Keisengan yang lahir dari kebosanan saat menjalani pembatasan akibat pandemi ternyata terus berlanjut dan semakin serius. Mika Rafello, ‘bocah’ yang bisa dibilang baru ‘lahir’ sebagai musisi tahun lalu saat masih menginjak usia 13 tahun, kembali melanjutkan agresi ajaibnya lewat sebuah lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “Temporal Sequence”. Di komposisi berformat instrumental tersebut, Mika menggaet shredder senior Tanah Air, Ezra Simanjuntak (Zi Factor).
Tahun lalu, Mika sendiri sudah lebih dulu mengejutkan panggung musik keras lewat lagu ciptaannya sendiri yang berjudul “Ketika Aku di Ketika”, dimana ia menghadirkan vokal Roy Jeconiah (Jecovox). Lagu itu bahkan berhasil menerobos, masuk ke deretan nominasi di ajang AMI Award 2021 untuk kategori Produksi Metal Terbaik. Luar biasa!
Sama seperti Roy, Ezra Simanjuntak juga kebetulan merupakan sahabat lama dari ayah Mika, Imran St. Sati. Di industri musik Indonesia, Imran dikenal sebagai salah satu sound engineer terkemuka, yang antara lain pernah menggarap proyek rekaman milik band-band rock dan metal seperti Boomerang, Sic Mynded, 7 Kurcaci, Discus, Sucker Head, Tengkorak, Dreamer, In Memoriam, Trauma serta beberapa band dan penyanyi pop papan atas.
Ezra awalnya – seperti kebanyakan orang yang melihat gebrakan Mika – cukup terkejut akan bakatnya yang sangat cepat menguasai memainkan berbagai instrumen musik, lalu merekam dan mengeksekusi proses mixing-nya sendiri. Karena itu, Ezra pun sampai membuat testimoni khusus untuk Mika di media sosial, dimana ia mengungkapkan keinginannya untuk berkolaborasi.
.
.
Mika sendiri, kebetulan juga sudah memiliki lagu instrumental yang memang ia siapkan untuk dikolaborasikan dengan musisi lain. Dan seperti sudah ditakdirkan, terjadilah kolaborasi antar generasi tersebut. Di mata Ezra, di usianya yang baru menginjak 14 tahun, Mika adalah ‘the real deal’. Bukan kaleng kaleng.
“Gue sendiri nggak tahu masih ngapain di usia segitu,” celetuk Ezra, saat hadir di syukuran perilisan lagu “Temporal Sequence”, di sebuah cafe di bilangan Blok M, Jakarta, kemarin sore (17/5).
Sedikit menengok ke belakang, Mika yang kini juga telah mendapatkan kontrak endorsement dari gitar Aria Pro II Japan, memang baru memulai kiprahnya di ranah musik secara serius tahun lalu, saat pandemi sedang seru-serunya mulai melanda. Karena hanya bisa beraktivitas di rumah, ia pun ‘menjajah’ gitar serta fasilitas rekaman milik ayahnya, dan mulai menguliknya secara otodidak.
Tidak butuh waktu lama, Mika langsung bisa memainkan lagu-lagu milik Slipknot, Iron Maiden, yang lantas berkembang ke lebih banyak band, di antaranya seperti Metallica, Megadeth, Pantera hingga yang terbaru, Gojira. Sekitar tiga bulan kemudian, Mika bahkan sudah membuat lagu sendiri dan merekamnya tanpa bantuan orang lain. Adanya fasilitas studio rekaman dimaksimalkan Mika untuk menghasilkan banyak karya. Gerbang menuju perilisan yang serius terbuka ketika Roy yang kebetulan sedang bertandang ke rumah Mika menyediakan waktu untuk mengisi vokal di salah satu lagu ciptaannya yang bertitel “Ketika Aku di Ketika”.
Dengan kemampuannya mengoperasikan peralatan rekaman dengan cepat, membuat Mika makin ekspresif dalam berkarya. Kepada MUSIKERAS, ia mengaku bahkan tak menemui banyak kendala. “Palingan kadang ada kesulitan saat rekaman, kalau ada yang salah dan harus mengulang,” katanya terus-terang.
Setelah “Ketika Aku di Ketika” dan “Temporal Sequence”, Mika ternyata sudah menyiapkan sebuah album. Bahkan keseluruhan produksi rekamannya sudah rampung. Termasuk lagu kolaborasinya dengan Sofyan Hadi dari Death Vomit, dedengkot death metal asal Yogyakarta. Juga ada lagu dimana Mika sendiri yang mengisi vokalnya. Belum ada jadwal pasti untuk perilisan album tersebut, namun mengingat materinya sudah siap kemas, jadi kemungkinan tinggal mencari momen yang pas saja. (mdy/MK01)