Usai tergabung dalam album kompilasi “Blackened Submison Vol. 1” pada Januari 2022 lalu, unit metal ekstrim asal Bali ini memutuskan untuk meluncurkan lagu rilisan tunggal ketiganya, yang bertajuk “Era Malapetaka”. Sebelumnya, Carnage sudah memulai agresinya lewat lagu debut berjudul “Awakening” pada September 2020, lalu “Deadnation” yang diletupkan pada Agustus 2021.
Di “Era Malapetaka”, Carnage yang digerakkan oleh I Ketut Nesa Sagita Sastra (vokal), Vito Anandita (gitar), I Kadek Ary Sumberdana (gitar), Gilang Kinan Jati (bass) dan I Gede Agustio Krisna Putra (dram) mengangkat cerita tentang fenomena kemajuan teknologi di liriknya. Inovasi yang semakin mempermudah pekerjaan dan segala kegiatan manusia di era modern.
Namun bagai pisau yang bermata dua, di sisi lain kemajuan tersebut juga menjadi bumerang bagi manusia. Karena kemudahan hal tersebut malah membuat manusia menjadi angkuh dan mulai perlahan melupakan nilai-nilai dasar moral, etika, budaya tata krama serta kemanusiaan, sehingga bisa disimpulkan “Era Malapetaka” sebagai zaman paling kacau dan peradaban paling suram di usia bumi yang semakin tua.
“Proses awal pembuatan single ini bermula dari obrolan santai tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kami. Tema di atas menjadi acuan dasar kami untuk membuat komposisi musik dan aransemen,” tutur Carnage kepada MUSIKERAS.
.
.
Eksekusi rekaman hingga hari perilisan “Era Malapetaka” berlangsung selama kurang lebih 1-2 bulan, di tengah pembatasan ruang gerak akibat pandemi. Lagu yang diproyeksikan sebagai trek andalan di album yang bakal mereka rilis dalam waktu dekat tersebut, direkam di Post Recod dan Fantasi Reborn, Bali. Masing-masing dibantu oleh Indra Wira dan Guz Cilix untuk urusan teknisnya. Lalu juga ada imbuhan instrumentasi gesek yang direkam di Miracle Media Creative, dengan bantuan teknis dari Gallant Helda. Terakhir untuk penataan suara dan pelarasan (mixing dan mastering) dipercayakan kepada Indra Cahya Septian di Texas Sicklab, Sidoarjo.
Dibanding dua rilisan sebelumnya, Carnage menerapkan konsep yang sedikit berbeda di “Era Malapetaka”. Kali ini ada nuansa musik era medieval yang melengkapi komposisi musiknya.
“Kami mencoba menggabungkan unsur deathcore dengan nuansa musik era medieval, dengan riff-riff death metal sebagai tulang punggung dari keseluruhan lagu, kami mencoba meracik musik yang padat dan berat namun tetap terdengar catchy. Grup musik asal Amerika seperti Carnifex, Unearth dan Lorna Shore merupakan dasar acuan kami untuk membuat komposisi musiknya,” cetus Carnage mengungkap lebih rinci.
Rencana selanjutnya, Carnage sedang menyiapkan penggarapan video musik untuk promosi “Era Malapetaka”. Lalu pada September mendatang, band yang terbentuk pada pertengahan 2020 lalu ini berencana memulai proses rekaman untuk materi album pertama.
“Era Malapetaka” kini sudah bisa dengarkan via berbagai platform digital penyedia jasa dengar musik seperti Spotify, Apple Music, Amazon Music, Joox, Deezer, YouTube Music, Napster, iHeart Radio hingga Tiktok. (aug/MK02)
.