YIAZMAT Terapkan ‘Law of Attraction’ di “KSTB”

Usai membuka kiprah karirnya lewat dua lagu rilisan tunggal, yakni “Lawan” yang dilepas pada 12 Februari 2021 serta “10/100” pada 29 September 2021, kini pejuang alternative rock asal Bandung, Jawa Barat ini kembali memanaskan mesin kreativitasnya. Sebuah karya lagu baru bertajuk “Kalimat Serah Tak Berarti (KSTB)” dirilis untuk kembali meriakkan skena musik independen.

Lirik “KSTB” sendiri berbicara tentang filosofi tua, ‘law of attraction’ (hukum tarik menarik) yang mereka yakini, bahwa hal terpenting yang bisa dilakukan untuk menjawab keraguan mereka selama ini adalah dengan terus mengambil langkah-langkah kecil yang sejalan dengan apa yang ingin dicapai. Manurut Yiazmat, tulisan di lagu tersebut meyakini bahwa ketika seseorang yang sangat menginginkan suatu hal untuk dicapai dan bersamaan dengan upaya yang sangat keras di sepanjang perjalanan menuju harapan tersebut, maka hal itu akan menarik energi dari luar diri, juga semesta, masuk dan bermanifestasi pada realita akan harapan yang sedang diperjuangkan.

Formasi Abram Demas (vokal), Andre Perdiana (gitar/vokal), Garry Prang (gitar/vokal), Muhammad Hafiz (bass) dan Dimas Makdus (dram) menggarap rekaman “KSTB” secara hybrid, dimana mereka mengombinasikan penggarapan di sebuah kamar sewaan yang menjadi markas Yiazmat, serta di Devota Rock Studio, milik gitaris Ivan F. Devota (Henohenomohe).

“Kebetulan kami berteman baik dan sudah beberapa kali mengerjakan lagu di sana. Studionya enak, adem. Untuk waktu penggarapannya, kami cukup banyak makan waktu di studio kami karena segala proses kreatif dan producing pun kami kerjakan sendiri. Selebihnya kami lempar bagian mixing dan mastering ke mas Ivan di Devota Rock Studio,” tutur Yiazmat kepada MUSIKERAS mengungkap proses di baliknya.

.

.

Salah satu bagian menarik dari peracikan aransemen di lagu “KSTB”, lanjut Yiazmat lagi, adalah dimana mereka kali ini cukup banyak bermain dengan formula baru. Khususnya dari segi sound yang banyak menambahkan elemen elektronik seperti synth dan pad yang cukup dominan. Bahkan pada verse pertama mereka juga menempatkan arpeggiator sebagai selipan (filler).

“Kami juga mulai bereksperimen dengan birama dan tempo yang dinamis pada lagu ini. Kami memilih birama 6/8 yang sebelumnya tidak pernah sama sekali kami mainkan di lagu kami sebelumnya. Garry sebagai komposer utama di lagu ini yang mencetuskan dan membuat ritme pertama pada awal penulisan. Jika pendengar sangat jeli dengan tempo pada sebuah lagu, maka akan disadari pada lagu ‘KSTB’ ini ada penurunan tempo di beberapa bagian bagan lagu dan itu membuat mood dari lagunya menjadi lebih dinamis.”

Album milik Bring Me the Horizon, yakni “Post Human: Survival Horror” serta album Halsey yang berjudul “If I Can’t Have Love, I Want Power” cukup sering didengarkan saat Yiazmat menjalani proses kreatif peracikan “KSTB”, satu tahun belakangan. Juga ada referensi dari lagu-lagu anime Jepang yang didengarkan setiap hari, yang tentunya sedikit banyak juga memberi pengaruh.

“Kira-kira akumulasi dari lagu-lagu tersebut yang menjadi referensi selama penggarapan aransemen lagu ‘KSTB’,” ucap pihak band lagi menegaskan.

Setiap bulan, Yiazmat yang disahkan kelahirannya pada 2019 lalu rencananya akan merilis satu lagu. Sejauh ini sudah menyiapkan tiga lagu sebagai materi rilis hingga Januari tahun depan. Dan lagu-lagu tersebut kini hanya menyisakan tahapan mixing. “Kami juga sedang menyiapkan video musik serta video lirik untuk single ‘KSTB’ yang rencananya akan kami tayangkan di bulan November nanti.”

Kini, “KSTB” sudah bisa didengarkan di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, Amazon Music, Deezer, Resso, Shazam, Tidal dan YouTube. (aug/MK02)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.