CASSANDRA Lepas Ornamen Pelengkap Kegelapan

“… Selalu ada jalan untuk lepas dari kegelapan, salah satunya dengan menyalakan api harapan!” 

Kalimat di atas menjadi inti dari karya lagu rilisan tunggal terbaru dari komplotan melodic death metal asal Magelang, Jawa Tengah ini. “The Darkez” – demikian judulnya – didedikasikan untuk mendiang Syeh Baskoro Hardin aka Abaz Darkez, mantan dramer mereka yang meninggal dunia pada 8 Juli 2019 silam. Lagu tersebut adalah bentuk penghormatan dan mengabadikan julukannya sebagai titel lagu. Kehilangan, ketakutan dan trauma tersirat di dalamnya sebagai ornamen pelengkap kegelapan.

“The Darkez” yang dilepasliarkan secara resmi sejak 30 Juli 2023 lalu direncanakan bakal menjadi hidangan pembuka sebelum mereka melepas album kedua yang dalam waktu dekat juga akan segera mengudara. Dan untuk memaksimalkan promosinya, sebuah video lirik juga telah ditayangkan, hasil garapan editor Fany Sejati via Panik Industries, plus ilustrasi gambar torehan Fendi Rofi yang sangat rinci menangkap pesan dari lirik “The Darkez”, lalu menyampaikannya secara visual.

Di video lirik tersebut, Cassandra berusaha menyampaikan pesan pasca diterpa dua kejadian yang ‘memukul telak’, yakni berpulangnya Abaz Darkez dan vokalis Sigit Widianto pada 19 Februari 2020 lalu. Bahwa Cassandra harus tetap berjalan, dengan semangat baru, formasi baru, sekaligus meneruskan spirit mereka yang telah berpulang. gitaris David K. Susanto dan Dwi Candra serta bassis Machine Musyafak sepakat menunjuk Dian Adhiputra (vokal) dan Tri Anggoro (dram) untuk bergabung dalam misi meneruskan perjalanan Cassandra. 

Proses kreatif penggarapan “The Darkez” berlangsung kurang lebih setahun, terhitung sejak memulai tahapan bertukar pikiran, workshop, rekaman per trek hingga mixing dan mastering. Pengerjaannya dilakukan bersamaan dengan lagu-lagu lainnya yang bakal tergabung dalam deretan amunisi album kedua mereka. David K. Susanto berperan menjadi arsitek instrumentasi  musiknya, dibantu oleh Tri Anggoro. Sementara Dian Adhiputra diserahi tanggung jawab atas rapalan mantra lirik pada proyek ini.

Perekaman “The Darkez” dieksekusi di Evolve Records, Magelang, khususnya untuk sesi vokal serta pengisian gitar, bass dan choir. Lalu porsi dram di Rockids Studio, Magelang. Sementara untuk pemolesan penataan serta pelarasan suara (mixing dan mastering) dipercayakan kepada Anugerah Widi Putranto, yang juga gitaris dari band groove metal asal Magelang, Darkside. Sepanjang prosesnya, Dwi Candra dan Machine Musyafak menjadi pengarah teknis, dan bekerja sama dengan seluruh personel lainnya dalam proses kreatif, dengan porsi dan bagian masing-masing.

“Secara musikal, kami ingin lagu ini mewakili perasaan kami. Bukan hanya dari segi lirik tapi juga dari sisi musikalitas. Kami berpikir bagaimana musik death metal menyampaikan sebuah kesedihan dan kehilangan dengan cara yang elegan. Melalui beberapa kali eksperimen untuk menemukan formula instrumen, kami menganggap bahwa bagian per bagian yang tersusun dalam ‘The Darkez’ inilah yang menurut kami sesuai dengan konsep dan kriteria yang kami tetapkan,” urai pihak Cassandra kepada MUSIKERAS, menegaskan konsepnya.

Secara musikal, Cassandra melakukan pengembangan dengan mengeksplorasi melodic death metal, yang masih menjadi dasar penggarapannya. Mereka lalu memadukannya dengan unsur lain seperti groove metal dan hardcore, yang menantang penikmatnya untuk mengentak kepala seraya masuk ke dalam emosi yang disuguhkan. 

“Salah satu unsur pembeda di lagu Cassandra kali ini, mungkin terletak pada terapan riff gitar yang digubah oleh David. Padat, enerjik namun dipadu dengan sentuhan khas lick melodius yang menyayat. Candra menjadi tandem David pada divisi gitar. Dari segi dram diisi dengan variatif oleh Tri Anggoro yang terhubung rapi dengan permainan bass dari Machine. Untuk vokal, growling Dian Adhiputra mendominasi sebagian besar isian vokal di ‘The Darkez’, dengan beberapa part yang juga dilafalkan dengan (metode) grinding scream agar lebih variatif. Dan mungkin satu lagi pembeda lainnya adalah penggunaan clean vocal yang berkolaborasi dengan Kirana Anastasya, yang bertanggung jawab atas ambience haru biru. Tentu hal ini menjadi menarik, karena merupakan sesuatu yang segar dan menjadi terobosan baru kolaborasi karya lintas genre.” 

Beberapa referensi musik juga menjadi bagian yang cukup berperan dalam peracikan “The Darkez”, dimana para personel Cassandra mengakui cukup banyak menyerap gagasan dari album Burgerkill yang berjudul “Beyond Coma And Despair”, “Adamantine” dan “Killchestra” serta beberapa pejuang lokal non metal seperti Navicula, Efek Rumah Kaca hingga The Sigit. Sementara referensi luar, salah satunya dari band asal Skotlandia, Bleed From Within. Khususnya dari karya album mereka yang berjudul “Fracture”.

Seperti yang sudah dibocorkan di awal artikel, “The Darkez” diproyeksikan menjadi nomor pemanasan sebelum peluncuran album mini (EP) kedua Cassandra. Dan saat ini, proses produksi album berisi empat trek tersebut bisa dibilang sudah selesai, dan bahkan ditargetkan sudah bisa dirilis pada Oktober 2023 mendatang. 

Cassandra yang terbentuk pada awal 2016 silam, sebelumnya sudah merilis album penuh bertajuk “Sistematis Manipulasi” pada 1 Januari 2017 serta sebuah lagu rilisan tunggal berjudul “Labellum Urban” pada 4 Desember 2019 lalu. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.