Hari Ini, GUGUN BLUES SHELTER Hidupkan Album “GBSFEST” Kembali

Awalnya, “GBSFEST” telah dirilis via proyek Beli Album Fisik besutan Erix Soekamti pada pertengahan 2019 lalu. Dikemas dalam kotak istimewa (boxset), yang tak hanya berisi kepingan cakram padat (CD) audio albumnya, namun juga disertai kepingan versi minus one dari lagu-lagu di album tersebut, DVD klinik, kaos serta lempengan pemetik gitar dan bass serta kunci dram. 

Sayangnya, peluncuran proyek ambisius tersebut tidak disertai dengan geberan promosi yang gencar. Lalu diperparah hadangan pandemi yang datang membatasi ruang gerak. Alhasil, informasi keberadaan album yang eksklusif itu pun kurang terdengar, tidak tepat sasaran, lalu hilang tertiup angin. Bahkan masuk di jajaran nominasi kategori “Album Rock Terbaik” versi AMI Awards 2020 pun tidak memberi dampak berarti.

Karena merasa album itu ‘dibuang sayang’, Gugun Blues Shelter (GBS) pun memutuskan ingin merilis ulang “GBSFEST” agar lebih banyak yang bisa mendengarkannya. Gayung bersambut. Singkat cerita datang tawaran dari label Demajors yang bersedia mewujudkan niat tersebut. Dan hari ini, akhirnya delapan lagu yang menjadi amunisi “GBSFEST” resmi beredar via berbagai platform digital streaming.  

“Diputusin untuk diedarkan di digital karena sayang… album sudah keluar tapi nggak ada apa-apa,” ujar gitaris dan vokalis Muhammad ‘Gugun’ Gunawan kepada MUSIKERAS, mengungkapkan alasannya.

GBS yang telah berkarir sejak 2004 silam memang menggarap “GBSFEST” tidak setengah-setengah. Atas masukan dari kanan kiri, rekan-rekan serta para penggemar, diputuskan menggarap album penuh setelah absen selama tiga tahun. Hasil honor dari berbagai manggung lalu disisihkan untuk membiayai produksi album tersebut. Bahkan untuk mendapatkan hasil penataan suara yang benar-benar memuaskan, Gugun bersama dramer Adityo ‘Bowie’ Wibowo dan bassis Fajar Adi Nugroho tak segan-segan berkolaborasi dengan Stephan Santoso dari Sling Shot Studio untuk mengeksekusi pemolesan mixing serta mastering-nya. 

.

.

“Rekamannya santai, kira-kira setahun, termasuk mixing dan mastering. Justru (yang bikin) lama adalah memutuskan siapa yang mixing. Kepikiran sama Stephan karena single sebelumnya udah sama dia, karena gue nggak mau hasilnya belang. Akhirnya sama Stephan juga (untuk lagu-lagu lainnya). Gue puas sih… pemilihan soundnya berani keluar dari preset-preset yang sudah ada. Dia berani eksplor, nggak ada perdebatan, komunikasi dua arah yang nyaman, sesuai dengan yang ada di kepala gue. Bisa bareng ngulik soundnya, berasa kayak dia bagian dari band ini juga,” urai Gugun lagi semangat.

Sesuai judulnya, kali ini tiap lagu di album tersebut direkam layaknya penampilan grup-grup rock di sebuah festival. Musiknya variatif, tidak hanya sebatas blues, tapi ada pula suntikan rock, hard rock, funk dan bahkan rock balada. Misalnya, nuansa hard rock kuat terasa di lagu “Sesak di Dada”, rock balada di “Tentang Mu” atau funk di “Sweet Looking Woman” yang melibatkan unsur musik tiup (brass section) dari Eugine Bonty (saksofon) dan Broery (trumpet). “Dari awal sudah ada niat bikin lagu yang beragam. Gue bisa bikin bermacam musik yang gue suka.”

Bicara tentang blues, Gugun menegaskan tak ingin menerapkan pakem yang ‘standar’ di racikan musik GBS. Ia, di antaranya berkaca pada sepak terjang gitaris asal Inggris, Gary Moore yang dianggapnya berhasil menyuguhkan konsep blues berbeda, dan bisa dikatakan orisinal. “Nggak harus kayak siapa-siapa. Banyak orang selalu melihat ke legenda-legenda blues… misalnya kayak Stevie Ray Vaughan atau Albert King. Bentuknya gitu-gitu lagi, membosankan. Gue pengen keluar, blues nggak harus (dimainkan) seperti itu!”

Lalu sedikit banyak Gugun membeberkan referensinya yang lebih kental ke corak rock yang berjiwa blues. Ia menyukai karya-karya Glenn Hughes, baik saat tergabung di Deep Purple, maupun di California Breed. Juga karya-karya musik dari Joe Bonamassa dan The Winery Dogs. “Mau nggak mau nyantol ke situ,” serunya mengakui. 

Salah satu lagu membanggakan bagi Gugun yang termuat di “GBSFEST” adalah komposisi “Jangan” yang dianggapnya berkonsep beda karena ia baru pertama kali membuat lagu semacam itu di GBS. “Lebih keras, tempo lebih cepat, riff gitarnya banyak sustain dan banyak kord. Vokal juga banyak improvisasi, lalu pemilihan melodi beda dibanding sebelum-sebelummnya.”

Setelah perilisan versi digital album “GBSFEST”, ada juga rencana dari pihak Demajors untuk mengedarkannya kembali dalam kemasan CD reguler. Dan bahkan, tercetus pula wacana mengabadikan album ke-10 GBS tersebut dalam format piringan hitam (vinyl). Lalu tahun depan, GBS juga sudah bersiap untuk meluncurkan single baru. Semoga semuanya berjalan lancar! (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *