Setelah Satu Dekade, ARM AS WEAPONS Lepas Amunisi Baru

Untuk merayakan satu dekade agresi mereka di skena ‘bawah tanah’, unit keras bergestur hardcore asal Jakarta ini akhirnya berkarya lagi di pentas rekaman. Sebuah lagu rilisan tunggal terbaru, bertajuk “When We Grow, This is What We Can Do” telah dilantangkan band bentukan 2013 silam ini di berbagai platform digital.

Arm as Weapons meyakinkan, mereka kini semakin matang dalam mengolah karya. Khususnya jika dibandingkan dengan materi mereka di album penuh debut, “After We Comeback” yang diluncurkan pada 2022 lalu.

“Kami cukup mendapat referensi dari Comeback Kid, Madball dan Terror di album pertama. Namun karena rasa eksplorasi kami sangat kuat, untuk menambahkan referensi kami sebelumnya, single baru ini banyak mengadaptasi energi dari band yang malah membentuk referensi kami makin meluas, seperti Motorhead, Bring Me The Horizon dan Foo Fighters,” beber pihak band kepada MUSIKERAS terus-terang.

Mereka mengakui, “After We Comeback” merupakan album pertama, dimana saat penggarapannya, para personel Arm as Weapons – Hasyim ‘Acim’ Wahab (vokal), Anbigart ‘Bigart’ Rangga Mahardie (gitar), Luthfi ‘Ale’ Faroki (gitar), Anprisarc ‘Dani’ Rangga Mahardie (dram) dan Al ‘Aal’ Furqon (bass) – masih terlalu terpaku pada band-band yang berpaham hardcore saja.

“Sedangkan di konsep musik ‘When We Grow, This is What We Can Do’, kami mulai bereksplorasi (dengan) menambah referensi untuk mendapatkan audiens yang lebih luas lagi, tapi tetap dengan benang merah musik rock. Dari segi musikal, kami mendeskripsikan ini adalah sebuah lagu yang menampilkan kecepatan, kekuatan dan intensitas dalam genre musik hardcore/modern rock, termasuk riff gitar yang berulang-ulang, vokal yang keras, lirik yang menggambarkan frustrasi dan ketidakpuasan serta breakdowns.”

.

.

Proses kreatif penggodokan “When We Grow, This is What We Can Do” yang sempat masuk dalam daftar dengar (playlist) “Cadas Bergema” di Spotify tersebut dijalani para personel Arm as Weapons dengan sangat serius. Sebelum memasuki tahapan rekaman, mereka sudah melakukan workshop beberapa kali dan kerap keluar-masuk studio untuk latihan membawakan lagu tersebut selama sekitar sebulan. “(Jadi) Sampai pada hari H rekaman kami hanya mengambil satu shift (6 jam),” seru pihak band, yang mengeksekusi rekamannya di Shockline Records, studio rumahan milik rekan mereka.

Arm as Weapons menyebut “When We Grow, This is What We Can Do” sebagai karya lagu yang diproduksi mandiri dengan semangat kebersamaan, konsistensi serta semangat juang untuk terus mempertahankan eksistensi. Merupakan bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih mereka kepada para pendengar – yang menurut data Spotify juga dikonsumsi metalhead dari berbagai kota di luar negeri seperti Los Angeles, New York City, Chicago, Sydney hingga Melbourne – yang masih mendukung Arm as Weapons selama ini.

Lagu itu, juga diharapkan bisa menunjukan perkembangan serta kualitas musikal band selama 10 tahun terakhir, sekaligus diharapkan dapat memperkuat posisi Arm as Weapons sebagai salah satu band underground di Indonesia.

Single ini adalah pesan tentang semangat juang kami selama satu dekade terakhir, dan semangat kami untuk terus berkembang dan berinovasi dalam musik,” ujar Acim, vokalis Arm as Weapons. “Kami ingin memotivasi dan menginspirasi pendengar untuk terus berusaha bertahan mencapai impian mereka.”

“When We Grow, This is What We Can Do” sendiri ditulis oleh para anggota Arm as Weapons sendiri. Berangkat dari riff gitar yang dimainkan Bigart, lalu disambut dengan ketukan dram dari Dani dan menyusul instrumen dari Ale dan Aal sehingga menampilkan sound yang khas dari Arm as Weapons. Acim lalu menambahkan lirik yang penuh makna dan menggugah. 

Setelah perilisan “When We Grow, This is What We Can Do”, rencana Arm as Weapons berikutnya adalah menyicil materi lagu untuk kebutuhan album kedua. Sejauh ini sudah ada empat lagu yang berada di tahapan awal, yakni pengonsepan konsep panduan isian gitar dan dram. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.