslaves serta para pemuja rock Indonesia pada umumnya. Bagi yang minat, bisa langsung menghubungi nomor +6281380567280 (WhatsApp) atau cek info lengkapnya di akun Instagram @powerslavesband. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *