SHOVELHEAD Geber Lagu Baru tentang Pertumpahan Darah Demonstran

Sebuah kilas balik tragedi kerusuhan yang mencoreng Indonesia pada 1998 silam, dikobarkan lagi oleh unit heavy rock bernuansa stoner asal Jakarta ini, lewat lagu tunggal terbarunya yang bertajuk “Sang Raja Pemburu”. Kisah pahit tentang pertumpahan darah dari para demonstran, penjarahan di mana-mana, ribuan peluru yang ditembakkan hingga nyawa-nyawa yang melayang. Shovelhead ingin menggiring para pendengar merasakan berada di masa tersebut. Lagu tersebut, secara tersirat didedikasikan untuk empat ‘Pahlawan Reformasi’ yang tertembak mati pada peristiwa tersebut.

Meskipun nama band bentukan Februari 2019 ini terinspirasi dari mesin motor Harley Davidson, namun lagu-lagu yang mereka buat cenderung mengeksplorasi sosial dan politik. Seperti yang terumbar di tiga karya lagu lepas Shovelhead yang berjudul “Komplotan Pengkhianat”, “Serdadu Sesat” dan “The Breath of Darkness”. Lagu-lagu yang lantas menjadi amunisi pelengkap album debut mereka, “Geram” (2020).

Tentang “Sang Raja Pemburu” sendiri, ketiga personel Shovelhead, yakni Akmal ‘Blek’ Rayyan (vokal/gitar), Arvino ‘Vino’ Ramadhan (bass/vokal latar) dan Dennis Ichwan (dram) sudah merampungkannya sejak setahun yang lalu. Berawal saat mereka berkumpul di markas Shovelhead di Jakarta Timur, tepatnya di rumah Blek. Awalnya Blek menemukan riff gitar yang terinspirasi dari lagu band Sleep, yakni ‘Dragonaut’. Kemudian, ia menyampaikannya ke anggota yang lain dan mereka lantas memulai merakit kerangka dan struktur instrumennya di dalam studio. Tema lirik baru digagas dan ditulis oleh Dennis dan Vino setelah instrumentasi lagu sudah jadi sekitar 75%. 

“Proses kreatif lagu ini itu tidak memakan waktu sampai sehari,” ujar pihak Shovelhead kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

.

.

Konsep heavy rock yang digeber Shovelhead kali ini, digambarkan pihak band sebagai hasil dari paduan vokal Blek serta betotan bass dari Vino. Menurut Blek, cara dia bernyanyi di “Sang Raja Pemburu” itu terbilang berbeda dibanding lagu-lagu di album pertama. Kali ini, ia lebih sering memakai head voice dan distorsi pada vokal. Sedangkan di album pertama, Blek cenderung menggunakan teknik suara perut.

“Sedangkan di bass, sound crunchy dan bunyi ketebalan senarlah yang menambah kesan ‘heavy’ di lagu ini. Untuk referensi musik, kami hanya berputar di beberapa band saja, antara lain Sleep, The Sword, Fu Manchu, Metallica, Killer Be Killed dan Testament.”

Lagi, jika dibandingkan dengan materi album atau lagu-lagu lepas sebelumnya, pengolahan transisi instrumen dan nada kali ini lebih tereksplorasi. Begitu juga dengan referensi yang kali ini dibiarkan lebih luas. 

“Sebelumnya, bisa dibilang kami minim referensi. Bukan karena kurang mengulik. Ada dua band yang jadi referensi kami saat itu. Tapi memang di lagu-lagu sebelumnya kami lebih banyak membuat berdasarkan bunyi dan nada yang kami suka saja. Pada kenyataannya, band stoner/heavy rock itu mempunyai dasar yang sama, dan kami ingin membuat itu berubah bahwa musik genre apa pun itu bisa dibuat sedemikian rupa dan sekreatif mungkin.”

Kini, Shovelhead tengah menyiapkan berbagai perangkat promo untuk menunjang perilisan “Sang Raja Pemburu”. Di antaranya meluncurkan video musiknya, serta penggarapan produk merchandise, dimana mereka berkolaborasi dengan brand milik rekan mereka, Morbid Cult. Setelah itu, kemungkinan pada akhir tahun Shovelhead akan merilis album kedua yang ditargetkan memuat sembilan atau 10 lagu. 

“Prosesnya sejauh ini sudah sekitar dua lagu yang jadi 100% dan empat lagu lainnya yang masih sekitar 50%.”

Sejak 9 April 2022 lalu, “Sang Raja Pemburu” sudah bisa didengarkan di berbagai gerai penyedia jasa dengar musik secara digital, seperti Apple Music, Spotify, Deezer, Amazon dan YouTube Music. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.