DISHOLD Ingatkan Bencana Akhir Dunia dengan Beringas

Beberapa kali berganti personel tidak membuat berandalan d-beat/neo-crust dari sisi Barat Jakarta ini berhenti menyalak. Sejak terbentuk 2016 lalu, kiprah Dishold terus digulirkan. Hingga akhirnya, pada 24 Maret 2022 lalu, album debut mereka yang berjudul “The Final Day of Disaster” berhasil dirampungkan dan resmi dirilis melalui Greg Mike and Kim Records.

Jalan menuju penggarapan albumnya sendiri dimulai para personelnya; Muhamad ‘Pay’ Rifai (vokal), Rizal ‘Tukul’ Adithya (gitar), Dwi ‘Bokep’ Agus Setiawan (dram), Harry ‘Benjo’ Ramadhan (bass) dan Chaeri ‘Acong’  Firmansyah (gitar) setelah tercapai keputusan bersama. Menurut tuturan pihak band kepada MUSIKERAS, ada proses kesepakatan dalam pengembangan ide yang lantas dieksekusi bersama dalam proses penggodokan materi di studio secara intens.

“Rentang proses waktu perekaman materi album full ini kurang lebih satu bulan lamanya, hingga semua lagu terekam, dan itu sudah mencakup keseluruhannya,” kata Dishold lagi mengungkapkan.

Studio rekaman yang dipilih untuk mengerjakan satu per satu lagu yang ada di dalam album “The Final Day of Disaster” adalah di studio ERK, yang berlokasi di daerah Tangerang. Untuk urusan teknis rekaman, termasuk pemolesan mixing dan mastering, Dishold dibantu oleh Bowo Beatlock.

.

.

Ada tiga elemen musik yang kental, yang menjadi bahan bakar di album “The Final Day of Disaster”, sekaligus sebagai penyulut lirik-liriknya yang berkisar pada tema tentang ketakutan, bencana, kematian dan akhir dari dunia. Tepatnya, Dishold memadukan keliaran dan keberingasan hardcore punk, d-beat/neo-crust dengan sedikit nuansa kelam.

“Beberapa pengaruh musik yang kami mainkan banyak datang dari band-band (luar) seperti, Tragedy, Fall of Efrafa, Morrow dan From Ashes Rise.”

Lagu tunggal pertama yang menjadi salah satu pengobar yang memuaskan dari segi musikal di “The Final Day of Disaster” adalah “Memoar”. Karena bagi Dishold, lagu tersebut sedikit berbeda dalam peracikan aransemen musiknya. “Terapan riff-riff tak hanya berhawa hardcore punk/d-beat, tapi juga elemen doom/sludge. Membuat ‘Memoar’ menjadi single yang paling berbeda dibanding lagu-lagu lainnya.”

“The Final Day of Disaster” yang beramunisikan 10 lagu sudah diedarkan dalam format kaset. Sementara khusus lagu “Memoar”, juga sudah bisa digeber via berbagai platform digital. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.