Kabar Keras Dunia: SUM 41, POPPY, DEF LEPPARD, SYSTEM OF A DOWN, SCAR SYMMETRY

Senin, 8 Mei 2023 menandai detik-detik menuju pembubaran sebuah band rock senior asal Kanada, SUM 41. Pada hari itu, secara resmi band ini menyiarkan pernyataan untuk bubar setelah berkarir sejak 1996 silam.

“Kami selamanya berterima kasih kepada penggemar kami, baik yang lama maupun baru, yang telah mendukung kami dalam segala hal. Sulit untuk mengartikulasikan cinta dan rasa hormat yang kami miliki untuk Anda semua dan kami ingin Anda mendengar ini dari kami terlebih dahulu. SUM 41 akan dibubarkan. Kami masih akan menyelesaikan semua jadwal tur kami yang akan datang tahun ini, dan kami menantikan untuk merilis album terakhir kami, ‘Heaven :x: Hell’, bersama dengan tur dunia terakhir untuk merayakannya. Detailnya akan diumumkan segera setelah kami mendapatkannya,” tulis pihak band via siaran pers resminya.

Sejak terbentuk, sejauh ini Sum 41 telah merilis delapan album studio, yaitu “All Killer No Filler” (2001), “Does This Look Infected?” (2002), “Chuck” (2004), “Underclass Hero” (2007), “Screaming Bloody Murder” (2011), “13 Voices” (2016), “Order in Decline” (2019) dan album terakhir yang belum diumumkan jadwal rilisnya, “Heaven :x: Hell”.

Pada 19 Maret 2023 lalu, SUM 41 sempat dijadwalkan hadir di panggung Gudfest 2023, di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Jakarta. Namun gagal. Sebelumnya, SUM 41 antara lain pernah menggelar konser di Tennis Indoor Senayan, Jakarta pada 3 Mei 2008 dan di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta pada 10 April 2012.

Kredit foto: Ashley Osborn (SUM 41)

.

Lagu SYSTEM OF A DOWN yang berjudul “Chop Suey!” berhasil mencatat rekor di platform digital streaming Spotify. Lagu yang menjadi unggulan pertama dari album kedua band rock asal California, AS tersebut, “Toxicity” berhasil menembus jumlah pemutaran (streams) sebanyak lebih dari satu milyar kali. Prestasi ini melengkapi rekor serupa yang dicapai video musik “Chop Suey!” di kanal YouTube beberapa waktu sebelumnya, dimana juga telah ditonton sebanyak lebih dari satu milyar kali. “Chop Suey!” dirilis pertama kali pada Agustus 2001 silam dan berhasil masuk deretan nominasi Grammy Awards 2002 untuk kategori “Best Metal Performance”.

.

DEF LEPPARD sekali lagi akan merilis sebuah album yang memuat lagu-lagu terbaiknya sepanjang karir. Namun kali ini dikemas berbeda. Di rilisan kolektif bertajuk “Drastic Symphonies” yang akan mulai beredar pada 19 Mei 2023 mendatang, Def Leppard menyuguhkan konsep interpretasi ulang karya-karya rekaman terbaiknya, yang dipadukan dengan balutan orkestrasi dari Royal Philharmonic Orchestra, London. Dalam eksekusi produksinya, sebagian trek asli lagu-lagunya dipermak untuk menyesuaikan dengan karakteristik liukan aransemen orkestra. Namun di beberapa bagian, juga ada rekaman vokal dan gitar yang baru. 

Penggarapannya rekaman untuk orkestra dilakukan di studio legendaris, Abbey Road pada Maret 2022 lalu, bersama arahan produser Ronan McHugh dan Nick Patrick serta Eric Gorfain yang menangani olahan aransemennya. Ada 15 trek yang termuat di “Drastic Symphonies”, di antaranya adalah “Animal”, “Pour Some Sugar On Me”, “Hysteria”, “Love Bites”, “Bringin’ On The Heartbreak”, “Too Late For Love” dan “When Love & Hate Collide”. Sementara khusus untuk versi piringan hitam dan Blu-Ray (Atmos), akan ada bonus lagu “Have You Ever Needed Someone So Bad”.

.

Penyanyi dan penulis lagu nyentrik asal AS, POPPY kembali menggetarkan skena metal. Kali ini, ia mendaur ulang lagu “Spit”, komposisi karya band metal wanita asal Kanada, KITTIE. Hasil olahan interpretasi baru dari penyanyi yang punya nama asli Moriah Rose Pereira tersebut mendapat sambutan sangat positif dari para penggemarnya, juga dari kubu Kittie sendiri. Poppy sendiri selama ini dikenal sebagai penyanyi yang cenderung mengeksplorasi berbagai elemen musik – khususnya pop, rock, metal, electronic, industrial dan experimental – menjadi komposisi unik yang kini menjadi ciri khasnya. 

.

Setelah jeda yang cukup lama, akhirnya SCAR SYMMETRY kembali mengaum lewat album baru bertajuk “The Singularity (Phase II – Xenotaph)”. Karya rekaman baru yang akan mulai diedarkan resmi pada 9 Juni 2023 mendatang tersebut telah dipanaskan lewat lagu unggulan pertamanya, yang berjudul “Chrononautilus”. Band melodic death metal asal Swedia bentukan 2004 silam ini terakhir kali merilis album pada 2014 silam, bertajuk “The Singularity (Phase I – Neohumanity)”.

.

Siapa saja band rock yang berhasil meraup penghasilan finansial terbesar dari kombinasi seluruh gelaran konsernya sepanjang masa? Khususnya sejak perhitungan elektronik dimulai hampir empat dekade terakhir? Jawabannya telah diungkapkan oleh Billboard Boxscore, pada April 2023 lalu.

Rekor peringkat tertinggi untuk pendapatan konser terbesar dipegang oleh U2, band rock asal Dublin, Irlandia. Tur dunia mencakup 110 jadwal konser yang dijalani U2 dalam periode 2011 hingga 2019 ditonton sebanyak 7,3 juta orang. Tiket yang terjual menghasilkan laba kotor sebesar USD736 juta.

Band GUNS N’ ROSES, di luar dugaan menempati peringkat kedua, yang dikalkulasi dari pendapatan tur dunia “Not In This Lifetime…”, yang berlangsung sejak 2016 hingga 2019. Tur tersebut digelar di 158 titik dengan jumlah penonton sebanyak 5,4 juta orang, dengan keuntungan kotor dari penjualan tiket sebesar USD584 juta.

Di peringkat selanjutnya, ditempati unit rock legendaris, THE ROLLING STONES. Bahkan, band asal London, Inggris ini menempati dua peringkat sekaligus, yaitu ketiga dan keempat. Tur konser pertama mereka adalah “A Bigger Bang Tour” yang dimulai pada Agustus 2005 dan berakhir pada 2007. Tur yang menghabiskan 111 jadwal konser ini disaksikan sebanyak 3,5 juta penonton, dan meraup penghasilan kotor sebesar USD558 juta. Selanjutnya, adalah “No Filter Tour” yang dihelat pada 2017 hingga 2019 dan pada 2021. Walau hanya menghabiskan 58 jadwal konser dan ‘hanya’ disaksikan sebanyak 2,9 juta penonton, namun penghasilan kotor dari penjualan tiket mencapai USD547 juta.

Berikutnya, walau tanpa membawa nama besar PINK FLOYD, vokalis dan bassis ROGER WATERS berhasil mengumpulkan pundi-pundi fantastis lewat tur “The Wall Live” yang berlangsung selama periode 2010 hingga 2013. Tur ini mengemas 219 jadwal konser, dengan jumlah penonton sebanyak 4,1 juta. Keuntungan kotor penjualan tiketnya mencapai USD459 juta.

Di posisi terakhir ditempati AC/DC, dari tur dunia “Black Ice” yang berlangsung pada periode 2008-2010. Mereka menghabiskan sebanyak 107 jadwal konser, dan berhasil meludeskan tiket sebanyak 2,8 juta lembar. Dari tur tersebut, diraih pendapatan kotor sebesar USD442 juta.

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.