Cara SOMNIUMSAIC Ekspresikan ‘Perang Batin’ di Ranah Metal

Awal September 2022 menandai pencapaian baru band keras asal Malang, Jawa Timur ini. Karena akhirnya, Somniumsaic berhasil melampiaskan kreativitas mereka secara total di album debut bertajuk “Wars Within”. Peluncuran resminya dilakukan berjarak seminggu setelah mereka menayangkan video musik untuk lagu rilisan tunggal ketiga mereka yang berjudul “Devilish Love”, dimana Somniumsaic berkolaborasi dengan Priskila Oktaviani. 

Band bentukan Mei 2017 yang diperkuat formasi Alexander Agustinus (vokal), Alfonsus Abimatha (gitar), Antonius Sandy (gitar), Bartolomeus Renaldo (bass) dan Meinard Abdi Gusti (dram) ini menyebut “Wars Within” sebagai bukti keseriusan mereka dalam berkarir, walau masih terhitung sebagai band pendatang baru. 

Ada 10 lagu yang terekam di “Wars Within”, yang dieksekusi pada awal pandemi, tepatnya sejak Juni 2020 hingga September 2021. Wabah Covid-19, di mata mereka, membawa dampak negatif sekaligus positif, mengingat hampir seluruh lagu yang ada di album mereka itu digarap selama masa pandemi. Kondisi itu memberi tantangan tersendiri bagi Somniumsaic untuk bisa tetap produktif, di kala kondisi serba tidak menentu dan membatasi.  

Penggunaan “Wars Within” sebagai judul album diambil dari salah satu judul lagu yang ada di dalam album tersebut. Liriknya ditulis oleh Meinard, menceritakan kondisi dimana seseorang mengalami fase jatuh dalam hidupnya hingga terjebak dalam pikiran yang kelam. Perasaan terbelenggu di masa lalu diiringi rasa ingin bangkit lagi pada waktu yang sama, memicu terciptanya perang batin dalam dirinya.

“Wars Within” sendiri sebagai judul album, secara garis besar banyak bercerita tentang proses hidup dan pergulatan batin yang dirasakan masing-masing personel. Berbagai macam hal tersebut diwakili oleh setiap lagu dalam album ini. Topik tentang cinta, politik, isu sosial, sampai dengan masalah kesehatan mental dirangkum oleh tema perang batin ini. Situasi perang batin pasti terjadi di setiap keputusan dalam suatu proses hidup ini.

Sementara di desain grafis sampul album, Somniumsaic mempercayakan perancangannya kepada gitaris mereka sendiri, Abimatha. Konsepnya mengambil filosofi Jawa tentang empat sedulur, lima pancer. Bahwa sejatinya seorang manusia lahir dengan empat pendamping yang melindunginya dari empat arah mata angin. Sedangkan pancer adalah diri kita sejatinya, yang ada di tengah, pusat, atau pancer dalam bahasa Jawa.

.

.

“Dalam visual art album ‘Wars Within’, digambarkan situasi saat keempat pelindung tersebut justru berusaha menyerang diri kita sebagai pusat. Situasi ini digambarkan dengan arah pedang yang menghadap ke dalam dari tiap sisi. Tentu saja ini merupakan metafora dari ‘Wars Within’ atau perang batin, ketika kita harus berdebat dengan diri kita sendiri,” urai pihak band merinci filosofi albumnya.

Band-band dunia dari ranah seputaran modern metal, djent hingga post-hardcore menjadi acuan utama Somniumsaic dalam meracik karya lagunya. Antara lain, mereka menyebut Dayseeker, Bad Omens, Bring Me The Horizon, Polaris, hingga proyek solo dari gitaris Jason Richardson. Dengan referensi itu, Somniumsaic berusaha menjadikan modern metal lebih ‘ramah’ di kuping banyak orang, dengan sedikit mengarahkannya ke gaya ‘rock radio’ dengan memperbanyak isian vokal yang clean.

“Konsep musik yang kami terapkan mayoritas adalah 70% vokal clean, dan 30% scream secara umum. Kami ingin menggabungkan formula rock radio berisi materi yang mudah diterima oleh kuping awam dengan part keras pada klimaks lagu tertentu. Salah satu lagu, yakni ‘Hatred’ kami konsep full keras agar tetap ada lagu dalam album kami yang dapat digunakan untuk ‘headbang’. Beberapa lagu lain seperti pada ‘The Way It Ends’ dan ‘Left Unsaid’ menggunakan vokal clean penuh, tetapi tetap diisi dengan isian gitar yang kompleks sebagai gantinya. Sisanya adalah gabungan dari komposisi 70% clean dan 30% scream tadi,” beber Somniumsaic kepada MUSIKERAS memperjelas.

Tapi dari sekian lagu yang mereka gelar di “Wars Within”, Somniumsaic menunjuk lagu berjudul “Flamed” sebagai komposisi yang paling menantang proses rekamannya. Kesulitannya antara lain di isian gitar clean pada bait pertama lagu tersebut, yang mereka sebut sangat tricky karena dibuat dua versi, dan yang dipilih adalah versi yang lebih sulit.

Part ini menggabungkan petikan clean dengan tapping ala (band) Polyphia. Pada bagian vokal di bait juga kami buat dua versi karena versi pertamanya sangat terbawa dengan salah satu band referensi kami. Maka untuk memperjauh kemiripan, kami membuat versi alternatif dari bait tersebut, dimana versi itulah yang sekarang dapat dinikmati di platform musik digital.”

Oh ya, “Wars Within” yang direkam di Mexie Project ini kini sudah dapat dinikmati di berbagai platform digital. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.