Trio cadas namun jenaka asal Kota Gudeg, Yogyakarta ini kembali melanjutkan misi utamanya, yakni ‘memasyarakatkan thrash metal dan men-thrashmetal-kan masyarakat’. Kali ini dengan merilis “Thrash Metal 1983 – Asu! Albumnya 10 Tahun!“, yang memanfaatkan momentum perayaan Record Store Day pada 23 April 2022 mendatang.
Kali ini diedarkan dalam format kaset pita yang memuat 12 lagu, plus satu nomor tersembunyi (hidden track) di akhir album. Rilisan bercangkang warna putih tersebut diproduksi oleh Gimme Gimme Rekords dalam jumlah terbatas, hanya sebanyak 100 keping dan diberi nomor urut. Harga yang dipatok untuk setiap keping sebesar Rp. 75.000. Selain itu, juga tersedia dalam bentuk paketan (bundling) berisi t-shirt, kaset pita dan kotak kemasan seharga Rp. 235.000.
Album “Thrash Metal 1983 – Asu! Albumnya 10 Tahun!“ itu sendiri sebenarnya merupakan rekonstruksi dari album debut Metallic Ass yang bertajuk “Thrash Metal 1983” (2011). Nah, untuk merayakan satu dekade perilisannya, Metallic Ass yang dihuni formasi Denison Wicaksono a.k.a. Denizone (bass/vokal), Denny Arifiyanto (gitar) dan Yuda Hasfari Sagala a.k.a. Bable (dram) ini lalu membawakan ulang lagu-lagu di album tersebut lewat sebuah suguhan live session bertitel “Asu! Albumnya 10 Tahun”. Judul acara yang digelar tahun lalu itu merupakan pelintiran dari salah satu lagu Metallic Ass yang berjudul “Asu! Parkirnya Sepuluh Ribu”.
.
.
Di hajatan itu, Metallic Ass mendapat dukungan dari Adam (Infinite Siennas) yang membantu menebalkan kegarangan di sektor gitar serta vokalis Dendi (Der Jager) yang dihadirkan di lagu “Metal Sak Modare”.
Di mata para personel Metallic Ass, album “Thrash Metal 1983” sendiri merupakan pencapaian mereka yang luar biasa dalam hal musikal pada waktu itu. Merupakan titik tolak awal perjalanan mencari bentuk dan jati diri dari karya-karya Metallic Ass.
“Tentunya kami juga melakukan koreksi-koreksi minor untuk penggarapan karya yang sudah rilis 10 tahun lalu ini, seperti perbaikan kualitas sound, teknik memainkan alat musiknya, dan lirik lagu, untuk menyesuaikan dengan situasi kekinian,” ujar mereka lagi, sambil memberi contoh lagu “Kehabisan Pulsa” yang kini diubah liriknya menjadi “Kehabisan Kuota”.
Di sisi lain, sampai saat ini pun, Metallic Ass masih menganggap “Thrash Metal 1983” relevan dengan kondisi mereka. Terutama dalam hal semangat memainkan musik thrash metal. Walaupun sudah berselang satu dekade, dan bahkan telah menelurkan album kedua, “Agriculture Thrash” (2015) serta sebuah single bertajuk “Kedaulatan Metal” (2018).
“Bagaimana pun (album itu) akan tetap menjadi inspirasi kami dalam berkarya,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS.
Karena ketika itu, walau masing-masing personel masih berada dalam keterbatasan, namun tetap bisa menghasilkan karya album sendiri. Tema-tema lirik yang mereka ciptakan pun, sampai saat ini, masih sama dengan album pertama.
“Yaitu kritik sosial, kehidupan sehari-hari, dan nasionalisme, serta (terapan) riff-riff yang terinspirasi dari musisi metal tahun 80-90-an. Intinya, konsep musikal ‘Thrash Metal 1983’ masih mewakili semangat kami dalam bermusik.”
Tapi Metallic Ass tentu saja bukan tipikal penggeber thrash metal yang selalu ingin terlihat garang. Sejak dilahirkan pada 2008 lalu, mereka selalu menorehkan senyum di wajah para metalhead yang mengonsumsi menu mereka. Dengan judul lagu yang menggelikan seperti “Cintaku Dibawa Lari Motor India”, “Distorsi Menendang Bokong” hingga “Nge-Thrash Dulu Biar Hidup Lebih Teratur”, para pendengar Metallic Ass niscaya terkecoh, tidak menyangka bakal mendapat gempuran thrash metal. Sejauh ini mereka selalu sukses mencuri perhatian dengan membawakan jenis musik agresif yang dipenuhi pesan kritik sosial dan politik, tapi dieksekusi secara humoris.
Selain dalam kemasan kaset pita, “Thrash Metal 1983 – Asu! Albumnya 10 Tahun!“ juga dapat dinikmati via kanal YouTube serta melalui berbagai platform digital lainnya. (mdy/MK01)