STREETWALKER Berorasi Keras di “Virtual Megaphone”, Sambil Siapkan “P.U.L.S.E.”

Kami menyebutnya dengan nama ‘Full Throttle Cold Blooded Rock N Roll’. Intinya, kami pengen ngebawa orang yang ngedengerin untuk bisa moshing, headbang dan bersenang-senang sejenak melupakan masalah yang lagi mereka hadapi, lalu kembali menghadapi realita dengan energi yang lebih mantep lagi. Terkadang hidup itu sulit, tapi bisa jadi lebih sulit lagi jika tidak dihadapi sama sekali, hahaha!”

Kalimat di atas adalah alasan kumpulan penggeber rock asal Jakarta ini melontarkan lagu rilisan tunggal terbarunya yang bertajuk “Virtual Megaphone”. Karya yang direkam di Studio Masak Suara dengan bantuan produser Yosaviano tersebut melengkapi beberapa rilisan lepas sebelumnya, seperti “The Sun”, “Moral Compass”, Wide Eyes Device dan “Airplane Mode”, yang selanjutnya bakal menjadi amunisi album studio kedua Streetwalker yang berjudul “P.U.L.S.E”.

Album itu sendiri dibuat terkonsep, dengan lirik yang terfokus pada cerita fase kehidupan manusia dan interaksinya dengan dunia saat ini dan mungkin masa mendatang. Tentang dunia digital ‘Society 5.0’ yang semakin mendominasi kehidupan. Ketika sebuah sumbu bisa begitu cepat terbakar dan tersebar berantai dari tempat ke tempat, dan hanyalah diri kita sendiri yang bisa menjadi penyaring untuk bisa memilah untuk dikonsumsi, dari intrik-intrik politik, ekonomi, seks, agama dan kemanusiaan. “It’s another same old story, about what we’ll have to see. As the world spins, what goes around, comes around.” 

Khusus “Virtual Megaphone”, idenya sudah mulai ditanak kurang lebih sekitar empat tahun lalu, ketika para personel Steeetwalker; Muhammad Hafidz Tamjidi (vokal/gitar), Agung Reza Wicaksono Lubis (gitar), Andika ‘Dcoy’ Rahimy (dram) dan Faiz Marie (bass) telah selesai menyelesaikan pendidikan formalnya dan mulai memasuki kehidupan kelas menengah pekerja. Saat itulah mereka menemukan gagasan riff, melodi dan bagan lagu dari “Virtual Megaphone”. 

.

.

Bagan musik “Virtual Megaphone”, bisa dikatakan sudah rampung sejak 2018, hasil nongkrong sambil main gitar di balkon rumah Dcoy. Pada saat itu, komposisi baru jadi sekitar 80% dan tanpa vokal. Tapi struktur musiknya sudah seperti sekarang; ngebut, padat, lalu tiba-tiba terhenti dan masuk ke tempo yang sangat pelan, dengan permainan riff yang mengundang untuk melakukan ritual headbang.

“Kami ingin membuat lagu dengan tema kegilaan dari hadirnya ‘Dunia Digital’. Salah satu referensi saya pribadi, adalah film tahun 90-an, ‘Super Human Samurai’. Alhasil ketika rekaman pun, dari sisi gitar banyak memasukan modulasi seperti phaser, flanger, dan lainnya untuk menguatkan tema lagunya sendiri,” urai Tamjidi kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Kembali ke album “P.U.L.S.E.”, secara keseluruhan Streetwalker mulai menggodoknya sejak sekitar awal 2020, persis sebelum pandemi masuk Indonesia. Jadi ketika pemerintah menerapkan aturan lockdown, mereka terpaksa harus menunda proses rekaman. Tapi akhirnya, dengan semangat untuk tetap rekaman album, mereka memutuskan untuk melanjutkan prosesnya, dan memilih bergantian untuk hadir di studio.

“Beruntungnya, kami semua diberikan kesehatan dan album selesai direkam kurang lebih selama pandemi hingga akhir 2020. Pandemi membawa efek macam-macam untuk setiap orang. Salah satunya pemain bass kami, Faiz Marie. Sebenarnya di proses rekaman, Faiz sempet hilang tanpa kabar dan hampir keluar dari band. (Tapi) Setelah bertemu dan bercerita, (ternyata) Faiz saat itu sempat hilang arah dan semangat, plus terlalu banyak di rumah hingga membuatnya terlalu banyak berpikir dengan pikirannya sendiri jauh terlalu dalam. Dan yang paling krusial, karena Faiz jarang mandi saat di rumah. Setelah mandi, Alhamdulillah semangatnya timbul lagi, pikiran segar kembali dan proses rekaman bisa dimulai lagi,” beber Hafidz lagi, terus-terang.

Setelah merilis album debut “Control Ur Mind” (2015), Streetwalker yang telah menggeliat sejak 2010 silam bereksplorasi dengan kecenderungan yang keluar dari zona nyaman mereka. Khususnya dalam urusan pembentukan konsep musikalnya. Masih dalam lingkup bauran rock, psychedelic, punk, progressive rock bahkan pop. Namun kali ini, di “P.U.L.S.E.”, banyak elemen lain yang disusupkan. Setiap personel membawa pengaruh keliarannya masing-masing.

Dcoy misalnya, lagi senang mendengarkan Ethiopian Jazz macam Mulatu Astatke, sementara Agung sedang getol mengarah ke terapan tangga nada Phyrigian. Lalu Tamjidi tenggelam di musik-musik garapan mendiang Harry Roesli, yang kebetulan juga ada keterkaitan dengan selera Faiz yang sangat mengulik musik-musik Timur Tengah dan Betawi dari Mustafa Ozkent hingga mendiang Benyamin S.

“Intinya banyak terinspirasi dari exotic scale banyak negaralah, dari Afrika hingga Tanah Sunda. Tetapi tetap dengan output cara memainkan yang seru menurut versi kami.” 

Komposisi “Virtual Megaphone” yang enerjik kini sudah bisa didengarkan via berbagai gerai digital macam Spotify, Apple Music, Joox hingga Resso. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.