Sejarah kelam tentunya tak ingin dikenang. Namun sejarah ‘hitam’ yang berujung damai patut diapresiasi. Bahkan jika perlu direka ulang.
Kurang lebih itulah yang dieksekusi oleh Boss Creator, penyelenggara event yang berhasil mempertemukan God Bless dan Soneta Group kembali dalam satu panggung. Dua ikon rock dan dangdut tersebut tampil berdampingan dalam sebuah helatan konser musik berjudul “Re:creating Soneta Group – God Bless” yang berlangsung di Bengkel Space, Jakarta, semalam (20/12).
Ada kisah sejarah yang menarik di masa lampau yang melatari pertemuan dua legenda musik Tanah Air tersebut. Celetukan sambil lalu dari Benny Soebardja, pentolan band rock Giant Step pada pertengahan era 70-an yang menghina dangdut dengan sebutan ‘musik tai anjing’ menuai kontroversi. Apalagi ikut dipanasi oleh Aktuil, majalah musik asal Bandung saat itu yang menyiarkan pernyataan Benny tadi.
Dua kubu – rock dan dangdut – pun bergolak dan berujung seteru. Pentolan Soneta, Rhoma Irama sempat berang dan balik menyerang, menuding rock dengan istilah ‘terompet setan’. Sejak itu, singkat cerita, Rhoma akhirnya makin getol mengangkat derajat dangdut. Ia yang sejak kecil akrab dengan musik-musik India, namun di sisi lain juga menggemari musik rock model Deep Purple lalu mengemas dangdut dengan suntikan elemen rock di sana-sini. Strateginya berhasil. Apalagi di tuturan lirik-lirik lagunya, Rhoma membumbuinya dengan pesan-pesan agama Islam yang positif. Resep jitu yang lantas melesatkan Rhoma menjadi ‘Raja Dangdut’.
Lalu bagaikan panggung politik, ujung-ujungnya terjadilah konsiliasi. Tanpa melibatkan Giant Step, God Bless memilih menghormati dangdut dan akur dengan Rhoma Irama. Keduanya sepakat tampil sepanggung di perayaan malam tahun baru 1977 silam di di Istora Senayan, Jakarta, dalam sebuah gelaran konser berjudul “Damai di Ujung Tahun”. Bahkan pada 22 Desember 1985, momen perdamaian tersebut diulang lagi dalam sebuah hajatan berjudul “Apresiasi Musik Anak Muda 1985” yang digelar di Stadion Utama Senayan, Jakarta.
Jadi, tadi malam, merupakan pertemuan ketiga dari raksasa rock dan dangdut Tanah Air tersebut. Tentunya, kali ini tidak lagi dipicu pertentangan genre. Namun semata-mata sebagai konser nostalgia, sekaligus memenuhi dahaga kedua kubu untuk kembali sepanggung. Kondisi pandemi yang masih membatasi membuat konser “Re:creating Soneta Group – God Bless” menjadi semakin istimewa karena digelar secara tatap muka. Bukan virtual.
.

.
God Bless tampil lebih dulu, diperkuat oleh formasi Ahmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Abadi Soesman (kibord), Fajar Satritama (dram) serta Arya Setiadi, bassis yang diperbantukan untuk menggantikan posisi Donny Fattah yang sedang mengalami gangguan kesehatan. Walau kontur ruangan venue kurang memenuhi standar secara akustik, namun gelegar suara yang disemburkan God Bless tetap terasa sarat greget. Nomor keras macam “Menjilat Matahari”, “Kehidupan”, “Semut Hitam”, “Bis Kota” dan bahkan “Serigala Jalanan” dieksekusi dengan apik. Lalu juga sukses memandu koor penonton lewat lagu “Panggung Sandiwara”, “Syair Kehidupan”, “Cermin” dan “Rumah Kita”.
Tapi harus diakui, bintang malam itu adalah Rhoma Irama dan rombongan Soneta Group-nya. Dapat dimaklumi karena jika dibandingkan God Bless, penampilan Soneta di depan publik terbilang langka. Jadi layaknya seorang Raja dari sebuah kerajaan, kemunculannya menjadi luar biasa.
Rombongan Soneta sendiri total diramaikan 16 personel, yang tampil menyesaki panggung. Mulai dari pemain suling, mandolin, kibord, gendang tabla, bass, drum, barisan alat tiup hingga penyanyi latar. Mereka semua menjadi laskar penyokong kesuksesan penampilan Rhoma Irama, yang ‘berdakwah’ di lini vokal dan gitar.
Seketika, Bengkel Space malam itu pun berubah menjadi lantai dansa, eh joget massal. Tidak terkecuali para penonton yang datang dengan mengenakan kaos bergambar God Bless. Semua larut dalam goyangan dangdut beraroma Melayu rock yang kental. Khususnya di lagu-lagu yang sangat tenar dan abadi macam “Mirasantika”, “Ani”, “Begadang”, “Judi”, “Darah Muda” hingga “Dangdut”. Lagu yang disebut terakhir lebih dikenal luas dengan judul “Terajana”, konon dipopularkan Rhoma pada 1973 silam untuk melawan cemoohan terhadap dangdut. Seru dan ‘pecah’!
Yang patut disayangkan, tak ada segmen dialog kolaborasi yang melibatkan God Bless dan Soneta Group di konser ini. Namun Kiki ‘Ucup’ Aulia dari Boss Creator sebagai penggagas konser beralasan, persiapan yang sangat mepet memang tidak memungkinkan merancang kolaborasi tersebut. Bahkan kegiatan promosi konser itu sendiri digeber hanya dalam waktu seminggu. Tapi satu hal yang jelas, hajatan “Re:creating Soneta Group – God Bless” ini langsung tercatat dalam sejarah musik Indonesia, sebagai bagian dari rangkaian kisah pertikaian rock-dangdut masa lalu yang berujung perdamaian. (mudya/MK01)
.
Kredit foto: Dok. Vinca Satritama