BURGERKILL Ungkap Alasan, Mengapa “Resilient Blood” lebih Beringas

Ketika MUSIKERAS mewawancarai gitaris Burgerkill, Agung Ridho Widhiatmoko a.k.a. Agung Hellfrog pada Desember 2021 lalu, ia mengakui sangat berat menggerakkan roda Burgerkill kembali setelah sang founder, Aries Tanto a.k.a. True ‘Eben’ Megabenz meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Khususnya dalam menghasilkan karya lagu, yang biasanya mereka racik berdua.

Namun untungnya, selain dari lingkaran pertemanan Burgerkill serta para Begundal (penggemar fanatik mereka), suntikan semangat juga tak henti dikobarkan para personel yang tersisa, serta restu dari pihak keluarga Eben sendiri. Kombinasi itu lantas melahirkan karya lagu “Roar of Chaos”, yang dilepasliarkan ke berbagai paltform digital akhir 2021. Bahkan lagu itu sempat nangkring di lima besar nominasi “Artis Solo Pria/Wanita/Grup/Kolaborasi Metal Terbaik” AMI Awards 2022.

Kini, lebih dari setahun sejak kepergian Eben, Burgerkill terbukti tetap tangguh dan tetap produktif. Bahkan kini sudah mengantongi enam lagu kasar untuk kebutuhan produksi album baru. Sebuah lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “Resilient Blood” telah diperdengarkan sejak dua hari lalu ke khalayak sebagai pemanasan. Lalu akan menyusul satu lagu baru lagi, yang saat ini masih dalam tahap perekaman.

“Resilient Blood”, menurut uraian Agung kepada MUSIKERAS, tidak berbeda metode penggarapannya dibanding “Roar of Chaos”. Secara teknis, dimulai dari ide-ide riff gitar dari dirinya, yang kemudian diteruskan ke personel lain, yakni bassis Ramdan Agustiana, dramer Putra Pra Ramadhan serta vokalis Ronald A. Radja Haba. Mereka lalu mengembangkan komposisinya, antara lain lewat penggambaran melalui format MIDI. Termasuk untuk isian vokal, yang diniatkan didiskusikan secara serius di rumah Agung, sambil menyicil penyusunan lirik saat penggarapan aransemen.

.

.

Kontribusi Ronald di “Resilient Blood”, menurut Agung, sudah sangat jauh berkembang. Jika di “Roar of Chaos” masih penyesuaian, kini lebih eksploratif. Dia itu dasarnya lebih death metal, lebih low, pas masuk Burgerkill dibuat lebih high, kayak vokalis-vokalis Burgerkill sebelumnya. Ronald sempat merasa rada aneh awalnya, tapi sekarang lebih ditajamkan dan detail. Misalnya frekuensinya di mana… teknis ngeluarin suaranya lebih diulik.”

Hasilnya, traek berdurasi 4 menit 29 detik tersebut memang dipacu kencang tanpa ampun, bagai mesin yang tengah memanas usai berkutat di atelier selama satu setengah tahun. Merancang ulang rangka instrumen dari komponen tersisa dengan keyakinan teguh dan harapan baru, menjelajahi senarai yang menjadi pakem dari cetak biru yang ditinggalkan sang empu sembari menempa asa untuk bersiap kembali menghajar jalanan. Lewat “Resilient Blood”, Burgerkill ibarat mengekspresikan kondisi percaya diri, positif dan persisten dalam menghadapi era baru. “… Heat the engine, Count the miles again ….

Walau terbilang beringas, namun “Resilient Blood” yang tadinya diproyeksikan rilis saat Burgerkill pentas di Wacken Open Air Festival tahun lalu – namun gagal lantaran ketidaksiapan teknis – sebenarnya sempat diarahkan untuk menjadi lagu yang lebih ‘pelan’ dibanding “Roar of Chaos”. Bayangannya kurang lebih seperti “House of Greed”, salah satu lagu dari album “Venomous” (2011).

“Ya, awalnya pengennya dibikin lebih pelan, tapi jadinya malah lebih chaos. Dari segi beat dan komposisinya. Padahal niat awalnya nggak gitu. Pas aransemen udah lengkap, di tengah prosesnya banyak tambahan pas diskusi sehingga menjauh dari niat awalnya. ‘Roar…’ malah terdengar jadi lebih ringan…,” seru Agung sambil tertawa.

Seperti proses penggodokan lagu-lagu Burgerkill sejak dulu, para personel selalu menyimak berbagai perkembangan di skena metal dunia, lalu menyerap inspirasi-inspirasi yang sekiranya sesuai diterapkan di Burgerkill. Selain masih mengacu ke konsep “Roar of Chaos” serta inspirasi dari lagu “House of Greed” tadi, mereka juga banyak menyantap karya-karya modern metal masa kini. Di antaranya dari band Gojira atau terapan suara-suara dissonant dari pola Djent.

Komposisi “Roar of Chaos” ditulis di sela-sela perjalanan panggung-panggung regular Burgerkill pada 2022 lalu. Eksekusi perekamannya sendiri dikerjakan pada Juli dan September tahun lalu, dimana isian dram dan vokal dilakukan di Escape Studio, Bandung bersama pengarah teknis, Toteng ‘Forgotten’. Kemudian untuk bass dan gitar direkam di Sandfish Studio, Bandung oleh Ramdan Agustiana. Hasil rekaman keseluruhan lantas dipoles di tahapan mixing dan mastering yang dipercayakan kepada Budianto di Massive Studio, Jakarta. 

Petualangan musikal selama lebih dari dua dasawarsa – sejak terbentuk pada 1995 silam di Bandung – telah menjadikan Burgerkill sebagai salah satu kelompok musik metal ekstrim yang sangat diperhitungkan kekuatannya. Masih konsisten berkarya, aktif melakukan terobosan-terobosan krusial dan tekun membuka jejaring global melalui kreasi nada imajiner. “Resilient Blood” yang sudah bisa dilantangkan melalui berbagai platform digital, menjadi indikasi esensial bagi eksistensi Burgerkill di kancah industri musik lokal dan internasional. Sebuah spirit yang telah terpatri, wasiat dari sang arsitek peletak fondasi serta intisari dari semangat yang tak akan pernah pudar. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *