Iman Taufik Rachman aka Imanine yang dikenal sebagai vokalis, penulis lirik dan gitaris grup J-Rocks serta gitaris Halfmath – band reinkarnasi Funky Kopral – akhirnya mendapatkan momentum untuk merampungkan dan merilis album solo pertamanya, setelah berkarir di musik selama 28 tahun! Karya rekaman kolektif tersebut diberi tajuk “The Holy Spirit” dan telah diperdengarkan di berbagai paltform digital sejak pertengahan Juni 2023 lalu.
Menurut Iman, niat menghembuskan “The Holy Spirit” sebenarnya sudah direncanakan sejak 2008 silam. Tapi dikarenakan kesibukan, akhirnya album tersebut baru bisa diwujudkan perilisannya sekarang. Tapi sebelum meluncurkannya dalam format album, sebelumnya Iman sudah memperdengarkan beberapa lagu sebagai rilisan tunggal, yaitu “Menyelam ke Dalam Hati”, “The Way of Life”, “Hanya Dirimu”, “Sayonara Wa Ienai” (versi bahasa Jepang lagu “Hanya Dirimu” dan juga “Yumegatari” yang merupakan versi bahasa Jepang lagu “Menyelam Ke Dalam Hati”.
Dalam album “The Holy Spirit” ini, seluruh istrumentasi, produksi hingga pemolesan mixing dan mastering dieksekusi sendiri oleh Imanine, yang ia kerjakan di Heaven Studio, Jakarta. Ada 11 amunisi lagu yang termuat di album, yang terdiri atas tiga komposisi instrumental, dua lagu berbahasa Jepang, empat lagu berbahasa Indonesia serta dua lagu berbahasa Inggris. Untuk lagu yang berbahasa Jepang, Imanine bekerja sama dengan seorang seniman warga negara Jepang bernama Nobuhisa Hasegawa, yang dipercayakan menerjemahkan lirik lagu Imanine yang berbahasa Indonesia.
Kepada MUSIKERAS, secara spesifik Imanine menyebut dua judul lagu yang ia anggap lumayan sulit penggarapannya. Yang pertama adalah “Hear This”, dimana saat mengeksekusi musiknya, Imanine melakukannya secara spontan. “Jadi kemungkinan gue mainnya nggak akan persis sama kalau dimainkan lagi,” serunya sambil tertawa.
Lagu lainnya adalah “My God Love”. Karena di lagu itu, kata Iman, ia memainkan sendiri bass serta isian dramnya yang sangat berubah-ubah polanya. “Dan juga untuk mixing-nya, gue beberapa kali nyari mixing-an yang tetap ngegroove tapi (terdengar) adem di kuping.”
Kendati ada beberapa lagu yang berbahasa Jepang, plus kekaguman Imanine terhadap beberapa band Jepang seperti L’Arc~en~Ciel, Casiopea, Luna Sea dan Glay di masa lalu, namun bukan berarti pengaruh itu diterapkan di “The Holy Spirit”. Imanine meyakinkan, permainan gitarnya yang banyak terinspirasi para gitaris legendaris dunia seperti Jimi Hendrix, Ritchie Blackmore, Yngwie Malmsteen, Gary Moore, Jeff Beck, Kurt Cobain, Marty Friedman, Eddie Van Halen,Vito Brata hingga Steve Vai lebih banyak dipadukan dengan daya tarik pop dan rock vintage dari era 60, 70, 80 hingga 90-an.
“Karena gue sebenernya lebih banyak dengerin musik dari era-era tersebut, kayak The Carpenter, Gilbert O Sullivan, Michael Jackson era ’70 dan 80-an, Beegees, Andy Williams, Dan Byrd, Santa Esmeralda hingga The Beatles. Pastinya wajib! Tapi lagu ‘Menyelam Ke Dalam Hati’ terbuat saat gue lagi sering dengerin album (band metal) Sepultura setiap hari, yang album ‘Schizophrenia’. Itu album Sepultura yang gue dengerin setiap malam buat pengantar tidur waktu masih SMP, dan saat gue buat lagu, yang keluar ya lagu ‘Menyelam Ke Dalam Hati’ itu….”
Selain lagu-lagu yang sudah disebut tadi, “The Holy Spirit” juga memuat lagu berjudul “Aku Ingin Bukti”, “Jalan-jalan di Langit ke-7”, “Well I am Bored” dan komposisi instrumental “From Heaven”. Imanine berharap, dengan dirilisnya album “The Holy Spirit” ini, bisa memberikan pengaruh positif bagi yang mendengarkannya, dan tentunya juga untuk alam semesta ini. Karena “The Holy Spirit” adalah sebuah perjalanan spiritual. (mdy/MK01)
.
.