SISI RAPUH Cecar Kerapuhan Sosial Politik di “18 Years of Grinding”

Sejak mulai menggerinda pada 2003 silam, akhirnya baru tahun ini unit grindcore asal Salatiga, Jawa Tengah ini kesampaian merilis album penuh. Berjudul “18 Years of Grinding” dengan muatan amunisi sembilan lagu. Karya album debut Sisi Rapuh tersebut diproduksi dalam format cakram padat (CD) kemasan digipack serta disebar di berbagai platform digital.

Setelah sekian lama, kenapa baru sekarang terwujudkan?

“Kendala yang utama adalah niat, lalu karena kendala jarak yang memisahkan kami, membuat kami sangat susah untuk bisa menghabiskan waktu bersama untuk membahas dan memproduksi album ini. Barulah di tahun 2020 kami bisa berkumpul kembali dan akhirnya lahirlah album perdana ini,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkap alasannya.

Selama ini, ketiga personel Sisi Rapuh berdomisili di tiga kota berbeda. Gitaris Taufan Firmansyah berada di Salatiga, namun bassis Vincent Ari di Denpasar dan vokalis Andreas Teguh di Tangerang. Dalam kondisi seperti itu, mereka mulai menggodok materi album sejak 2019 secara berkala. Diramu dari tempat masing-masing, lalu direkam di tiga studio berbeda, yakni Velocity, Gerinda Baja dan Chenkz Studio.

Tema sosial politik menjadi titik sentral orasi Sisi Rapuh di album ini. Bahkan ada satu lagu berjudul “The Verge of Annihilation” yang mereka persembahkan untuk warga wadas yang mengalami penggusuran tanah, untuk tetap berjuang menerima hak-haknya.

Namun dari sisi musik, grindcore versi Sisi Rapuh di sini semakin diasah ketajamannya. Mereka menggambarkannya sebagai grindcore dengan berbagai sentuhan jenis musik lain yang memberi pengaruh terhadap para personelnya.

“Dari segi sound, kami mencoba mengaplikasikan sound modern. Referensi musik kami sangat beragam karena latar belakang kami berbeda beda. Ada sentuhan death metal, D-Beat, heavy metal dan bahkan stoner.”

Contohnya di lagu “6.4.11” yang diunggulkan oleh Andreas. Menurutnya, lagu ini yang paling berbeda nuansanya, baik dari sisi lirik, komposisi, maupun dengan kolaborator yang membantu di lagu tersebut, dimana mereka menghadirkan vokalis wanita bernama Michelle Adelia yang didapuk untuk membantu pengisian vokal di bagian akhir lagu tersebut, yang sebelumnya hanya dinyanyikan oleh Andreas.

.

.

“Sebelum dibantu oleh Michelle, lagu itu terdengar sangat stoner dengan gaya vokal Andreas. Ketika Michelle menyumbangkan suaranya, ternyata muncullah atmosfer baru di lagu ini yang terdengar sangat menarik dan sangat berbeda.”

Sementara dari pendekatan lirik, Taufan mengedepankan lagu “Hutan Hujan” yang mengangkat konflik agraria, penggusuran, bencana alam sampai penindasan yang terjadi di sekitar kita. Dan menurut Taufan, konflik itu terjadi tidak satu atau dua kali, namun hampir setiap hari di seluruh Indonesia.

“Tanah resapan jadi tambang, banyak hewan mati sia-sia, banyak petani putus asa karena ladang mereka sudah berubah bentuk. Pemerintah diam dan itu membuat saya pribadi sedih.”

Satu lagu lagi, yakni “Scapegoat Mechanism” disebut Vincent Ari sangat pas untuk menceritakan kondisi saat ini di lingkup sosial dan politik, dimana banyak pihak dengan mudahnya menggunakan taktik mengambing-hitamkan semua masalah. “Semuanya (dibuat) terlihat seolah-olah nyata sehingga orang mempercayai apa yang dilihat saat itu tanpa mencari fakta-faktanya.”

Sambil mempromosikan “18 Years of Grinding”, langkah selanjutnya yang akan dilakukan Sisi Rapuh adalah membuat video musiknya, lalu kembali masuk studio untuk mematangkan materi-materi yang belum sempat terdokumentasikan secara baik.

O ya, sebelum melahirkan album, Sisi Rapuh sebelumnya sudah pernah merilis album mini (EP) self-titled berisi lima lagu pada 2006, dimana materinya direkam secara langsung di Erasmus Studio. Masih di tahun yang sama pernah pula terlibat di album keroyokan (4 way split) dengan dua band asal Cipanas serta satu band Salatiga. Pada 2013, Sisi Rapuh juga berkontribusi di album kompilasi “Tribute to Extreme Decay” serta album “Kompilasi Semarang Grindcore” (2021). (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *