Kisah pribadi sang vokalis yang hidup tanpa orang tua atau keluarga di sekitarnya, lalu rasa dikucilkan karena memiliki jalan hidup yang berbeda dengan orang lain, hingga ke masalah keimanan menjadi tema utama yang diteriakkan unit metal asal Jakarta ini lewat karya rekaman album debutnya yang bertajuk “Human Scenario”.
Makanya, rancangan sampul “Human Scenario” pun menggambarkan seorang anak kecil separuh robot yang menyiratkan bahwa anak tersebut telah mati secara batin namun tetap hidup bagaikan robot yang telah diprogram untuk mengikuti standar kehidupan masyarakat umum.
“Kami percaya, hal-hal yang lebih personal akan lebih relate atau mungkin bisa membantu orang-orang yang sedang melewati hal yang sama,” urai Animatronix ID kepada MUSIKERAS, mengungkapkan visi dan misi di balik muntahan lirik-lirik lagunya.
Untuk menyampaikannya dengan ekspresi yang maksimal, metal pun diadopsi sebagai kendaraan utama band ini. Namun Animatronix ID yang dihuni formasi Samuel Christian Wijaya aka Sam (gitar/vokal), Muhammad Naufal Razzan (gitar), Rafie Susilo aka Iraf (dram) dan Muhammad Akbar Jody aka Jody (bass) tak ingin membuatnya terdengar generik. Sehingga banyak elemen genre lain pun yang dilibatkan.
Mulai dari segi drum beat misalnya, ada kandungan gaya dance music seperti pada lagu “Ego”, lalu alur bass yang funky di “Outsider”, riff gitar beraroma Egyptian pada “Reach”, hingga terapan teknik vokal yang beragam, mulai dari melodic scream sampai clean falsetto.
.
.
“Referensi musik utama saat menulis album ini sangat ‘tidak metal’. Dari The Cranberries, Ada Band sampai musik-musik eksotis seperti Egyptian music. Namun tetap ada influence metal dari Metallica, Gojira, Slipknot dan Muse yang telah meresap ke dalam diri kami setelah bertahun-tahun mendengarkannya. Dari situ kami meracik style kami yang agresif namun melodis dan tematis,” seru pihak band menegaskan.
“Human Scenario” sendiri direkam dalam jangka waktu empat bulan di studio pribadi mereka, SCW Audio. Sementara untuk proses mixing dan mastering dikerjakan oleh Sam Christ bersama sound engineer Ahmad Mujahid Arifin. Selain yang sudah disebutkan tadi, album itu juga memuat lagu “Jester”, “Faith”, “RATFA”, “Dead or Alive”, “Exit”, “Orphan” serta “Human Scenario”. Juga ada tambahan komposisi “Orphan” versi orkestra.
Nah, dari 10 lagu yang mereka garap itu, Animatronix menyebut “Reach” adalah salah satu yang cukup menantang proses penggarapannya. Setelah vokalis Sam terjangkit covid, ada sebagian jangkauan vokalnya yang hilang atau sulit dieksekusi.
“Sampai akhirnya, seluruh album harus ditala ulang (retune) dari drop D ke drop C. Dari kejadian itu, lagu yang paling terdampak proses rekamannya adalah ‘Reach’. Karena di sana terdapat pitched atau melodic scream yang cukup tinggi pada bagian reff-nya. Namun biar pun demikian, pada akhirnya lagu tersebut dapat diselesaikan setelah melewati lebih dari 70 kali tracking vocal!”
Kini, album karya band yang dibentuk pada September 2021 atas inisiasi Sam Christ dan Naufal Razzan tersebut sudah bisa didengarkan di berbagai platform digital sejak 7 April 2022 lalu. Selain itu, “Human Scenario” juga tersedia dalam format fisik (CD). (aug/MK02)