Lewat EP, HUSTED Luapkan Amarah di Jalur Hardcore Metal

“Tidak ada alasan lain selain ‘hardcore ‘till die’!”

Begitu seruan vokalis Husted, Ridyantama Christian saat ditanya MUSIKERAS pada 2021 lalu, mengenai alasannya memilih bermusik di jalur hardcore. Mungkin tidak bermakna harfiah, tapi paling tidak, Husted memang memperlihatkan semangat tingginya untuk terus menggulirkan karir di paham tersebut. Terbukti, sebuah album mini (EP) bertajuk “Die And Nobody Know” kini telah mereka lahirkan dan telah disemburkan ke skena digital.

Husted sendiri terbentuk pada 22 November 2020 lalu di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Selain Ridyantama, band ini juga diperkuat Kurniawan Aji (gitar), Mochamad Haikal Nurrahman (bass) serta Nico Janitra (dram). Di EP pertamanya ini, mereka menceritakan tentang meluapnya kumpulan amarah yang selama ini hanya terpendam, karena serangan internal maupun eksternal dari individu maupun kelompok.

Kira-kira dua bulanan Husted menggodok rekaman “Die And Nobody Know”, termasuk pemolesan mixing dan mastering. Proses perekaman dieksekusi di studio mandiri milik Kurniawan Aji. Tapi khusus rekaman vokal dilakukan di dua tempat, yakni di rumah vokalis dan di tempat Abdul Gafur, personel band Make Your Time Howl. Sementara untuk mixing dan mastering dipercayakan pengolahannya di Griffin Studio yang berlokasi di Kota Malang.

.

.

Ada kisah menggelikan saat mereka pertama kali merekam vokal untuk lagu ketiga, di kamar Christian. Tanpa disadari, suara saat rekaman terdengar hingga ke rumah salah satu tetangga, yang lantas datang dan menegur.

“Tegurannya pun lebih lucu, bukan ke arah marah, (melainkan) mengira di dalam rumah ada yang ‘kesurupan’, karena dia taunya rumah saya biasanya sepi, sehingga take kami hentikan sementara, dan beberapa waktu kemudian kami ditawarkan untuk take vokal di salah satu teman personel band Make Your Time Howl sampai selesai,” urai Christian kepada MUSIKERAS, mengenang. 

Seperti sudah ditegaskan di awal artikel tadi, hardcore memang menjadi pegangan kuat Husted dalam meracik komposisi lagu-lagunya. Tapi mereka menyampurnya dengan beberapa genre lain, dari beberapa band seperti Jesus Piece, Candy, Knocked Loose, Rise of the Northstar (ROTNS), Year Of The Knife, Varials, Fit For An Autopsy, Thy Art Is Murder hingga Counterparts.

“Kami menerapkan hardcore metal, sedangkan hal yang membuatnya istimewa adalah, kami membuat isi materi dari campuran beberapa genre menjadi satu, dan output kesedihan dari beberapa personel kami mengenai persoalan love life yang begitu problematik,” seru Haikal menambahkan. 

EP “Die And Nobody Know” kini sudah bisa didengarkan melalui berbagai platform musik digital seperti d Bandcamp, Spotify dan Apple Music. (aug/MK02)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
analtopsy
Read More

ANALTOPSY: Semakin Sadis dan Gelap

Melalui album mini (EP) “Septic Overload”, Analtopsy melangkah lebih jauh, dengan distorsi yang lebih berat, lebih kotor dan lebih brutal dari sebelumnya.
antrodemus
Read More

ANTRODEMUS: Death Metal 70-an?

Album terbaru Antrodemus, “Annihilation” memperlihatkan arah baru musik mereka yang semakin progresif, yang menyatukan agresi ekstrem dengan refleksi filosofis.
tcwc
Read More

TCWC: ‘Genosida’ Berdaya Ledak Tinggi

Suarakan perlawanan terhadap manipulasi politik dan agama, The Chance We Created (TCWC) melepas lagu baru, sebuah pesan sosial-politik yang sangat berani.