Killing Machine adalah nama baru, tapi diciptakan sebagai reinkarnasi dari sebuah entitas legendaris yang telah resmi menancapkan ‘bendera kuning’.
Berawal dari inisiatif label rekaman Aquarius Musikindo yang merilis kembali album studio dari unit thrash/death metal asal Jakarta, Betrayer pada pertengahan April 2026 lalu. Tepat di usia 35 tahun perjalanan kariernya.
Sejauh ini, rilisan yang bertajuk “Pasukan Berani Mati” dan “Hukuman Mati” – masing-masing pernah dirilis dalam format kaset pada 3 Oktober 1998 dan 17 Mei 2000 – telah terhidang di platform digital seperti Spotify dan Apple Music.
Selain dua album itu, para pemuja Betrayer juga bisa mendengarkan selusin lagu terbaik mereka yang terangkum di kemasan “The Best of Betrayer”. Album kompilasi ini pernah diedarkan dalam format CD dan kaset pada 17 Mei 2006 silam.
Terlecut momentum penting tersebut, tercetus gagasan dari dua mantan personelnya, yakni vokalis dan gitaris Lilik Wardiandi (Iik) serta gitaris Garry Martinus Runtunuwu untuk membangkitkan Betrayer kembali dan merayakan kehadiran mereka di berbagai gerai digital.
Sayang, gayung tak bersambut dari Hendra Maydodhi (Doddy), pembetot bass dan pemegang hak penggunaan nama Betrayer.
“Tiba-tiba Doddy menyuruh kami berdua untuk tidak memakai nama Betrayer, karena disebutkan tanpa Doddy, itu bukan Betrayer dan Betrayer dianggap sudah bubar. Ia sudah tidak mau bermusik lagi,” urai Iik kepada MUSIKERAS, sedikit menyesalkan.
Sebenarnya, beber Iik lagi, Doddy sempat memberi ijin untuk menggunakan nama ‘Iik & Garry Betrayer’. Namun setelah menimbang-nimbang, akhirnya Iik dan Garry sepakat mengibarkan bendera baru, yakni Killing Machine.
Walau nama baru, tapi keduanya tetap bisa membawakan lagu-lagu Betrayer di panggung.
“Untuk lagu-lagu lama nggak ada masalah kalau dibawakan oleh gue sama Garry. Tapi kalau daur ulang, harus ijin dari pihak label,” ujar musisi yang sempat pula mendirikan band Tremor ini menegaskan.
Nostalgia Underworld
Minggu, 24 Mei 2026 lalu menjadi momentum bersejarah bagi skena ‘bawah tanah’ nasional. Khususnya bagi Killing Machine, dimana akhirnya ‘nyawa baru’ ini bisa kembali mengumandangkan lagu-lagu Betrayer di atas panggung.
Melalui gelaran Underworld Intimate Reign II yang berlangsung di Dungeon Pool Lounge, Kemang, Jakarta Selatan, publik akhirnya menyaksikan kembalinya dua figur penting Betrayer, yakni Iik dan Garry beraksi di atas pentas.
Momen tersebut menjadi semakin emosional karena terjadi di tengah polemik internal Betrayer yang sempat menghebohkan, plus sosok kedua personelnya yang sekian lama menghilang dari hiruk-pikuk pertunjukan musik cadas.
Killing Machine – yang juga diperkuat bassis Doddy Dogger serta dramer Bima Persyada – membawa kembali energi, semangat serta repertoar lagu-lagu Betrayer ke panggung. Bukan sekadar nostalgia, tetapi bentuk kontinuitas sejarah yang mereka yakini harus tetap hidup.
“Kami tidak sedang mencoba mengulang masa lalu. Kami hanya ingin memastikan energi dan semangat yang pernah dibangun bersama Betrayer tetap hidup di skena. Selama masih ada yang ingin mendengar dan berdiri di depan panggung, kami akan terus bermain,” seru Iik semangat.
Garry lalu menimpali; “Thrash metal selalu lebih besar dari sekadar nama band. Ini soal perjuangan, persaudaraan, dan perjalanan panjang. Kembali ke panggung adalah cara kami menjaga api itu tetap menyala!”
Atmosfer di Dungeon malam itu semakin terasa spesial, seru dan sarat akan aura nostalgia, sekaligus selebrasi bagi para metalhead lintas generasi.
Disesaki para penggemar Betrayer yang datang untuk menjadi saksi salah satu momen comeback paling bersejarah dalam beberapa tahun terakhir di skena underground Indonesia.
Ledakan energi benar-benar mencapai puncaknya ketika lagu-lagu yang selama ini dianggap sebagai ‘lagu kebangsaan’ dikumandangkan.
Mulai dari komposisi “Mesin Pembunuh”, “Hukuman Mati” hingga “Bendera Kuning” yang memaksa para audiens larut dalam pusaran moshing, sing along serta luapan emosi kolektif dari para penggemar yang telah lama menantikan momen tersebut.
Underworld Intimate Reign II sendiri tidak hanya menjadi saksi momen bersejarah itu. Sekaligus juga memperlihatkan regenerasi skena yang terus berjalan. Traxion, unit modern thrash metal binaan Underworld Management dipercaya membuka aksi debut Killing Machine.
Lalu ada pula Deadchromatix, Armia and The Shadows, Helena and The Blackstones serta sederet band cadas lainnya turut melengkapi malam yang dipenuhi distorsi, nostalgia dan solidaritas underground tersebut.
Bagi Killing Machine sendiri, konser intim malam itu tentu saja bukan ekspresi orgasme sesaat. Karena selanjutnya, Iik dan Garry menegaskan sudah meniatkan langkah-langkah lanjutan.
“Rencana ke depannya adalah rekaman, bikin single dan (video) klip pastinya, dengan lagu baru segera!”
Revolusi Militan
Dalam sejarah panjang musik ekstrem di Indonesia, hanya sedikit nama yang memiliki pengaruh sebesar Betrayer. Sejak kemunculannya pada awal dekade 1990-an, unit thrash metal ini menjelma menjadi salah satu pilar penting perkembangan musik keras Tanah Air.
Sepanjang kariernya, Betrayer berhasil melahirkan beberapa album studio, yang dihiasi beberapa kali pergantian personel.
Diawali rilisan independen bertajuk “Grand Voice Society” pada 1996 yang memuat ‘lagu kebangsaan’ mereka, “Bendera Kuning”. Dua tahun kemudian, Betrayer digandeng label POPS Musik (sub label Aquarius Musikindo) untuk merilis album debut mereka yang berjudul “Pasukan Berani Mati”.
Di fase ini, Betrayer masih diperkuat mendiang vokalis dan gitaris Ndaru Widodo (yang lantas mengundurkan diri dan mendirikan band Thrashline).
Kemudian dilanjutkan dengan empat album berikutnya, yakni “Hukuman Mati” (dimana Iik mulai bergabung menggantikan Ndaru), “Betrayer” (2002), “04” (2004) serta “The Best of Betrayer”. Pada 2007, band ini juga sempat merilis album “Revolusi” yang menampilkan vokalis baru, Tatu Aditya.
Sebuah warisan dan pencapaian yang membuat Betrayer dikenal luas sebagai salah satu representasi paling kuat dari semangat underground: keras, independen dan militan. (@mudya_mustamin/MK01)