RAW Menghujat Kekerasan Seksual di “What’s Normal”

When you normalize the things you should be criticizing. Rape, violance, harassment, what’s fuckin’ normal?”

Komplotan hardcore punk asal Cipanas, Jawa Barat ini melampiaskan keresahannya terhadap tingginya angka kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual di sekitar mereka, lewat sebuah lagu rilisan tunggal bertajuk “What’s Normal?”.

RAW melihat, seolah sudah menjadi hal yang lumrah ketika kekerasan terhadap perempuan itu terjadi. Kurangnya rasa peduli orang-orang terhadap hal tersebut, bahkan beberapa orang justru menyalahkan dan bahkan memaki korban.

“Tolong, bukan pakaiannya yang disalahkan, bukan jam malamnya yang disudutkan, justru si pelaku yang harus ‘dibiadabkan’. Karena seringkali perempuan atau korban diperlakukan tidak adil sejak dalam pikiran. Korban harus dilindungi, bukan dihakimi,” ujar pihak band mengemukakan alasannya.

Bagi band yang dikobarkan oleh formasi Vano Isabi (dram), Igri Aprilian (gitar), Fadel Ashidqi (gitar), Ryandra Aliefiar (bass) dan Rifqy Salman (vokal), hardcore punk bukan melulu tentang spirit, root atau passion. Tapi juga tentang keresahan dan kepedulian terhadap sekitar. 

.

.

“Menurut kami, hardcore punk merupakan suatu jalan yang agresif dalam penyampaian suatu pendapat, penempatan diri kami, dapat menjadi suatu cara dalam menyuarakan hal-hal yang patut mendapatkan perhatian dari publik dalam penanggulangan maupun pelaksanaannya. Kami menempatkan diri sebagai medium dalam ruang lingkup sexism yang sering ditemukan di ruang lingkup sekitar maupun global. ‘What’s Normal’ sendiri, berperan sebagai tombak senjata kami dalam penolakan tegas akan pelecahan seksual. ‘What’s Normal’ adalah untuk bajingan-bajingan yang masih bisa ‘tersenyum’ atas apa yang sudah mereka lakukan,” seru RAW kepada MUSIKERAS, mengekspresikan kegeraman. 

Penggarapan “What’s Normal” sendiri dijalani RAW hanya selama dua hari untuk keseluruhan proses rekaman, yang dieksekusi di Bass Studio, Bandung. Namun perjalanan sejak terbentuknya ide, sudah berlangsung selama beberapa bulan.

Meski secara gamblang menyebut area eksplorasinya di hardcore punk, namun para personel RAW memberi sentuhan berbeda di sana-sini dalam meracik musiknya. “Banyak sentuhan melodi yang berbau stoner rock gitulah dari kami, disamping ngebutnya hardcore punk ini,” cetus band yang mengaku banyak menyerap pengaruh dari band-band luar macam DS-13, Negative Approach, Minor Threat, Vitamin X hingga Attempted Suicide.

Usai melepas “What’s Normal” pada 12 Juli 2022 lalu, RAW bakal langsung mengarahkan fokus ke penggarapan album mini (EP). “Perjalanan EP kami udah setengah jalan,  tinggal tunggu touch-up sedikit buat musiknya biar lebih menarik dan terdengar lebih fresh sih tentunya.” (aug/MK02)

.

.

Jika Anda - para pembaca Musikeras - menyukai tulisan-tulisan kami dan ingin membantu / peduli akan kelangsungan karir media kami, dengan senang hati kami menerima donasi dari Anda secara sukarela. Bantuan dana bisa dikirimkan (transfer) via aplikasi OVO Musikeras 083822872349. Berapa pun bantuan Anda sangat berharga buat kami. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *