Kebebasan DIVINECVLT dalam Koridor ‘New-School’ Metalcore

Album mini (EP) debut “Set Me Free” menjadi representasi kebebasan sosial bagi unit metalcore asal Padang, Sumatera Barat ini. Dimana mereka menyoroti berbagai sisi kehidupan sosial, dan berharap dapat memberikan dampak yang bagus. Di antaranya menyadarkan orang-orang yang selalu berpikiran negatif (toxic) di tuturan lirik lagu “Sirna” hingga menghilangkan citra buruk terhadap rekan-rekan mereka yang merajah (tatto) tubuhnya, dalam lirik lagu “It’s Not A Crime”.

Lagu “Sirna” sendiri sudah dibuatkan video musik yang digarap Divinecvlt dalam waktu yang relatif singkat. Hanya membutuhkan waktu dua minggu untuk konsep dan tiga hari untuk pengerjaannya. “Sirna” sebenarnya bukan pilihan awal untuk dibuatkan video, melainkan lagu mereka lainnya yang berjudul “Purest Hate”.

“Namun setelah kami rembukan kembali, ‘Purest Hate’ dirasa sedikit monoton untuk dijadikan video musik. Hingga beberapa waktu, kami memutuskan untuk menggarap ‘Sirna’ dikarenakan musikalitas di lagu ini kami anggap sangat cocok untuk menjadi ‘kuda’ bagi kami,” urai pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkap latar belakang prosesnya.

Penggarapan “Set Me Free” dieksekusi Rahmad ‘Jarot’ Fajar (vokal), Gholid ‘Tamazu’ (gitar), Roby ‘Gen’ Ravindra (gitar) dan Muhammad ‘Ebon’ Hebron (dram) selama kurang lebih setahun, yang berpusat di studio Bardcore, HTWV Records dan melibatkan beberapa rekan mereka seperti Bardi Rahmawan (Raze) dan Alvino Ganeshaputra (Velvethell) yang membantu melancarkan proses kreatif album tersebut.

.

.

Dalam menjalani penggodokannya, sempat ada beberapa hal yang membuat produksi rekamannya tertunda. Salah satunya karena Divinecvlt kehilangan personel Nabil Armando yang bertanggung jawab di lini synthesizer. Akhirnya, urusan aransemen di beberapa lagu harus dikerjakan ulang dari nol. Momen itu juga membuat Divinecvlt mengubah niat untuk mengerjakan album penuh dan memilih menggantinya dengan EP. Lalu tak lama setelahnya, giliran bassis mereka, Ronny Zulkifli yang memutuskan untuk hengkang karena kesibukan kerja.

“Kami berempat memutuskan untuk mengerjakan EP saja karena sudah banyak waktu yang terbuang,” ujar Divinecvlt menegaskan.

Awal mula terbentuk Divinecvlt sendiri sempat mengibarkan konsep musik yang banyak terpengaruh band asal AS seperti Kublai Khan dan Harm’s Way yang lebih cenderung ke konsep hardcore punk. Namun karena merasa genre itu tidak sesuai dengan selera mereka, akhirnya band yang mulai menggeliat pada 2020 lalu ini sepakat mengubah haluan ketika Tamazu membuat lagu yang berkonsep metalcore.

“Dari segi musikal, bisa dibilang kami memainkan metalcore ‘new-school’, dari riff-riff gitar yang sedikit keras hingga melodi manis, yang kami sajikan di ‘Set Me Free’. Untuk referensi, Divinecvlt sendiri dibayang-bayangi (musik) dari band seperti The Amity Affliction, Wage War, Polaris dan The Devil Wears Prada.”

Empat trek membara di “Set Me Free” – termasuk yang bertajuk “Paradigm” – sudah dapat didengarkan melalui layanan streaming digital seperti Spotify dan Apple Music. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.