ST. LOCO Rilis “HOME” yang Sarat Distorsi Modern

“… adalah simbolisasi tempat untuk menemukan kebahagian, sebuah tujuan utama untuk pulang di mana kenyamanan akan menyambut kita dengan tangan terbuka di sana. Menggambarkan kisah perjalanan pulang melewati segala macam babak kehidupan yang terangkum dalam setiap lagu, serta menjadi proses pendewasaan yang lebih bijak bagi setiap pribadi yang ada di St. Loco, hingga pada akhirnya akan mengantarkan kita ke sebuah tempat yang bernama rumah ….” 

Kalimat di atas dilontarkan Berry “Beery” Manoch tentang makna di balik “HOME”, album studio terbaru milik unit hip metalcore asal Jakarta, St. Loco. Beery sendiri merupakan salah satu personel St. Loco di lini depan, tepatnya sebagai rapper. “HOME” kini sudah terhidang di berbagai platform digital seperti YouTube Music, Spotify, Joox, Deezer, iTunes dan Apple Music sejak 7 Mei 2023 lalu. Merupakan produk rilisan pertama dari label baru, Hammersonic Records.

“HOME” yang merupakan singkatan dari Hymn of Majestic Entities digarap oleh formasi Beery, Anindya “Dimas” Pramadhyana (vokal), Webster “Nyonk” Manuhutu (dram), Gilbert Joshua (bass), Iwan Hoediarto (gitar) dan Timotius “Tius” Firman (DJ) sejak Juni 2022 lalu. Keseluruhan produksi rekaman dieksekusi di Plandmic Audio Lab, termasuk untuk pemolesan mixing dan mastering. Tahapan terakhir tersebut dipercayakan pengerjaannya kepada Tius yang sekaligus menjadi produser, serta Asidosigit, rekan mereka yang menjadi produser dan gitaris pendamping di rekaman “HOME”. 

Dimas mengungkapkan, album “HOME” menyajikan nuansa dan warna dari perpaduan metalcore dengan beberapa genre lainnya, seperti electronic, hip- hop hingga pop alternatif. Seperti yang sudah mulai tercium di racikan komposisi serta aransemen dua lagu rilisan tunggal sebelumnya, yakni “Nirmala” dan “Akhir Setiap Mula”.

Secara keseluruhan, “HOME” juga membawa energi serta semangat baru dari karya bermusik St. Loco. Dan, seluruh personelnya menyatakan akan hasilnya akhirnya. “Sangat puas karena ini adalah album terbaik sepanjang St. Loco berkarya. Semua trek di album ini adalah kejutan karena tema setiap lagu memiliki arti yang spesial untuk St. Loco,” seru Tius meyakinkan. 

O ya, ada 10 lagu berdistorsi panas yang disemburkan St. Loco di album barunya itu. Selain dua judul yang sudah disebutkan tadi, juga ada lagu “Believers”, “Final Strike”, “Still in Business”, “New Dawn”, “Never Ends”, “Rangka Hati”, “TTP (Trust The Process)” dan “Spartan”.
.

.

Seperti yang sudah pernah diungkapkan St. Loco kepada MUSIKERAS – di artikel sebelumnya beberapa waktu lalu – bahwa mereka banyak menyerap referensi-referensi baru ketika menggarap materi-materi lagu di album “HOME”. Sebagai bagian dari pengembangan konsep musik yang lebih kekinian.

“Alasan kami mendengarkan musik-musik ini karena ingin mendapatkan sound yang modern, riff-riff gitar jaman sekarang dan pastinya pengambilan melodi di masa yang modern ini, lalu dikembangkan dengan gaya atau benang merah dari St. Loco sendiri,” cetus pihak band semangat.

Di lini distorsi khususnya. Kepada MUSIKERAS, gitaris Iwan Hoediarto kini mengandalkan perangkat digital untuk memperluas jangkauan karakteristik suara gitarnya. Ia mengaku kini mengeksplorasi produk plug-ins dari Neural DSP Archetype: Nolly (hasil kolaborasi dengan Adam ‘Nolly’ Getgood, mantan gitaris/bassis band prog-metal/djent, Periphery). Target yang dikejar Iwan – dengan tambahan masukan-masukan dari Asidosigit – adalah paduan distorsi dari band-band metal modern seperti Landmvrks, Architects, Wage War dan Polaris.

Dari 10 lagu yang termuat di “HOME”, Iwan menyebut “Believers” sebagai lagu yang memberi dirinya dan personel lain tantangan lebih, saat dieksekusi di rekaman. “Progresi kord tidak lazim, tapi kami harus memasukkan nada yang enak dan berkelas,” cetusnya beralasan.  

Sebelum “HOME”, sejauh ini St. Loco yang terbentuk pada 20 September 2002 silam telah melahirkan album “Rock Upon A Time” (2004), “Vision for Transition” (2006) dan “Momentum” (2012). (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.