HAUD Lepas EP “Liberosis” yang Bereksplorasi di Ranah Blackgaze

Kuartet blackgaze asal Cipanas, Jawa Barat ini resmi merilis album mini (EP) debutnya untuk menutup 2021. Bertajuk “Liberosis” dan memuat empat amunisi gesit dan liar. Keseluruhan lagu berpondasi pada kisah-kisah yang sedang dirasakan oleh para personel Haud, mulai dari rasa rindu, kenangan buruk hingga rasa marah, gusar dan geram terhadap peristiwa yang terjadi.

Kata ‘Liberosis’ sendiri adalah sebuah pikiran atau perasaan yang muncul ketika tidak ingin memedulikan hal yang terjadi. Pengistilahan liberosis bagi mereka adalah tidak ingin memedulikan hal yang terjadi, namun pada kenyataannya hal itu tidak dapat diabaikan dan terpaksa harus memedulikan persoalan dari problema yang terjadi. 

“Liberosis” mulai direkam Safta Maulana Rizki (vokal), Tomi Mandala (gitar), Bayu Sidik Tresna Permana (gitar), Dena Dava (bass) dan Ricky Zildan (dram) pada 8 November 2021 lalu. Prosesnya berlangsung selama satu minggu, yang direkam di studio House of Heritage milik Adam Avel, termasuk proses mixing dan mastering. Kepada MUSIKERAS, Haud mengungkapkan bahwa ada proses kreatif yang sebelumnya tak pernah mereka terapkan saat menggarap EP tersebut.

“Proses kreatif yang tidak pernah dilakukan sebelumnya adalah mempersiapkan lirik untuk lagu yang berjudul ‘Pseudomind’, dengan durasi pembuatan yang lumayan pendek,” ujar mereka menegaskan.

.

.

“Jika bertumpu pada rencana, kami tidak merencanakan kapan hari rekaman itu akan terjadi, namun setelah workshop untuk lagu-lagu sudah selesai barulah ada rencana mendadak untuk merekam Liberosis,” seru Safta menambahkan. 

Saat merakit materinya, Haud lebih mengedepankan kenyamanan memainkannya. Secara konsep musik, menurut Tomi, terasa sangat kental akan beat black metal, terapan riff yang minor dan nuansa yang major. Blackgaze yang dipadukan membuat chemistry kami semakin menyatu.”

Mengapa blackgaze? Karena menurut Haud genre satu ini terdengar fresh. “Dan (kami) pertama kali bermain di beat yang cepat, namun warna dan nuansanya sangat banyak, lebih membuka mata dan legowo untuk musik apa pun yang masuk ke telinga.”

Masih dari segi musikal, Haud menunjuk band Deafheaven (AS) dan Alcest (Perancis) sebagai acuan, dimana mereka menganggap band-band itulah yang membawa blackgaze ke ranah eksplorasi yang lebih jauh.

“Tapi kami mencoba memadukan warna dari tiap personel kami seperti sentuhan (band) Oathbreaker (Belgia), tuning D-A-D-G-A-D yang membuatnya semakin mudah untuk membentuk sentuhan post metal, seperti (band) Amenra (Belgia), Russian Circles (AS) dan masih banyak lagi. Ya, intinya kesukaan dari masing-masing personal. No boundaries sih sebetulnya.”

Seru sepertinya. Langsung saja dengarkan “Liberosis” yang sudah tersaji di tautan Bandcamp di artikel ini. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.