SPEED METAL PROJECT Ubah Haluan ke Jalur Neo-Classical Metal

Saat pandemi mengekang kebebasan, tidak sedikit musisi atau band yang terpaksa harus menunda program rilisan karyanya. Termasuk Samiaji aka ‘Aji Brokenbones’, gitaris teknikal asal Bandung, Jawa Barat ini. Penggarapan karya rekaman album kedua dari bandnya, Speed Metal Project (SMP) butuh hampir lima tahun untuk dirampungkan. 

Tapi sejak Desember tahun lalu, akhirnya album baru bertajuk “EgoCentic” tersebut telah dilepas resmi via label independen asal Amerika Serikat, Shredguy Records dalam format fisik.

“Proses penggarapan album tersebut, menurut tuturan Aji kepada MUSIKERAS, dilakukan nyaris tanpa tatap muka dengan para personel SMP. Materi-materi lagu yang digodok dikirim melalui aplikasi obrolan WhatsApp lantaran pembatasan pandemi. Ditambah lagi, Aji sendiri juga sempat terserang virus Covid-19. Dan yang membuat prosesnya menjadi lebih rumit karena juga ada perubahan formasi band. Kini di lini vokal hanya diperkuat satu personel.

“Jujur aja penggarapan album kedua ini butuh waku hampir lima tahun, karena adaptasi dari dua vokal menjadi satu vokal saja. Dan karena pengarapan (dilakukan pas) pandemi, jadi nggak ada latihan. Gue langsung kasih track-nya, waktu ngulik cuma satu minggu,” seru Aji mengenang.

O ya, kecuali ada yang berkurang di vokal, personel SMP sendiri masih diperkuat formasi lama, yakni Deny Malik (vokal), Dede SP (bass), Moch Rifal Ars aka Pay (gitar), Evan (kibord) dan Resha Kharisma (dram). “Jadi sekarang vokal hanya mengandalkan lengkingan dari Deny. Personel lain masih yang lama, ‘anak-anak’ masih bertahan sama ego gue… hahaha!”

Selain pengurangan formasi, tujuh komposisi gesit yang menyesaki album “EgoCentic” juga kini mengalami pergeseran konsep musik. Tidak lagi didominasi keepikan power metal. Tapi kali ini, Aji dan personel lainnya sepakat untuk menggenjot paham neo-classical metal secara penuh.

“Gue bingung awalnya mau dibuat apa,” ujar Aji terus-terang. “Jadi gue benar-benar mengubah haluan, dari genre power metal ke neo-classical.”  

Di salah satu lagunya yang berjudul “Greedy Instinct”, Aji mengaku lumayan tertantang saat mengeksekusi rekamannya. Instrumentasinya paling sulit. “Bukan hanya memasukan unsur neo-classical yang kental di lagu itu, (tapi) juga karena menerapkan tempo yang cukup cepat.” 

Sebelum “EgoCentic”, SMP sudah melepas satu album mini (EP) yang berjudul “King of the Universe” (2015). Di luar itu, Aji yang pernah mencetak rekor “The Fastest Twin Guitar Player” versi RHR (Record Holders Republic) pada 8 Mei 2016 silam, juga telah melahirkan dua album solo. Masing-masing berjudul “Save Our Cultur of Sundanese” (2013) dan “Mystic of Shred” (2015), yang juga dirilis via Shredguy Records. Salah satu ciri khas Aji dalam bermain gitar adalah menggunakan gitar berleher kembar, yang dimainkannya dengan teknikal dan cepat. (mdy/MK01)

.

.

1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
romo
Read More

ROMO: Sosok Berblangkon dalam Ranah Metal

Lagu kedua dari solois metal berblangkon, ROMO telah diluncurkan ke berbagai gerai digital, dengan konsep musik yang lebih galak, jujur dan gelap.
heri batara
Read More

HERI BATARA: Dari Edane ke Architects?

Heri Batara turun gunung luncurkan lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “We Are Not Fall In” yang berkontur rock modern, sebagai pembuktian eksistensi.