Hindari Hardcore Klise, REGICIDE Luapkan “Hymne Pencakar Surga”

Dengan kendaraan bernama ‘new school hardcore’, pejuang cadas asal Denpasar, Bali ini menemukan kebebasan tak terbatas dalam bereksplorasi. Dari segi teknis – di mata mereka – memainkan gaya tersebut sangat menguntungkan, karena memberi keleluasaan dalam meramu dan meracik berbagai elemen musik yang mereka sukai.

“(Kami) Tidak terjebak pada term hardcore yang selama ini selalu identik dengan beatdown-nya, atau ketukan patah-patah-nya. Kami menempatkan hardcore sebagai kerangka berpikir kami, sebagai metode pembedahannya, namun secara musikal kami bebas bermain-main dan memasukan berbagai elemen musik yang kami sukai,” urai Regicide kepada MUSIKERAS, merinci konsep musiknya. 

Konsep itu, kembali mereka terapkan di sebuah lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “Hymne Pencakar Surga”. Kali ini, band yang dihuni formasi Krisna Teja (vokal), Wisnu Astawa (gitar), Artha Wijaya (gitar), Endi Widnyana (bass) dan Astina Suta (dram) ini menekankan pada terapan riff-riff serta tempo yang mengentak dan cepat. Menggunakan nuansa musik metal sebagai gestur aransemennya. Gaya penulisan lirik masih dalam koridosr Bahasa Indonesia yang dituturkan secara puitis, bersajak, namun tanpa meninggalkan aroma destruktif dan keras di dalamnya.

Bagi Regicide, new school hardcore atau metalcore pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Karena banyak band referensi mereka, macam Earth Crisis, Shai Hulud atau semacamnya, sudah lebih dulu menerapkannya. Gerakan itu, lantas diteruskan oleh As I Lay Dying, Killswitch Engage, dan serombongannya yang memopulerkan nama metalcore.

“Pada intinya, new school hardcore atau metalcore menurut kami adalah genre hardcore yang sudah banyak dipengaruhi elemen-elemen heavy metal, melalui ketukan dan riff-riff-nya, serta tone nada yang lebih tebal. Pada single ‘Hymne Pencakar Surga’ ini, kami justru lebih banyak mengeksplorasi referensi dari band-band yang ber-genre Swedish death metal atau melodic death metal semacam At The Gates dan In Flames. Untuk dasar musiknya, kami ramu dengan lirik yang sangat hardcore – kental akan nuansa positive mental attitude dan tanpa menggunakan umpatan atau makian – serta sedikit elemen desert metal atau stoner yang kami sisipkan sebelum part melodi.” 

.

.

Sisi lain dari eksplorasi Regicide, juga terdapat di sisipan ‘gelombang-gelombang semesta’ ke dalam aransemennya, melalui penggunaan frekuensi yang dihasilkan oleh singing bowl, dan ditanamkan secara binaural ke dalam lagu tersebut. Mereka berusaha menyeimbangkan antara frekuensi maskulin melalui riff-riff heavy metal dengan tempo cepat, yang disandingkan dengan suara-suara menenangkan dari getaran gelombang singing bowl yang bertempo lambat. Seolah terpendam halus di balik aransemen heavy metal yang garang.

Penggarapan rekaman “Hymne Pencakar Surga” sendiri dieksekusi Regicide selama dua bulan, mulai dari penulisan lirik hingga proses mixing dan mastering. Mereka merekamnya di Badpunz Studio, milik salah satu personel Regicide. Era digitalisasi saat ini – menurut mereka – sangat mempermudah proses produksi. Karena para personel Regicide tidak mengalami proses jamming studio sebelumnya, lantaran terkendala kesibukan dan kondisi pandemi. “Jadi proses peracikan dilakukan di rumah masing-masing, dan komunikasi intens melalui (aplikasi) grup Whatsapp dan saling bertukar data,” cetus mereka.

Setelah perilisan “Hymne Pencakar Surga”, saat ini Regicide tetap bergerak untuk memproduksi materi-materi lainnya. Sejauh ini belum ada rencana mutlak apakah nantinya bakal merilisnya ke dalam format album mini (EP) atau album penuh. Tapi yang pasti, mereka sudah mengantongi empat materi lagu baru yang antri untuk segera diselesaikan.

“Sudah selesai pada tahap musik, masih kurang untuk penulisan lirik dan perekaman bagian vokalnya saja. Jujur, di usia band saat ini, kami lebih menikmati dan mensyukuri momen kebersamaan kami sebagai sebuah kolektif  atau keluarga, dan tidak terlalu menargetkan harus mengeluarkan ini dan itu. Musik, bagi kami sudah seperti sebuah asupan rutin. Seperti nafas, dimana harus selalu menghirupnya dari berbagai arah dan mengeluarkannya dalam bentuk karya-karya.”   

Sampai hari ini, Regicide yang mulai menggeliat pada 2003 silam sudah menelurkan karya rekaman “Demo EP” (2007), “EP Regicide” (2020), “Remixed EP Regicide” (2022) serta tiga lagu rilisan tunggal, yakni “Lahir, Hidup dan Mati” (2021), “Anxiety” (2021) dan “Hymne Pencakar Surga”. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
incremation
Read More

INCREMATION: Kini Dinaungi Label Asal AS

Melalui New Standard Elite, Incremation merilis “Litany of Deliverance” yang sedikit banyak merupakan gambaran awal dari wajah album terbarunya nanti.
analtopsy
Read More

ANALTOPSY: Semakin Sadis dan Gelap

Melalui album mini (EP) “Septic Overload”, Analtopsy melangkah lebih jauh, dengan distorsi yang lebih berat, lebih kotor dan lebih brutal dari sebelumnya.
antrodemus
Read More

ANTRODEMUS: Death Metal 70-an?

Album terbaru Antrodemus, “Annihilation” memperlihatkan arah baru musik mereka yang semakin progresif, yang menyatukan agresi ekstrem dengan refleksi filosofis.
tcwc
Read More

TCWC: ‘Genosida’ Berdaya Ledak Tinggi

Suarakan perlawanan terhadap manipulasi politik dan agama, The Chance We Created (TCWC) melepas lagu baru, sebuah pesan sosial-politik yang sangat berani.