(Artis) Dreamer – (Album) Tahta Hitam – (Prod.) 2022 Cerberus Records/demajors

Oleh @mudya_mustamin

Yang pertama kami tulis adalah chorus, karena bagian ini yang paling susah. Kami harus dapat (nada) yang paling enak agar gampang diingat dan dinyanyikan.”

Ucapan gitaris Handayani ‘Yani’ Woke kepada MUSIKERAS di atas terbukti di suguhan lagu-lagu di “Tahta Hitam”, karya album rekaman terbaru Dreamer setelah tertidur selama lebih dari satu dekade. Sepuluh lagu yang dicecar dengan beringas tanpa menyisakan jeda untuk menarik nafas di album tersebut dijamin tidak monoton. Bait chorus setiap lagu dirancang seketika melekat kuat di pendengaran.

Dibuka dengan secuil petikan akustik, lalu aroma distorsi kegelapan pun menyeruak, merangsek dan terus bergemuruh sepanjang perjalanan menyusuri 10 komposisi yang menderu enerjik di album ini. Dan lagu pembuka yang berjudul “Panah Kematian” langsung menjadi pembuktian pernyataan Yani di atas tadi. Cara vokalis Windy Saraswati menyanyikan lirik demi lirik terdengar renyah, namun tanpa kehilangan kualitas suaranya yang bertenaga.

“Panah Kematian” sekaligus meniupkan semangat baru band yang juga diperkuat Triwibowo (kibord), Totok Kusdaryanto (dram), Doni Herdaru Tona (vokal) dan Budi Gede Arya (bass) ini. Mewakili konsep sekujur album yang terdengar lebih segar, dimana Dreamer melebur berbagai elemen musik keras lainnya seperti symphonic metal, power metal, death metal, gothic metal hingga thrash metal yang dibalut polesan sound kekinian serta bubuhan ‘racun’ orkestrasi variatif yang menyambar dari berbagai sisi. Sebuah racikan yang rasanya bisa membius pendengar album “Tahta Hitam” sehingga enggan melepas headphone saat menyusuri track demi track.

.

.

Memang, sepintas masih mengingatkan kita akan gestur band-band symphonic metal bervokal wanita model Nightwish atau Within Temptation. Tapi, Dreamer sepertinya menghindari gerak-gerik yang tipikal, dimana mereka mengakalinya dengan melibatkan eksplorasi elemen lain. Seolah tidak ingin terkesan sophisticated, tetap berniat liar dan beringas seperti – katakanlah – Arch Enemy.

Satu hal yang menarik, terjadi di manajemen lini vokal yang menghadirkan kolaborasi antara Windy dengan Doni Herdaru Tona (Vox Mortis/Funeral Inception). Memadukan karakter mid-tone dari Windy yang bisa terdengar bening namun tetap bertenaga, dengan geraman growl yang kelam dari Doni. Semacam ‘beauty and the beast’!

Terkadang – seperti yang diterapkan di lagu “Panah Kematian”, “Khurusetra” atau “Tirani” – vokal Doni ‘sekadar’ berperan sebagai latar yang membayangi, sekaligus meniupkan nuansa mistis di lagu-lagu tersebut. Namun di komposisi lainnya macam “Perang Suci”, “Doa Pendosa II” atau “Raja Dunia”, Windy dan Doni bisa bersanding di porsi yang seimbang, mengeksekusi bait demi bait bergantian.

Pemolesan mixing dan mastering yang terjaga strukturnya juga menjadi faktor penentu yang membuat album “Tahta Hitam” nyaman dikonsumsi. Seabrek lapisan (layering) rekaman berbagai instrumentasi tertata apik dan terukur sehingga menghasilkan hasil rekaman yang terdengar lebar dan jauh dari kesan tumpang-tindih. Eksploratif namun berdimensi.

Jika harus membubuhkan skor, sangat mudah mendeklarasikan “Tahta Hitam” sebagai karya rekaman terbaik Dreamer sepanjang karir mereka. Tidak setuju? Berarti ada yang salah di kuping Anda!